Bank Tato

BANK TATO (Tanaman Toga)
Indonesia adalah negara yang memiliki dua musim yakni musim kemarau dan musim hujan. Masing-masing dari musim tersebutlah yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya dua musim tersebut, tentu ada efek yang dibawa. Baik positif maupun negatif. Salah satu efek positif yang didapatkan adalah kegiatan pertanian dapat diprediksi dan hasil yang diperoleh juga akan maksimal. Namun, musim kemarau dan musim hujan juga memberikan pengaruh merugikan terhadap kehidupan manusia. Salah satunya adalah terbawanya bibit penyakit yang dapat dikatakan sebagai penyakit musiman. Misalnya pada saat musim kemarau penyakit yang ada adalah penyakit tenggorokan, sariawan, panas dalam, penyakit pencernaan dan sebagainya. Sedangkan untuk musim hujan diantaranya adalah demam berdarah, influenza, batuk, flu dan penyakit lainnya. Tidak hanya saat kedua musim itu terjadi, pada saat pergantian musimpun bibit penyakit lebih mudah tumbuh. Pada musim pancaroba inilah masyarakat sangat rentang diserang oleh bibit penyakit.
Semakin banyaknya penyakit yang dihadapi oleh masyarakat akan semakin menyebabkan masyarakat berusaha untuk menyembuhkannya, salah satu cara yang banyak ditempuh oleh masyarakat adalah dengan membeli obat kimia. Keberadaan obat kimia saat ini sangat menjamur dikalangan masyarakat. Obat kimia bisa ditemukan di rumah sakit, apotek, bahkan warung-warung kecil menyediakan. Obat kimia dipercaya oleh masyarakat ampuh dalam menyembuhkan penyakit. Paradigma masyarakat akan keampuhan obat kimia dalam menyembuhkan penyakit menyebabkan ketergantungan akan obat kimia. Padahal masyarakat belum mengetahui seperti apa kandungan obat kimia sebenarnya.
Menurut Menteri Kesehatan Nomor 246/Menkes/Per/V/1990 Pasal 1 bahwa : obat kimia adalah obat modern yang dibuat dari bahan sintetik atau bahan alam yang diolah secara modern dan digunakan serta diresepkan dokter kalangan medis untuk mengobati penyakit tertentu. Masyarakat yang ketergantungan obat kimia, lebih mengambil kepraktisan obat kimia, dan reaksinya cepat. Namun, ada beberapahal yang menyebabkan obat kimia tidak baik untuk digunakan, yaitu:
Pertama, efek samping yang berkepanjangan. Efek samping tersebut tidak hanya bisa dirasakan secara langsung, tapi ada pula efek tidak langsung atau efek berkepanjangan. Hal ini terjadi karena bahan kimia bersifat anorganik dan murni.Sementara, tubuh bersifat organik dan komplek. Sehingga, penggunaan bahan ini tidaklah cocok digunakan.
Kedua,tidak menyembuhkan penyakit pada sumbernya. Umumnya, obat kimia hanya memperhatikan beberapa sistem tubuh saja.Misalnya, pada kasus penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza. Obat kimia hanya berperan menghilangkan gejala yang dirasakan pasien tapi tidak bisa melumpuhkan virus penyebabnya.
Ketiga, Bersifat paliatif artinya penyembuhan yang bersifat spekulatif (untung-untungan) bila tepat penyakit akan sembuh, bila tidak endapan obat akan menjadi racun yang berbahaya. Selain itu, obat kimia memiliki sifat yang destruktif, merusak atau menghancurkan organ tubuh lain. Misalnya, meminum beberapa obat toko yang berbahan kimia lambat laun paru-parunya terancam infeksi ini salah satu penyebab dari penyakit asma.
Dengan melihat hal tersebut, maka selayaknya masyarakat meningglkan obat kimia dan beralih ke obat herbal. Banyak fakta menunjukkan bahwaawalnya penyakit yang sudah difonis oleh medis tidak dapat disembuhkan lagi, ternyata mampu diatasi oleh obat herbal. Obat herbal lebih aman dari obat kimia, karena minim efek samping. Selain itu, obat herbal mudah ditemukan di bumi Indonesia. Dikonsumsi jangka panjang pun tidak akan menimbulkan komplikasi dalam tubuh. Sifat obat herbal yang rekontruksi, memperbaiki organ membangkitkan kembali organ dan sel-sel yang telah rusak dan menghilangkan sumber penyakit karena bekerja secara menyeluruh. Hal tersebut menjadikan obat herbal memiliki keunikkan yang tidak dimiliki oleh obat kimia.Bebas toksin obat farmasi (racun) dan minim efek. Karenanya, masyarakat perlu berpindah dari yang ketergantungan obat kimia ke obat herbal.
Ironisnya, sampai saat ini masyarakat masih saja bergantung pada obat kimia dan enggan beralih pada obat herbal. Hal tersebut, otomatis juga mempengaruhi tingkat kemauan masyarakat dalam menanam tanaman TOGA. Beberapa hal yang menjadi alasan masyarakat adalah tidak faham manfaat, lahan yang sempit, malas untuk merawat, tidak menarik, dan tentunya tidak praktis. Pemikiran seperti itu banyak dijumpai pada kalangan masyarakat.
Pada dasarnya masyarakat tidak mau direpotkan dengan penanaman dan pengelolahan tanaman TOGA karena sudah ada alternatif yang lebih praktis dan mudah di jangkau oleh kantong. Hal inilah yang mendorong terciptanya badan bernama “Bank TATO (Tanaman Toga)” yang dapat dibentuk oleh Organisasi Karang taruna atau organisasi kaula muda lainnya. Yang diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat tentang tanaman Toga menjadi lebih dibutuhkan.
Dimulai dari tingkat masyarakat kecil yaitu Rukun Tetangga (RT). Pertama perlu dibentuk satu organisasi atau badan khusus untuk mengurus “Bank TATO (Tanaman Toga)”. Sebagai modal pengurus-pengurus tersebut harus berbekal ilmu tentang tanaman toga meliputi macam, manfaat lengkap dengan cara menanam dan merawat tanaman toga. Dimana ilmu tersebut akan disampaikan pada warga setempat untuk kegiatan awalnya dengan langsung terjun kerumah warga dalam menyampaikan ilmu tersebut. Cara ini lebih efektif dan cepat diterima warga karena penyuluhan tidak membosankan dengan praktek langsung ke rumah mereka.
Selajutnya yaitu pemberian bibit-bibit tanaman toga yang dapat dikembangbiakkan dilahan kosong atau didalam polybag. Hal ini dilakukan agar warga yang ingin turut serta dalam kegiatan “Bank TATO” tidak repot memikirkan bibit tanaman toga. Bibit-bibit ini diberikan gratis kepada setiap rumah. Setelah itu apabila tanaman tersebut sudah berkembangbiak dengan baik bisa dipanen dan diserahkan pada “Bank TATO” tanaman tersebut akan diolah menjadi obat herbal dalam segala bentuk untuk di distribusikan pihak Karang taruna.
Bagi penduduk setempat yang menyetorkan tanamannya. Akan diberikan tabungan sesuai dengan harga setiap jenis dan jumlah tanaman. Akan tetapi anggota “Bank TATO”(warga) tidak boleh mengambil tabungan tersebut dalam bentuk uang, tetapi dapat diambil dalam bentuk obat herbal dan dapat pula menjadi tabungan kesehatan. Misalnya ada anggota yang sakit dan harus dibawa ke puskesmas, uang yang disimpan dalam tabungan tersebut dapat digunakan untuk pembayaran pengobatan anggota.
Dengan adannya Bank TATO keuntungan dari tanaman Toga dapat dirasakan oleh kedua pihak, baik dari pihak Karang Taruna maupun warga yang menanam. Dengan begitu persepsi masyarakat bahwa tanaman Toga adalah sesuatu yang diabaikan menjadi lebih membutuhkan Tanaman Toga untuk alternatif pengganti obat kimia.
Harapannya, dengan adanya gagasan penulis masyarakat mampu membudayakan penggunaan Tanaman Obat Keluarga dan kesehatan masyarakat lebih terjamin karena tidak ada efek berkepanjangan yang didapat dari obat herbal. SEHAT NEGERI KU, LESTARI TOGAKU !!!