Bahkan Satwa Ikut Mengelola

20150416_112831

Pengelolaan sumber daya? Yang terpikirkan saat mendengar kata ini adalah bagaimana manusia mengolah sumberdaya alam sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Awalnya aku juga berpikir hal yang sama, tetapi semuanya berbeda ketika aku mulai mengenal mereka yaitu, satwaliar.Di departemenku kami belajar bagaimana satwaliar hidup, mulai dari cara berkembiak, melakukan hubungan seksual, makan, berkelompok maupun soliter dan tingkah laku uniknya. Aku menemukan hal yang unik dari mereka ketika mereka berperilaku yang secara tersirat juga melakukan pengelolaan sumberdaya.

Babi hutan (Sus scrofa), yang mungkin kita kenal sebagai hewan yang jelek, hitam, menakutkan dan sering membawa konflik di perkebunan masyarakat sekitar hutan. Namun dari sifat jeleknya, satwa ini memiliki perilaku unik dan bermanfaat untuk pengelolaan tanah di hutan. Satwa ini sering mencari makan hingga menggali –gali tanah sampai dalam. Perilaku mencari makannnya ini dapat menguntungkan bagi kesuburan tanah. Tanah di hutan semakin subur dengan perilaku mereka tersebut.  Satwa ini dapat menggantikan fungsi pemeliharaan tanaman muda di hutan yaitu melakukan pendangiran(penggemburan tanah dengan tujuan memperbaiki sifat fisik tanah) sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman di hutan.

Satwa lainnya adalah burung pemakan biji, salah satunya adalah burung rangkok. Burung ini merupakan salah satu burung yang terkenal baik sebagai penyebar biji maupun sebagi simbol kebudayaan. Suku dayak menggunakan bulu burung untuk tarian upacara adat. Burung ini dapat melakukan perjalanan hingga 39 km per harinya. Perilakunya ini menguntungkan untuk kelestarian hutan, karena pada saat burung ini melakukan perjalannya, disaat itulah mereka melakukan penyebaran biji dari buah yang dimakan sehingga menghasilkan benih dan pohon yang baru di hutan. Perilaku ini merupakan salah satu pengelolaan sumberdaya dimana, tidak diperlukan lagi penanaman hutan karena satwa ini akan membantu menyebarkan bijinya.

Satwa terakhir berasal dari famili amfibi, mungkin bagi kaum awam akan susah membedakan antara katak dan kodok. Perbedaan yang jelas terlihat dari kulitnya. Katak memiliki kulit yang lebih halus dan tipis sedangkan kodok memiliki kulit yang lebih tebal dan terdapat bentolan-bentolan di kulitnya. Satwa ini menguntungkan bagi lingkungan, mereka dapat dijadikan sebagai bioindikator kerusakan lingkungan. Lingkungan yang sudah rusak dan tercemar tidak memungkin adanya katak disana, karena katak sangat sensitif dengan hal tersebut. Kulit katak yang tipis tidak memungkinkan dapat menerima pencemaran tersebut karena kulitnya juga dijadikan sebagai organ pernapasan sehingga pencemaran langsung diserap oleh katak menyebabkan katak akan punah. Maka sangat mustahil katak dapat ditemukan di lingkungan dengan kondisi yang tercemar. Sebaliknya berbeda dengan kodok, semakin banyak ditemukan kodok maka dapat dikatakan tempat tersebut sudah tercemar.  Kelimpahan kodok ini di habitatnya tergantung pada keadaan lingkungannya baik lingkungan biotik maupun abiotik (Kusrini, 2001).  Salah satunya adalah Duttaphrynus melanosticus atau bahasa lokalnya kodok buduk. Kelimpahan kodok ini terlihat dari keadaan lingkungannya. Ketika kami melakukan pengamatan di kampus kodok buduk ini jumlahnya semakin banyak, hal ini mungkin terjadi karena kegiatan pembangunan yang sedang dilakukan di kampus, danau yang mulai mengalami eutrofikasi, dan kebisingan. Satwa ini dapat digunakan untuk evaluasi pengelolaan sumberdaya, agar pengelolaan dapat dilakukan tanpa merusak lingkungan.

Hal sesederhana seperti ini mungkin sering sekali tidak kita sadari, mereka mungkin sering terabaikan. Tetapi keadaan mereka membantu kita dalam mengelola sumberdaya ini, dengan merusak habitat mereka secara tidak langsung akan merusak kehidupan kita. Hutan bukan hanya milik kita, mereka juga berhak mengelola dan memanfaatkannya. Bahkan ketika mereka mengelola, tidak merusak dan merugikan manusia.