Seribu Gowesan untuk Pulau Seribu

Pucuk cemara sudah bercahaya ketika pagi datang menjemput. Wajah semut merah nampak jelas diantara embun-embun, bersembunyi diantara serasah dedaunan pinus, wangi tanah di bulan Februari begitu semerbak, mengudara. Dan Kadalmeteng begitu cepat berubah, dari hutan primer yang lebat tempat harimau kumbang bersarang, hingga ilalang yang tak bertuan, lalu pinus-pinus pun lahir dan menjadi tiang-tiangnya. Itulah Kadalmeteng yang sekarang.
Tinggal aku sendiri menatap wajah penuh sayatan rotan dari balik cermin air begitu jernih. “Apakah dua sayatan di pipi kiri ku adalah bentuk kasih dari ibu Salak, ataukah peringatan atas manusia bumi yang secara serampangan dan rakus melucuti, menodai, memperkosa anak-anak dari ibu salak” aku bergumam sambil mengambil satu drigen air untuk digunakan memasak sarapan hari ini.
“Nif, berapa banyak kau ambil air?”
“hanya 1 drigen Ziz”
“masih kurang itu Nif! Ambil lah lagi barang setengah atau 1 drigen lagi”
“Gak mau Ziz, ku kira segini pun cukup”
“Gak cukup Nif!”
“Cukup ziz!”
“Oke, kalau ternyata gak cukup, kau push up 350 x ya!”
“Oke, tapi kalau cukup, kau yang push up 700 x ya!”
“Curang,, sama-sama 700 ya!”
“eehhh sudah2, kalau emang gak ada yang mau turun ambil air, kita pakai yang ada saja dulu. Masalah kurang air, nanti diributkannya. Sekarang kita harus segera masak” Untung saja Sherly segera memotong keributan diantara aku dan aziz. Maklum, semua orang pun tau, setiap keributan diantara kita bisa saja berujung saling pukul dan tendang.
Seperti sabtu dan minggu yang selalu bergandengan. Seperti juga minggu-minggu yang berlalu. Kami selalu menyempatkan diri menyapa ibu salak bila hari libur kembali menyapa. Aku, Aziz, Sherly, Raycel, dan Jane adalah mahasiswa pertanian di tingkat akhir. Hanya kemalasan yang akan membuat kami lebih lama lulus. Atau hanya kerajinan yang akan membuat kami lebih cepat lulus. Kami tidak memilih satu diantaranya, justru membuat pilihan baru. Kami berjanji akan lulus di waktu yang sama, dan foto wisuda disaat yang sama. Ya, kami memilih untuk mengunjungi ibu salak bila kami sudah merasa mentok dengan tugas skripsi yang sedang kami kerjakan. Di saat-saat kami mengunjungi ibu salak lah kami percaya bahwa otak kami akan lebih lancar berkerja setelah menikmati kesejukan alam Salak. Di saat-saat ini pula kami bisa berdiskusi tentang apaupun, lebih bebas, lebih kritis.
Sambil menikmati nasi gereng petai aku mencoba membangun diskusi. Sebuah diskusi yang sedari tadi aku pikirkan sejak mengambil air dari sungai.
“Sher, bukankah enak menikmati air dari Salak?”
“Iya, sangat segar, begitu berbeda dengan air yang biasa kita minum di Babakan Raya”
“huft.. huft.. jelas beda Nif, huft.. disini sungai belum tercemar”
“Heh, diam kau Ziz, teruskan saja push up mu, masih 235 lagi nih!”
“Jancuk kau nif!”
“Tapi benar juga Nif, kata Aziz, memang sungai disini belumlah tercemar, berbeda dengan sungai-sungai di dekat kampus kita, atau bahkan sungai-sungai di Jakarta sana.” Raycel berujar sambil membela Aziz.
“Iya Nif, sungai di dekat rumahku bahkan begitu coklat, pekat”
“ow iya Jane, rumahmu kan di Jakarta ya.. Tapi apa benar sampai coklat pekat?”
“Iya Nif, lebih dari itu, sampah-sampah plastik mengambang, setiap musim hujan Jakarta banjir hebat, seperti sungai sudah tak mampu menahan pencemaran yang manusia Jakarta sendiri buat”
“Ku pikir bukan hanya manusia Jakarta Jan, dari bogor hingga depok pun, pencemaran sudah dimulai.. iya kan Sher?”
“Iya Cel, itu terbukti dari sungai dekat kos-kos an di Balio, sampah-sampah plastic banyak menyumpat sungai, walaupun begitu airnya masih cukup jernih”
Baru saja Aziz selesai push Up, langsung ia menimpali.
“iya Nif itu benar, kau saja yang kudet. Kau kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Sungai kita memang sudah tercemar. Padahal sungai adalah tempat air mengalir. Dan air adalah sumber kehidupan. Bagaimana kualitas hidup, jika sumber kehidupan sudah tercemar?”
Semua diam. Baru saja Aziz, mengemukakan kalimat yang begitu bermakna. Benar saja, Salak memang membuat orang lebih kritis. Semua diam. Bahkan strobilus yang jatuh pun menjadi lebih terdengar. Angin meniupkan dau-daun bambu sehingga begitu damai.
Pada suasana yang sunyi dan damai. Darah mengalir begitu keras ke otak ku. Mengalirkan ide yang aneh sekaligus terlalu nekat.
“Aku belum percaya dengan apa yang kalian bilang”
“tidak mungkin manusia Jakarta, Depok, atau Bogor mencemari sungai”
“Manusia Jakarta, Depok, Bogor ialah manusia Indonesia jua”
“Tak mungkin manusia Indonesia tidak peduli terhadap sungai”
“Saya akan cek sendiri sungai dari bogor hingga muaranya”
“hehh.. dengan apa kau cek Nif?” Aziz kembali memulai pertengkaran
“dengan Sepeda ziz, Aku mau lihat kondisi sungai dari bogor hingga ke Jakarta”
“Capek-capek banget naek sepeda Nif” Raycel kembali mendukung Aziz
“Boleh juga itu nif”
“Maksudnya boleh juga gemana Sher?”
“iya, sekalian aja kita naik sepeda sampai pulau Seribu, kita ke Pulau Pari! Kita lihat dampaknya pencemaran sungai hingga ke laut utara Jakarta”
“Bener tuh kata Sherly, sekalian kita ngecamp di pantai perawan, pasti indah tuh”
Senyum semakin lebar dari pipiku. Sepertinya kegembiraan yang meluap di hatiku seperti anak ayam yang baru ketemu induknya setelah seharian nyasar di perkarangan tetangga.
“Oke, kita namai perjalanan ini Seribu Gowesan untuk Pulau Seribu”
“Lhoh kok, gak ada embel-embel sungainya? Katanya mau cek kondisi sungai?”
“hehe.. biar aja.. biar pas kita ajak teman-teman yang lain, jadi banyak yang tertarik”
“lebih tepatnya, mungkin tertipu Nif, hahaha,, tapi sepertinya menarik,, aku ikut lah Nif” kembali lagi Aziz menimpali.

***

Jum’at , 27 Februari 2015
Waktu menunjukan Pukul 20.00 WIB
Begitulah harapan, ibu yang melahirkan penyesalan. Janji biarlah janji, tapi kita ketahui pasti, persiapan untuk seminar skripsi jauh lebih penting. Kami tidak jadi berangkat komplit. Raycel dan Sherly harus seminar lebih cepat disbanding aku dan Aziz. Sementara Jane sudah berada di Tokyo, ia mendapat beasiswa monbukagakusho. Jadilah kita berangkat berempat, dua orang lagi personil baru, Akbar dan Shofi. Sudah benar kita cek sungai di bogor. Masih cukup jernih. Tapi begitu warna-warni. Ada bungkus indomie berwarna kuning. Ada bungkus popok bayi yang kecoklatan. Bahkan suntikan bekas pun bergeletakan.
Sabtu, 28 Februari 2015
Waktu menunjukan pukul 04.30 WIB
Kami sempat singgah di kota tua. Memberikan waktu bagi sepeda-sepeda kami untuk beristirahat. Kami menggowes sepeda semalam. Bukan seribu gowesan, mungkin lebih dari itu. Cukup headlamp di kepala kami untuk menerima kekecewaan atas sungai di sepanjang Jakarta yang memang benar coklat dan pekat. Kami memang sedih. Tapi gemerlap malam di kota tua mampu menghibur kesedihan kami.
Waktu menunjukan pukul 05.30 WIB
Kami tetap tegar menerima kenyataan di depan waduk pluit. Waduk yang begitu terkenal sebagai proyek pemerintah yang berjanji untuk menuntaskan banjir ibukota. Tidak itu yang kami lihat. Yang kami lihat adalah waduk yang diisi dengan sampah-sampah. Atau dalam pengertian lain sampa-sampah telah berhasil menyerbu waduk ini. Taman-taman yang dibuat di pinggir Waduk sepertinya makna yang ingin disampaikan, makna tentang ironi. “Akankah sebuah keluarga harus menikmati taman, yang mana pemandangannya waduk penuh sampah?”
Waktu menunjukan pukul 06.30 WIB
Betis kami memang lelah. Sepeda kami juga sudah lusuh. Tapi rasa penasaran lebih tinggi lagi. Kami saksikan sendiri muara angke yang begitu menrintih. Muaranya begitu coklat, gelap, dan kelam. Halusnya air tidak lagi terasa, justru kelembekan minyak yang begitu kental. Dan bagunan bertingkat di depan pelabuhan muara angke begitu meledek. Air laut di pelabuhan berwana coklat gelap menedekati hitam. Sampah-sampah bergelayutan. Jika sepeda ku jatuh ke air itu, akan kuikhlaskan saja. Saking menjijikannya bila tetap ku pakai sepeda yang jatuh ke air itu. Kasihan sekali perahu-perahu yang harus melewati lautan sampah itu. Andai saja ia bisa bicara, pasti ia memilih menjadi pesawat terbang.
Waktu menunjukan 10.59
Kami sampai di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Betis yang kaku. Kulit yang berkeringat. Dan Sepeda yang berdebu. Dan capeknya menggowes. Dan Kecewa ketika melihat sungai hingga muara angke. Semua itu terbayarkan. Indahnya pulau Pari, membuat kami langsung meloncat dan berenang menikmati indahnya pantai perawan. Mencari kepiting bakau yang bersembunyi dibalik mangrove. Mengamati burung raja udang yang hinggap di pucuk pohon. Menyelami keindahan karang-karang yang masih berwarna-warni.
Tiba-tiba aku diam menatap ikan badut di depan ku. Ia berenang dengan begitu gembira, polos. Kau adalah hal yang paling menarik dalam perjalananku ini. Karena kau begitu polos. Kau tidak tahu bahwa pencemaran dari sungai mungkin sebentar lagi akan sampai di sini. Membunuh kawanmu si anemon, dan laut di pulau pari menjadi coklat. (Jangan sampai ini Terjadi ! )

f1 f2 f3 f4