Aktivitas

DEPARTEMENT For INTERNATIONAL DEVELOPMENT (DfID). Proposal yang diajukan ini mengakomodir kegiatan pelatihan dan lokakarya data dan informasi, terdiri dari satu kegiatan pelatihan dan tiga kegiatan lokakarya data. Lokakarya data yang pertama diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 13-14 Desember 2000, dengan tema “Pengelolaan Sistem Informasi Kehutanan untuk mendukung Kinerja Kehutanan di Indonesia”.

Kemudian lokakarya data yang kedua diselenggarakan pada tanggal 27 – 28 Agustus 2001 di Martapura (dikoordinir oleh FWI simpul Kalimantan) dan terakhir lokakarya data yang ketiga diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 2001 di Bogor, dengan tema “Menuju Data dan Informasi Kehutanan yang Terintegrasi”. Tujuan spesifik dari kegiatan lokakarya data tersebut adalah:

  • mempresentasikan data dan informasi yang dikelola setiap pihak-pihak terkait dengan pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia, kemudian membangun kerjasama dengan pihak-pihak tersebut untuk saling melakukan verifikasi terhadap data/informasi yang dimiliki,
  • membangun aturan main untuk melaksanakan kegiatan bersama dalam pengelolaan data dan informasi,
  • membangun kerjasama dalam bentuk kegiatan yang berkaitan dengan transparansi terhadap data dan informasi.

Sedangkan kegiatan Pelatihan “database” dan “GIS” diselenggarakan pada tanggal 20 November sampai dengan tanggal 20 Desember 2000 yang melibatkan seluruh sekretariat simpul FWI.

DfID – MULTI STAKEHOLDER FOREST PROGRAMME (MFP). Proposal yang diajukan berjudul “Forest Watch Indonesia: Pengembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jarak Jauh untuk Pemutakhiran Data Spasial Kondisi Hutan”, untuk mengakomodir peningkatan kapasitas dan keterampilan dalam melakukan penginderaan jarak jauh dalam kerangka pemantauan hutan berbasis informasi di jaringan FWI.
Tujuan dari kegiatan tersebut adalah:

  • mengidentifikasi jenis informasi yang relevan dengan kebutuhan anggota jaringan FWI, yang diekstrak dari citra PJ,
  • membangun sistem monitoring kondisi hutan dengan teknik PJ dan sistem monitoring kinerja pengelolaan hutan dengan menggunakan SIG,
  • pemutakhiran (updating) data spasial untuk kondisi hutan, yang meliputi peta vegetasi dan non vegetasi, serta peta tutupan hutan dan
  • pemutakhiran (updating) data spasial untuk peta konsesi hutan dan lahan, yang meliputi peta-peta HPH, HTI dan perkebunan.

Komponen kegiatan dalam proposal ini terdiri dari kegiatan

  1. Pelatihan GIS lanjutan yang melibatkan seluruh simpul FWI,
  2. Lokakarya Data untuk melihat kebutuhan data spasial, yang melibat seluruh simpul FWI,
  3. Kegiatan Intepretasi Citra Satelit yang melibatkan simpul Bogor dan simpul Papua,
  4. Kegiatan Ground-checking yang melibatkan simpul Papua dan Kalimantan, serta anggota FWI di Riau,
  5. Lokakarya Data untuk mempresentasikan hasil dari seluruh kegiatan lokakarya data sebelumnya yang dikaitkan dengan kegiatan intepretasi citra satelit dan kegiatan ground-checking. Lokakarya ini juga melibatkan seluruh simpul, dan yang terakhir,
  6. Lokakarya data yang diselenggarakan oleh FWI simpul Sulawesi.

DfID – MULTI STAKEHOLDER FOREST PROGRAMME (MFP). Proposal yang berjudul “Planning Program for Preparation Compiling SoFR Regional in Indonesia”, diajukan untuk mengadakan lokakarya perencanaan penyusunan SoFR regional di 4 (empat) regional yang diawali dengan pertemuan konsolidasi anggota di masing-masing region tersebut. Pertemuan konsolidasi tersebut untuk mengevaluasi kembali fungsi dan peran dari anggota FWI dalam mewujudkan SoFR regional tersebut.
Tujuan dari kegiatan ini adalah mendorong transparansi data dan informasi dalam sektor kehutanan di Indonesia sekaligus memperkuat jaringan FWI dalam melakukan monitoring hutan secara independen.

Sedangkan hasil yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah:

  1. Rencana untuk mempersiapkan penyusunan buku laporan kondisi hutan (SoFR) dalam skala regional di empat region;
  2. Lembar Informasi yang menampilkan isu prioritas berkaitan sektor kehutanan di tiga region;
  3. Memperbanyak buku laporan “Potret Keadaan Hutan Indonesia” untuk kegiatan penyebaran informasi di sektor kehutanan yang lebih luas lagi melalui kegiatan “bedah buku” di 16 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

CONSERVATION INTERNATIONAL – INDONESIA (CII).

Title of project is “Updating Papua’s Biodiversity Habitat Information By using Remote Sensing Technology”. This project is a model of collaborative effort between a Government institution, International and National NGOs. It is also probably the first had ever been done on this specific subject, especially for BAPLAN.
The idea was to update existing knowledge of Papua biodiversity to add its conservation value through analyses of its forest cover. Through technology, it is possible to estimate the species richness through the understanding of the habitat types. This can be done through the methodology of using satellite imagery interpretation. In order to utilize the forest in sustainability basis management, it’s necessary to provide information about the latest land cover conditions. Remote sensing analysis especially using Landsat image is a techniques that widely used in order to create land cover map in Papua. Land cover map is very useful information for many purposes such as forest planning, management, and monitoring of forest rehabilitation and reforestation.
USAID – EAST ASIA and PACIFIC ENVIRONMENTAL INITIATIVE (EAPEI). Proyek ini merupakan kerjasama antara GFW dan FWI dengan judul “An Independent Forest Monitoring Network in Indonesia’s New Political Era”. Tujuan menyeluruh dari program ini adalah untuk meningkatkan pengelolaan hutan menuju pengelolaan yang berkesinambungan dan berkeadilan bagi masyarakat. Tujuan ini akan tercapai dengan cara memberdayakan masyarakat sipil serta menyediakan data dan informasi akurat yang diperlukan bagi keberhasilan advokasi dalam pembaharuan kebijakan kehutanan.
Keluaran yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah:

  • FWI dikenal sebagai wadah pertama pendorong masyarakat madani dan penyedia data dan informasi tentang hutan yang berkualitas,
  • kapasitas di simpul FWI – Medan di Sumatera Utara, Banjarmasin di Kalimantan Selatan, Kendari di Sulawesi Tenggara, Yogyakarta di Jawa, dan Jayapura di Papua semakin meningkat – sehingga dapat berpartisipasi secara penuh dalam proses-proses pembaharuan kebijakan kehutanan di tingkat lokal maupun nasional,
  • informasi tentang pengelolaan kehutanan di Indonesia yang dihasilkan dan disebarkluaskan ke semua pihak.

GLOBAL GREENGRANT FUND (GGF). Proposal yang diajukan berjudul “Preliminary Study of Forest Conflicts”. The aim of project is developing a framework of forest conflicts study methodology, dengan hasil kegiatan antara lain:

  • create a forest conflict database design,
  • provide a preliminary map of forest conflicts,
  • arrange a comprehensive forest conflict study report. The sites of study on three location: Riau, Central Kalimantan, dan West Java

CENTER for INTERNATIONAL FORESTRY RESEARCH (CIFOR). Studi ini melakukan “Analysis of Forestry Conflict in Indonesia”. Tujuan dari kegiatan ini adalah:

  1. mempelajari dan memahami berbagai konflik yang terjadi di sektor kehutanan dengan mempertimbangkan isu dan permasalahan yang menjadi penyebab konflik, stakeholder yang terlibat, tingkat eskalasi konflik dan upaya-upaya yang pernah dilakukan untuk mengatasi konflik tersebut,
  2. memberikan beberapa ide, gagasan dan kemungkinan pilihan dalam mengatasi konflik yang terjadi di sektor kehutanan.

TELAPAK. Studi ini terkait dengan “Trade in Ramin (Gonystylus bancanus) and Ebony (Diospyros celebica) in collaboration with Telapak-EIA with supported from DFID. Secara garis besar studi ini memiliki tujuan:

  1. mengetahui perkiraan standing stock ramin dan ebony di Indonesia secara komprehensif,
  2. mengetahui perkiraan ketersediaan ramin dan ebony yang siap untuk diperdagangkan di Indonesia,
  3. mengetahui besarnya nilai perdagangan kayu ramin dan ebony dari Indonesia,
  4. menyusun sebuah paket informasi dasar bagi kepentingan pengelolaan jenis ramin dan ebony di Indonesia. Output yang dihasil adalah tersedianya data set standing stok dan volume perdagangan kayu ramin dan ebony.

Studi perdagangan kayu ramin dilaksanakan selama periode Februari 2002 – Juli 2002 dengan lokasi studi di provinsi Riau dan Kalimantan Tengah.
NATURAL RESOURCES MANAGEMENT – III (NRM). Proposal yang diajukan berjudul “Disemination and Breakdown by Province of Indonesia’s Map Result Spatial Analisys Forest Conditions”. One of several efforts that should be conducted in order to achieve FWI’s goals is dissemination of data and information in spatial basis (map). A breakdown by province of forest cover information can empower communities and local government officials in developing their spatial plans and in monitoring enforcement of regulations. FWI intends to produce maps for each individual province and summarize the underunderlying information in a table for easy reference.

NATURAL RESOURCES MANAGEMENT – III (NRM). Proposal yang diajukan berjudul “Pengentryan Laporan Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri dan Rencana Kerja Tahunan”. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara donor (NRM-III, DFID-MFP dan EU-FLB), departemen kehutanan (Bina Produksi Kehutanan) dan NGO (FWI). Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan pengentryan data dari laporan RPBI dan RKT ke dalam database EU-FLB/Direktorat Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan. Data yang dientry berasal dari laporan RPBI dan RKT tahun 2001 – 2003. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah menganalisis terhadap kinerja perusahaan industri kehutanan berdasarkan sumber bahan baku kayunya.

NATURAL RESOURCES MANAGEMENT – III (NRM). Proposal yang diajukan berjudul “Membangun Transparansi Data dan Informasi Kehutanan di Indonesia”. Tujuan dari kegiatan ini adalah : menyajikan informasi kepada masyarakat luas mengenai serangkaian gambaran besar dari isu-isu kehutanan terkini dalam rangka mewujudkan semangat transparansi informasi sumberdaya hutan.
Dari penyelenggaraan paket kegiatan seperti bedah buku “Potret Keadaan Hutan Indonesia” (Universitas Mulawarman, Universitas Cenderawasih, Universitas Papua dan Kabupaten Nunukan) dan pelatihan singkat mengenai GIS (Jayapura dan Samarinda), serta perbanyakan bahan publikasi yang telah dihasilkan oleh FWI maka diharapkan akan muncul beberapa keluaran sebagai berikut:

  1. rekomendasi dari multi pihak untuk memperbaiki atau mengkritisi buku laporan tersebut, menjadi masukan untuk penerbitan serupa di masa mendatang, di tingkat regional,
  2. respon balik dari masyarakat luas di tingkat regional, untuk membangun sensitivitasnya terhadap kegiatan pengelolaan hutan di Indonesia,
  3. kerjasama dan komunikasi yang terbentuk antar pihak untuk mewujudkan semangat transparansi informasi dalam pengelolaan sumberdaya hutan di tingkat regional,
  4. ATLAS hutan Indonesia dapat diaplikasikan menjadi bahan verifikasi data kehutanan di tingkat regional.

EUROPEAN UNION [EU]. Proposal yang berjudul “Promotion of Ecologically-Sustainable Socially-Equitable and Economically-Viable Forest Management in Indonesia through Implementation of Credible Forest Certification System”, disusun bersama antara AMAN, LEI dan FWI. Persetujuan dari EU baru diterima pada tahun 2003 dan kemudian baru mulai diimplementasikan pada bulan Maret 2004 sampai dengan Maret 2006.
Tujuan spesifik dari proyek kerjasama ini adalah

  1. menguatkan masyarkat adat dalam konteks sertifikasi hutan yang dikoordinir oleh AMAN,
  2. membangun jaringan pemantauan sertifikasi hutan berbasis data dan informasi (Forest Certification Monitoring) yang dikoordinir oleh FWI, serta
  3. mengembangkan sistem sertifikasi hutan berbasis masyarakat yang dikoordinir oleh LEI.

Pelaksanaan proyek kerjasama ini selama 2 (dua), sedangkan lokasi pada proyek ini berada di provinsi Kalimantan Barat, Riau, Jawa Tengah, Indonesia.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>