Aturan Adat Masyarakat Baduy Dalam Upaya Kelestarian Hutan

Masyarakat Baduy merupakan suku asli Indonesia yang telah berabad-abad hidup di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, tanpa bantuan dari pihak luar. Masyarakat Baduy dikenal dengan kearifan lokalnya yang mengutamakan konservasi dengan gaya hidup terintegrasi dengan alam. Hingga saat ini sebagian masyarakat Baduy masih tetap mempertahankan adat dan budayanya dan belum terpengaruh arus modernisasi. Permukiman masyarakat Baduy mempunyai sistem tata letak dan peraturan tertentu. Konsep penempatan seperti ini memang sudah dikenal pada tata letak wilayah dan rumah masyarakat Sunda pada umumnya.

?

Gambar 1 Kondisi Kampung Masyarakat Baduy

Pikukuh (tradisi) telah mengatur gaya hidup masyarakat Baduy dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari untuk tidak merusak lingkungan, sehingga proses kehidupan berjalan alami yang didukung oleh kontinuitas konservasi margasatwa dan habitat tumbuhan. Masyarakat Baduy menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak. Kayu merupakan jenis sumber energi terbarukan. Pada saat pembukaan lahan untuk ladang pertanian, kayu yang ditebang dipergunakan untuk bahan bakar, sedangkan ranting dan daun dipergunakan untuk pemupukan tanah. Mereka tidak menggunakan alat-alat yang menggunakan listrik atau bahan bakar fosil, karena dilarang oleh pikukuh. Untuk penerangan, mereka dilarang menggunakan bahan kimiawi. Dalam usaha minimalisasi konsumsi energi, minyak picung atau terkadang lilin sering digunakan sebagai alternatif yang aman bagi lingkungan.

Konsumsi sumber daya alam akan menghasilkan limbah yang terakumulasi ke media lingkungan. Menurut aturan adat Baduy, masyarakat harus mereduksi setiap kehendak atau keinginan. Aktivitas diusahakan dilakukan bersama-sama untuk seluruh masyarakat, termasuk pembelian keperluan harian kampung. Seluruh masyarakat telah mengetahui dari sistem pendidikan turun-temurun dalam menangani limbah padat berupa sampah organik ataupun organik. Sesuai dengan pikukuh Baduy, setiap orang dalam menjalani kehidupan harus bertindak arif terhadap komponen lingkungan biotik. Hal tersebut dapat disaksikan dari kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, sehingga masyarakat Baduy sangat mengenal konservasi dan preservasi lingkungan dibalik kesederhanaannya. Secara umum, limbah padat atau sampah diletakkan di tempat penampungan yang dinamakan golodog. Setiap pagi, sampah tersebut dibawa ke leuweung lembur (hutan dengan kerapatan vegetasi yang tinggi) untuk dibuang. Proses separasi antara sampah organik dan anorganik dilakukan pada saat sampah berada di leuweng lembur. Sampah plastik umumnya dibakar di parako atau di lahan kampung. Perilaku konservasi dan preservasi lingkungan tersebut telah diatur dalam pikukuh dan menjadi perilaku keseharian penduduk Baduy.

Lomba foto_Abi Rafdi Pradana Murad_Bogor (3)

Gambar 2 Kondisi Sungai Ciujung yang Bersih

Sistem penanganan limbah cair sangat dipahami secara sederhana oleh penduduk Baduy. Proses pencucian alat-alat rumah tangga tidak dilakukan di dalam rumah. Pencucian dilakukan di pancuran atau sungai tanpa menggunakan sabun dan bahan kimia lainnya. Untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus mereka menggunakan badan air berupa sungai yang melalui kampung yaitu, Sungai Ciujung. Terdapat aturan dalam penggunaan sungai agar masyarakat tetap menggunakan air yang bersih dan belum tercemar. Pembagian tersebut berupa penggunaan peruntukan antara bagian hulu dan hilir sungai. Pada bagian hulu, air sungai digunakan untuk mandi dan cuci oleh pria, wanita, dan anak-anak. Bagian hilir dipergunakan untuk kakus (jamban) yang dipisahkan sesuai dengan jenis kelamin.

Masyarakat menggunakan mata air yang terhubungkan oleh beberapa pancuran air untuk keperluan air bersih. Air yang digunakan tidak melalui proses pengolahan. Ketersediaan air bersih merupakan syarat utama dari suatu permukiman sehat, sehingga komunitas penduduk mempunyai pandangan sederhana untuk memproteksi ketersediaan sumber air. Ekosistem alami hutan di daerah perbukitan terus dipertahankan dari ancaman pembukaan lahan pemukiman atau pertanian. Proses penebangan pohon dipilih secara selektif berdasarkan dari tingkat usia kayu. Dengan demikian, ketersediaan hayati hutan mendukung terciptanya ketersedian hayati hutan mendukung terciptanya ketersediaan mata air tanpa dibatasi dimensi waktu.