Biarkan Alamku Tetap Lestari

suguhan keindahan alam Bukit Rimbang Baling
sungai dan hutan sekitar kawasan Bukit Rimbang Baling

Sumber daya alam memiliki peranan yang sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, alangkah indahnya jika manusia dapat memanfaatkan secara bijak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perlu diketahui bahwa tidak semua sumber daya alam yang ada di bumi dapat diperbaharui, maka marilah kita sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk mulai memikirkan anak dan cucu yang suatu saat nanti menjadi pewaris kehidupan dan penikmat dari sumber daya alam yang telah ada dengan cara memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Memang dapat dikatakan bahwa sumber daya alam Indonesia sangatkah kaya. Namun, kekayaan alam tersebut belum dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya secara merata. Masih banyak ditemukan masyarakat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Badan Pusat Statistika (BPS) pada September 2014 melaporkan bahwa presentase angka kemiskinan tertinggi terdapat di wilayah desa yaitu sebesar 13,76% sedangkan 8,16% untuk wilayah kota. Padahal wilayah desa merupakan sumbernya kekayaan alam, akan tetapi angka kemiskinan terbesar justru banyak terdapat di wilayah desa.

Agar sumber daya alam tersebut dapat memberikan kesejahteraan secara merata, maka diperlukan partisipasi aktif bagi pemerintah hingga masyarakat biasa untuk dapat mengelolanya secara baik dan berkelanjutan. Namun sayangnya masih banyak ditemukan pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab melakukan eksploitasi dan perusakan alam sehingga berdampak pada rusaknya alam. Di tambah lagi dengan lemahnya pemahaman para penegak hukum untuk menepatkan sanksi bagi para pelaku yang jelas-jelas telah melakukan perbuatan kejahatan alam. Misalnya, dengan di bukanya kawasan dilindungi yang terdapat di Propinsi Riau untuk dijadikan sebagai tamanan monokultur kelapa sawit.

Tanaman kelapa sawit memberikan jaminan ekonomi tersendiri bagi pemiliknya, perawatan yang tidak begitu rumit merupakan salah satu alasan mengapa setiap orang ingin memiliki lahan kelapa sawit. Sebenarnya, jenis tamanan ini tidak akan menjadi masalah jika di tanam di luar kawasan dilindungi. Artinya, tanaman tersebut tidak merusak kekayaan ekosistem sumber daya alam yang ada, khususnya di Indonesia. Menjadi masalah yang sangat serius apabila dalam proses penanaman kelapa sawit menerapkan cara-cara yang dapat merugikan banyak pihak, misalnya di tanam di dalam kawasan dilindundungi sehingga berdampak pada rusaknya ekosistem kekayaan sumber daya alam lainnya. Hal ini akan memberikan dampak negatif bagi seluruh makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.

Nilai ekonomis buah kelapa sawit seakan-akan telah membutakan hati dan pikiran manusia untuk bertindak. Para pelaku memilih menggunakan cara membakar lahan yang akan ditanami kepala sawit dengan alasan hematnya waktu dan biaya yang dibutuhkan. Padahal, dampak negatif dari perbuatan ini sangatlah besar, diantaranya meliputi, rusaknya habitat satwa liar, berkurangnya ekosistem kekayaan sumber daya alam, pencemaran udara akibat kabut asap, sulitnya bernapas dan masih banyak lagi. Hal ini tentunya semakin menambah Tugas Rumah (PR) pemerintah.

Ketika penulis mengikuti kegiatan magang di salah satu NGO di Propinsi Riau yang memiliki visi untuk melakukan upaya konservasi alam, penulis sempat melakukan suatu perjalanan ke desa Muara Bio atau salah satu desa yang bersinggungan langsung dengan kawasan Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Baling. Kawasan ini merupakan tipe hutan basah daratan rendah yang memiliki keanekaragaman hayati serta menjadi habitat penting bagi satwa langka. Membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari kota Pekanbaru atau sekitar 90 km menuju ke arah selatan untuk sampai di lokasi.

Meskipun dapat di katakan sangat jauh dari kota, namun ternyata masyarakat memiliki kesadaran yang besar untuk tetap menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan dan cara yang dilakukan masih menerapkan cara-cara tradisional. Misalnya, mengadakan lubuk larangan dengan panjang mencapai 1 km. Ikan yang berada di dalam lubuk larangan hanya boleh di panen pada saat-saat tertentu saja sesuai dengan kesepakatan yang dilakukan antara masyarakat dengan ninik mamak (pemuka adat), paling cepat panen dapat dilakukan sebanyak 1 kali dalam setahun atau saat air sungai surut. Menurut kepercayaan masyarakat adat pada zaman dulu, jika ada yang memakan ikan di lubuk larangan sebelum masa panen tiba, maka orang tersebut akan mengalami sakit perut selama tiga hari tiga malam.

menyusuri sungai sekitar kawasan Bukit Rimbang Baling
menikmati keindahan senja di tengah sungai

Proses pemanenan ikan dari lubuk larangan tidak melibatkan seluruh warga, hanya dibutuhkan sekitar 40 warga pilihan yang terampil dan mahir untuk menangkap ikan di sungai. Hasil tangkapan dibagi secara merata kepada seluruh penduduk dengan diharuskan membayar uang sumbangan sebesar Rp.5000 per kepala keluarga. Seluruh sumbangan yang terkumpul digunakan untuk membangun desa menjadi desa mandiri. Masyarakat sekitar kawasan memang berusaha untuk menjadikan alam yang ada disekitarnya tetap lestari, khususnya sungai. Sebab, sungai merupakan sumber kehidupan masyarakat desa. Ikan dari sungai merupakan makanan sehari-hari, dan sungai adalah jalan satu-satunya yang dapat menghubungkan satu desa dengan desa lainnya. Oleh karena itu, kelestarian sungai sangat dijaga dengan baik dengan cara-cara tradisional.

Sangat berharganya sungai bagi kehidupan membuat masyarakat berusaha keras untuk tetap menjaganya dari ancaman pencemaran, khususnya pencemaran akibat paparan pupuk dari perkebunan. Mengingat bahwa sungai sangat dekat dengan kawasan hutan, maka sembari menjaga sungai, masyarakat juga melakukan penjagaan terhadap hutan agar tetap menjadi hutan yang tidak akan pernah diberi pupuk olahan pabrik.

Hampir setiap pagi dan sore, tepian sungai selalu ramai oleh anak-anak. Padahal di rumah mereka juga sudah terdapat kamar mandi yang cukup memadai. Mereka lebih memilih mandi di sungai karena sungai telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk saling sapa dengan teman-teman. Sungai adalah segalanya bagi mereka. Setiap anak menunjukkan keahlian berenangnya dengan melakukan atraksi lompat bebas dari kumpulan batu besar yang ada di tepi sungai. Pemandangan semacam ini mampu menggerakkan hati dan pikiran tentang arti pentingnya hidup berdampingan antara masyarakat dengan alam sekitar.