Berburu Ikan sang Raja di Pakpak Bharat

IMG_2129

teks dan foto : dewantoro

Pernah mencoba treking di sungai yang airnya masih jernih meskipun diguyur hujan berjam-jam? Pernah melihat ikan-ikan jurung berrenang ke sana kemari di sungai? Pernah merasakan dingin udara hutan yang diliputi kabut? Pernah merasakan sensasi berburu ikan jurung hanya dengan alat sederhana dan penyelaman sungai? Pernah merasakan ikan jurung bakar hasil buruan sendiri? Pernah terpeleset di bebatuan padas di sungai yang arusnya deras? Pernah menyusuri sungai berarus yang di kanan kiri tebing?

Kalau belum, maka persiapkan waktu untuk datang kemari. Jika sudah, maka pengalaman di sungai ini bisa jadi akan menambah kecintaan terhadap ciptaanNya sekaligus memacu untuk bergabung dalam barisan pembenci praktek-praktek merusak lingkungan dengan dalih apapun. Karena hidup terlampau pendek untuk sekedar menjadi penikmat apalagi perusak.

Baiklah, langsung saja. Sungai yang sedang dibicarakan ini adalah Lae Siblagen. Cara mudah untuk kemari adalah melalui Dusun Mbinanga Neur, Desa Malum, Kecataman STT Jahe, Kabupaten Pakpak Bharat. Lokasinya terpencil. Untuk sampai ke dusun ini, dari Medan menuju Simpang Bulu Didi, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Desa Malum yang memakan waktu 2 jam. Jika beruntung, bisa numpang dengan kendaraan warga yang sesekali saja lewat.

Dusun Mbinanga Neur berada di ujung desa. Belum ada kendaraan roda empat yang bisa mencapainya. Untuk sampai ke Mbinanga Neur, harus berjalan kaki lagi selama 2 jam. Tidak perlu khawatir, karena setiap pagi dan sore, ada saja masyarakat yang menuju Mbinanga Neur. Dusun Mbinanga Neur berada di lembah. Setengah jam sebelum memasuki dusun ini, dari ketinggian bisa dilihat panorama lansdscape yang luar biasa. Perumahan sederhana tertata sedemikian rupa dan menarik hati. Pemandangan tersebut biasanya disebut bonus perjalanan yang memeras keringat.

Lalu, di mana Lae Siblagen? Tak perlu terburu-buru. Bukan hanya keindahan sungai yang ada di Mbinanga Neur. Ada pepohonan besar yang menjulang tinggi dan rapat di hutan yang masih asri. Udara lembab dan dingin di dalam hutan karena tak banyak sinar matahari yang bisa menembus lantai hutan. Dengan menembus hutan selama 2 jam, baru akan sampai ke Lae Siblagen.

Kalau hanya untuk melihat ikan-ikan jurung yang berrenang ke sana kemari, cukup berdiri di bibir sungai. Airnya yang jernih tak bisa memnyembunyikan ikan-ikan jurung tersebut berrenang di antara bebatuan padas. Tapi, jangan berlama-lama berdiri di bibir sungai, karena pasti tak akan tahan untuk segera masuk ke sungai. Baru setelah itu, akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di paragraf pertama. Catatannya, batu padas itu licin, dan jauh lebih keras daripada kepala. Jadi, hati-hati. Ha ha ha. Kalau mau berfoto-foto, di sepanjang perjalanan merupakan spot terbaik. Tapi yang harus diingat adalah, kesopanan harus tetap dijaga.

Seperti yang sudah disebut di awal, bahwa di sungai ini ada aturan adat yang melindungi dan menjaganya. Sehingga, seluruh tindak tanduk tidak boleh sembarangan. Masyarakat Cibro, memiliki tanah ulayat Cibro di sini seluas 25.000 ha, yang diakui oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1942 dan kemudian juga diakui oleh bupati Dairi pada tahun 1997.

Masyarakat marga Cibro sudah lama tinggal di desa ini, hal ini dibuktikan dengan beberapa peninggalan yang ditemukan seperti patung yang disebut masyarakat dengan Mizan, cerukan parit di bagian luar kampung yang disebut masyarakat sebgai benteng desa, serta beberapa perancah yang ada.

Dusun Mbinanga Neur terdapat lebih kurang 25 KK, yang terdiri dari berbagai kalangan etnis Pak-pak, Aceh, Batak dan Jawa yang berprofesi sebagai petani. Mayoritas masyarakat Dusun Mbinanga Neur beragama Islam. Jumlah KK di dusun Mbinanga Neur tidak menentu. Hal ini disebabkan adanya orang luar yang membeli tanah di Mbinanga Neur untuk berladang, tidak menetap dan hanya akan datang pada waktu tertentu.

Proses kerjasama sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Proses ini biasanya dilandasi oleh kekerabatan yang cukup kuat. Hubungan saudara dan sanak famili yang banyak terjadi dalam masyarakat yang mendasari hubungan kekeluargaan masyarakat desa kuat sehingga memudahkan terciptanya kerjasama antar penduduk. Kerjasama yang terjadi sering terwujud dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup, kegiatan ekonomi, dan kegiatan keagamaan serta kegiatan sosial.

Hasil komoditas pertanian masyarakat di Mbinanga Neur di antaranya adalah coklat, kopi, nilam, sawit, gambir yang sudah diolah dan daun gambir mentah. Di samping itu untuk komodity bulananya adalah durian. Selain bertani hampir sebagian masyarakat Dusun Mbinanga Neur juga menangkap ikan di Sungai Lae Siblagen. Ikan yang ditangkap adalah ikan jurung. Ikan jurung yang berhasil ditanggkap disale oleh masyarakat dan pada akhir pekan dijual ke Pekan di Nan Jombal atau di Subussalam.