GADJAH MADA DARI PAPUA

GADJAH MADA DARI PAPUA

Oleh: Gigin Ginanjar

Papua Milik Indonesia Atau Amerika?

Apa yang ada dibenak kita, ketika mendengar nama Papua? Panorama Raja Ampat yang mendunikah? Atau suku pedalamannya yang eksotiskah? Semuanya memang ada ditanah surga yaitu Papua. Sumber daya alam yang melimpah, menjadikannya berpredikat mutiara hitam dari timur karena kandungan mineralnya yang melimpah. Hal ini tentu bukan menjadi rahasia umum lagi, sehingga banyak negara lain yang ingin menjalin hubungan baik dengan Indonesia dalam upayanya mengelola tambang dibagian timur indonesia. Letaknya yang berada jauh di ujung timur bagian Indonesia menyebabkan pembangunan infrastruktur bangunan dan manusianya belum maksimal jika dibandingkan dengan pulau Jawa atau pulau lainnya, bahkan banyak dari wilayahnya yang terisolasi, jauh dari akses kesehatan dan pendidikan(1).

Sulitnya akses pendidikan disana, menyebabkan pembangunan manusianya menjadi rendah, banyak anak-anak Papua yang tidak mengenyam pendidikan layak(2). Hal ini ditengarai menjadi penyebab rendahnya pemahaman yang baik mengenai pentingnya kerukunan dan kedamaian antar sesame(3). Ada juga pemahaman mereka karena merasa dianak tirikan Indonesia dalam pengelolaan tanah sendiri, bahkan Indonesia lebih rela memberikannya kepada pihak lain.

Pengelolaan ini cukup disayangkan, karena pada kenyataanya sektor pertambangan yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di dunia malah dikelola oleh PT Freeport milik Amerika Serikat(4). Perusahaan tambang ini konsen terhadap aneka tambang khususnya emas dan mineral lainnya. PT Freeport menjelma menjadi mitra usaha yang bergandengan tangan dengan Indonesia dalam mengeruk sumber daya alam Papua dan tidak punya komitmen apapun terhadap masyarakat lokal(5). Pada awalnya hubungan yang dibangun yaitu simbiosis mutualisme, perlahan namun pasti hubungan itu tidak saling menguntungkan lagi, hubungannya mulai berubah menjadi helotisme, keuntungan tersebut akhirnya tidak rata, seperti analogi Pembantu dan Majikan. Pembantu itu Amerika yang perlahan posisinya berubah terbalik menjadi Indonesia.

Sekam Itu Bernama Freeport

Freeport telah menjadi Parasit pada tubuh yang bernama Indonesia. Pertanyaan dasar yang semua orang layak mengutarakannya adalah, apakah Indonesia tidak mampu mengelola sendiri sumber daya alamnya di Papua? Apakah Indonesia terlalu sibuk mengurusi tektek-bengek urusan negara sampai harus cari pembantu untuk rumah tangganya sendiri? Atau benarkan Indonesia semacam didikte padahal negara yang berdaulat? Bukankah dalam UUD  1945 Pasal 33 ayat 3(6) menyatakan bahwa semua sumber daya alam dan kekayaan tambang diperuntukan bagi kesejahteraan masyarakat? Bukan malah mensejahterakan negara lain yang jelas-jelas sudah sejahtera.

Data BPS yang dirilis pada maret 2015 menunjukan bahwa sekitar 22,79 juta penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan(7). Dengan Freeport dikelola sendiri maka sebenarnya Indonesia dapat menghapus jumlah penduduk tersebut dalam status dibawah garis kemiskinan bukan? Karena sampai saat ini royalti yang diterima Indonesia mencapai 15,2 Miliar dolar(8). Bayangkan jika dikelola sendiri? akan tetapi jika terus abai tentang hal ini, maka Indonesia sebagai sebuah negara telah lalai dan berlaku keji terhadap rakyatnya sendiri. Membiarkan mereka menjadi penonton dinegeri sendiri. kelompok kaum marginal yang merasakan dampak lingkungan dari pertambangan yang pasti tidak mempertimbangkan aspek lingkungan. Jikapun mereka bekerja, statusnya tidak lebih dari jongos yang berada pada kasta terendah.

Freeport dan Mental Para Pemimpin Bangsa

Pada saat situasi terpuruk semacam ini, dimanakah peran para pemimpin bangsa yang harusnya berani bersikap dan bertindak. Alangkah malunya kita manakala mendapati mereka sedang kisruh sendiri dengan kasus “mama minta saham” dengan tersangka utama ketua DPR RI yang konon katanya dalam jalannya sidang, ketika diputar rekaman pembicaraan malah ada nama RI-1 yang kemudian diseretnya. Bukankah mereka sibuk mengurusi hal yang teramat tidak penting? Sementara Amerika sampai saat ini sedang mengebor tanah dan mendapati emas dan mineral lain yang begitu banyak dan rakyat papua masih mengalami ketidakadilan.

Tidak kah kita belajar pada sekelompok suku asli benua Amerika (Indian) yang akhirnya harus terisisih kerena orang Eropa yang mengaku dirinya Amerika saat ini, ketika datangnya Cristhoper Columbus dan migrasi besarpun terjadi untuk menjadikan benua Amerika saat itu sebagai tempat berpindah. Tidakkah kita mengambil hikmahnya? Indonesia saat ini adalah cerminan suku Indian itu saat dulu. Amerika telah menemukan lagi tempat seperti mereka menemukan  tempatnya dulu dan kontrakpun akhirnya diperpanjang.

Sekarang kita semua tahu mental pemimpin bangsa ini bukan? pantas jika publik saat ini bertanya, punya hutang budi apa Indonesia kepada Amerika, sampai-sampai presidennya menurut saja dengan kontrak perpanjangan ini? Tidak kah dikaji ulang? Lalu difikirkan matang-matang, baru diambil kesimpulan? Tidak boleh bertindak sembrono jika menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, bagai air didaun talas, itu mungkin peribahasa yang cukup layak diberikan kepada kepada pemimpin negara dengan mental payah seperti itu.

Dimana Ugensi UUD No 35 tahun 2008 Tentang Otonomi Daerah(9)?

Sedari dulu tanah Papua urusan sosial dan politiknya selalu bergejolak. Ketidakadilan yang mereka terima tentu berkaitan dengan hak mereka untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dengan landasan UUD otonomi daerah. Bagaimana mereka akan mengelola secara mandiri jika Freeport mengusai sebagian wilayahnya? Jika pada akhirnya  mereka harus berontak dan bergejolak, maka adalah sesuatu yang wajar bukan? Jadi jangan pernah menganggap mereka tidak pernah berfikir, justru dalam keadaan seperti itu, akan memicu lahirnya pemikiran dan pergerakan yang masive dan sporadis. Perlindungan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan manusia Papua adalah program yang mendesak. Memberdayagunakannya berarti menganggapnya ada sebagai bagian dari diri kita.

Gadjah Mada Dari Papua

Jika ini sudah terjadi lalu apa yang bisa dilakukan? banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari bersikaplah adil kepada mereka. Berikan mereka hak untuk mengelola tanahanya sendiri dengan baik, berikan mereka kesempatan untuk mengenyam indahnya pendidikan yang layak. Bangun infrastruktur yang memadai sekaligus manusianya juga dalam waktu yang bersamaan. Hingga mereka merasa keberadaanya tidak pernah dianggap sebelah mata, dan merasa diberlakukan adil sebagai bagian negara.

Besar harapan para pemuda Papua memiliki mimpi yang besar seperti Mahapatih Gadjah Mada yang terkenal dengan sumpah palapanya dari kerajaan Majapahit yang fenomenal.  Berikirar dengan kesungguhan hati dan perbuatan akan menyatukan nusantara dalam kebineka tunggal ika-an. Pada akhirnya, Papua itu adalah Indonesia, bersamanya kita disebut sebagai nusantara. Indonesia itu tidak hanya Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa juga pulau-pulau lainnya. Tetapi ada juga Papua yang harus diajak berjalan beriringan dan tidak boleh ditinggalkan. Bersamanya kita akan tumbuh dalam keamanan, kenyaman dan dan harmoni. Semoga.

 

DAFTAR KUTIPAN

  1. Kompas.com, 2013. Potret Pendidikan di Kabupaten Asmat. http://regional.kompas.com/read/2013/07/04/1813406/Beginilah.Potret.Pendidikan.di.Kabupaten.Asmat di akses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 20.22
  2. Kompas.com. 2013. Pentingnya Pendidikan dalam Otsus PapuaBarathttp://www.kompasiana.com/rikaprasatya/pentingnya-pendidikan-dalam-otsus-papua-barat_55127395a333117a56ba8592 di akses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 20.34
  3. Program UNFGI. Percepatan Pembangunan Kesahatan, Pemprov Papua bentuk UP2KP. http://igi.fisipol.ugm.ac.id/index.php/en/unfgi/innovation-news/338-percepat-pembangunan-kesehatan-provinsi-papua-bentuk-up2kp di akes pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 20.28
  4. KM ITB. 2011. Kasus Freeport: Bagaimana Nasib Papua? http://km.itb.ac.id/site/kasus-freeport-bagaimana-nasib-papua/ diakses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 20.40
  5. SindoNew.com. 2015. Freeport dan Nasionalisme Orang Papua.http://daerah.sindonews.com/read/1066955/29/freeport-dan-nasionalisme-orang-papua-1449249816 diakses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 20.44
  6. UUD 1945 Pasal 33 ayat 3. Bumi, Air Dan Kekayaan Yang Terkandung Didalamnya Dikuasai Negara Dan Diperuntukan Sebesar Besarnya Untuk Rakyat. http://www.itjen.depkes.go.id/public/upload/unit/pusat/files/uud1945.pdf di akses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul 21.44
  7. Badan Pusat Statistik. 2015. Persentase Penduduk Miskin Maret 2015 Mencapai 11,22 Persen. http://bps.go.id/brs/view/1158 di akses pada tanggal 7 Desember 2015, Pukul 17.41
  8. Kompas.com. 2015. Dalam 20 tahun Penerimaan Negara dari Freeport Mencapai 15,2 Miliar dolar. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/01/27/1545478/Dalam.20.Tahun.Penerimaan.Negara.dari.Freeport.15.2.Miliar.Dollar.AS di akses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul  21.15
  9. UU 35 tahun 2008.  Penyelenggara khusus Bagi Provinsi Papua. file:///D:/My%20Documents/Downloads/–229-264-PP35_2008.pdf diakses pada tanggal 8 Desember 2015, Pukul  21.47