“ESAY TEMUAN MENARIK MELALUI PERJALANAN ALAM BEBAS”

TEMA

“Setetes Air” untuk Kehidupan

Air merupakan sumber kehidupan utama dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, air menjadi hal terpenting karena manfaatnya yang begitu banyak tidak hanya untuk kebutuhan hidup manusia tetapi untuk makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Air tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk di konsumsi, untuk itu kelestarian lingkungan sangat perlu kita jaga bersama agar ketersediaan  air untuk di konsumsi terpenuhi. Sebagai salah satu unsur utama keberlangsungan makhluk hidup, air sangat berperan dalam aktivitas keseharian kita.

Namun, maraknya kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini sangatlah mempengaruhi ketersediaan air. Kerusakan yang terjadi di mana-mana. Penebangan pohon untuk pembangunan, untuk perkebunan, pertambangan marak terjadi. Selain itu, pencemaran air baik di sungai, danau, laut juga terjadi. Bahkan air yang berada dalam tanah pun di keruk sebanyak-banyaknya yang  tidak mempertimbangkan apa yang akan terjadi kemudian. Tidak sampai di situ, cerita pilu negeri ini seakan-akan tidak pernah henti dijajah oleh para kelas-kelas social tertentu. Justru yang dekat dengan kekuasaan diberikan kebebasan untuk menanamkan investasinya  dengan iming-iming akan membantu rakyat negeri ini.

Kesejahteraan yang di ingikan oleh para penghuni negeri ini seakan hanya sebuah mimpi yang tak pernah akan terwujud. Segala bentuk sumber daya alam indoneisa justru dikelolah oleh bangsa asing sampai air pun di rampok oleh mereka, kita yang mempunyai sumber kekayaan ini hanya mendapatkan sisa-sisa yang tak pantas diterima oleh rakyat negeri ini yang memiliki kekayaan tersebut.

Situasi serta kondisi saat ini semakin menyedihkan, air yang selalu di dikirim ke perkotaan yang di ambil dari pegunungan secara besar-besaran melalui PDAM dan juga pengeboran air yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan, tentunya sangat mempengaruhi ekosistem air bawah tanah dalam jangka panjang. Dampak yang ditimbulkan dari apa yang dilakukan pemerintah melalui salah satu instansinya di bidang air tentunya berdampak pada masyarakat yang berada menetap di pegunungan. Situasi dan kondisi inilah yang sedang terjadi pada masyarakat adat Ngapa Vatutela yang masuk diwilayah Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

Apa yang terjadi pada masyarakat adat, yang mendiami wilayah pegunungan kambuno sangat menyedihkan akibat dari pembangunan yang semakin pesat khususnya di wilayah tondo. Pembangunan perguruan tinggi disertai dengan adanya perumahan dosen serta BTN roviga dan juga kos-kosan yang semakin banyak, akhirnya berdampak pada masyarakat adat Ngapa Vatutela dalam hal ini sungai yang dulunya debet airnya besar kini ibarat sebuah padang pasir yang terus mengalami kekeringan.

Dulunya warga masih dapat menanam tanaman di sekitaran bibir sungai, tetapi setelah terjadinya kekeringan semua tanaman mati. Kekecewaan dan juga kesedihan yang dirasakan warga vatutela sangatlah memperihatikan mereka tidak dapat lagi bercocok tanam disekitar pinggiran sungai, mereka harus ke gunung dengan menempuh waktu berjam-jam dan medan yang cukup ekstrem untuk dilewati serta sangat menguras tenaga, tetapi semua itu tidak membuat warga putus asa. Mereka terus berjuang untuk tetap bertahan hidup. Pembangunan yang seharusnya mensejahterakan tetapi itu tidak terjadi sama sekali di Ngapa (kampung) Vatutela. Pembangunan disatu sisi membutuhkan air disisi lain komunitas vatutela yang dulunya penyuplai sayur-mayur untuk masyarakat kota tidak lagi mampu memenuhinya karena debit air semakin berkurang.

Puncaknya, pada pertengahan 1990-an sampai sekarang ini, krisis air mulai melanda wilayah ini, tidak hanya untuk kebutuhan rumahtangga, tapi juga untuk keperluan pertanian-ladang dan peternakan. Yang paling mencengangkan adalah, Sungai Vatutela menjadi kering, dan hanya menyisakan bebatuan kerikil dan pasir. Kebun-kebun tanaman palawija di sepanjang bantaran sungai perlahan-lahan mulai tandus, dan tanah tidak lagi mampu berproduksi.

Hewan ternak, juga mulai kesulitan mencari sumber air untuk minum. Padahal, produksi ternak Sapi, Domba, dan Kambing dari ngapa Vatutela, menjadi pemasok kebutuhan ternak setidaknya bagi Kota Palu. Ditambah lagi dengan pipanisasi secara besar-besaran yang dialokasikan untuk masyarakat kelurahan tondo, berakibat pada masyarakat yang susah untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Bapak Kadir yang merupakan wakil ketua RT 01 Vatutela menuturkan bahwa ketika akan turun hujan, warga membuat ‘lubang sumur’ untuk menadah air. Terkadang mereka harus berkali-kali pindah untuk menggali lubang hanya untuk ‘setetes air’. Sungguh perjuangan yang cukup sabar untuk tetap hidup. Seringkali masyarakat dituduh sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan dan juga kekeringan yang terjadi padahal mereka masyarakat Ngapa Vatutela memiliki nilai-nilai kearifan lokal untuk menjaga, melindungi, serta mengelolah alam yang telah disepakati bersama secara komunal oleh tetua-tetua adat serta masyarakat Vatutela sendiri. Tentunya kita tidak mengharapkan semua ini akan terjadi karena generasi selanjutnya juga menuntut sumber kehidupan yang layak.

Sumber kehidupan generasi bangsa khususnya masyarakat Ngapa Vatutela dan sekitaran kota Palu akan terancam sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak hanya itu kekeringan yang terjadi pada sungai Vatutela akan berdampak juga pada hewan ternak yang dipelihara oleh masyarakat serta tanaman yang di tanam di sekitaran pinggiran sungai. Aspek social pun mempengaruhi dimana basis produksi masyarakat Vatutela yang dulunya homogen sebagai petani kemiri, cengkeh, coklat, kopi, dan damar kini telah berubah basis produksi ke arah heterogen. Ada yang bekerja sebagai tukang ojek, pegawai swasta, buruh, padat karya, dll. Menurut salah satu tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh pada masyarakat Vatutela, ia mengatakan bahwa perubahan pola produksi yang terjadi pada masyarakat tidak lepas dari factor alam yang terjadi akhir-akhir ini, sehingga biaya hidup yang makin tinggi membuat masyarakat untuk mencari pekerjaan sampingan demi menutupi biaya sehari-hari. Ujar Pak Muslimah

Sebagai salah satu Ngapa (kampung) yang berada di dekat kota kini masyarakat Vatutela lagi di cemaskan dengan kebijakan dari pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu dengan adanya penetapan wilayah konservasi hutan atau yang sering disebut sebagai kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA). Menurut tokoh-tokoh masyarakat penetapan kawasan konservasi hutan di Vatutela dilakukan tanpa adanya pemberitahuan dan sosialisasi terlebih dahulu sebelum di tetapkan mejadi suatu kawasan hutan lindung.

Penetapan Tahura pun di anggap secara sepihak oleh pemerintah daerah terkait, karena masyarakat tidak pernah dilibatkan secara penuh oleh pemerintah daerah berpartisipasi secara aktif mulai dari pengawasan sampai pada penetapan. Tahura dianggap mengancam kelestarian hajat hidup masyarakat Vatutela karena di dalam peraturan daerah tentang Tahura tersebut, lebih banyak berpihak kepada kepentingan-kepentingan golongan tertentu dari pada kepentingan komunal masyarakat Ngapa Vatutela. Di lain pihak tidak adanya kejelasan mengenai batas-batas dan luas Tahura yang masuk wilayah Vatutela secara detail, tentunya dengan penetapan ini masyarakat akan dibatasi akses masuk wilayah hutan tersebut untuk mengelolah sumber daya alam secara komunal dengan semangat collectivitas dan nilai-nilai kearifan lokal.