Hidup Beretika dengan Alam

mtf_hlAAy_103

Hakekat Manusia dengan Alam

Manusia merupakan makhluk yang diberikan sebuah anugerah yang tak ternilai dari makhluk lainnya. Manusia memiliki akal dan otak yang cemerlang untuk digunakan sebagai landasan hidup berfikir dan berlogika. Manusia dapat menjadi sebuah pemimpin diantara makhluk lainnya karena memiliki strategi menguasai pikirannya sendiri untuk mengendalikan makhluk lainnya. Keseimbangan yang diraih oleh manusia dapat terwujud apabila akal tersebut dapat digunakan dengan bijak dan bertanggungjawab. Jiwa dan perasaan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keseimbangan tersebut. Hakikat hidup yaitu berfikir dan berperasaan sehingga alam dan lingkungan sekitar kita akan mendukung hal tersebut. Tetapi nyatanya hal ini bertolak belakang dengan masa yang dipenuhi dengan banyaknya masalah saat ini. Masalah saat ini ditimbulkan karena manusia terlempar jauh dari hakikatnya di dunia, yaitu menjadi pemimpin yang bermartabat.

Tragedi Masa Silam dan Masalah Masa Kini
Tragedi antara manusia dan alam sudah timbul sejak berabad-abad yang lalu. Manusia purba yang terdengar sedikit eksentrik dan konservatif ini justru dapat merasakan keselarasan hidup dengan alam. Walaupun mungkin mereka belum memiliki akal semaju saat ini, tetapi empati mereka dibangun karena mereka hidup berbaur dengan makhluk lainnya. Manusia purba tersebut tidak merasa angkuh karena dapat membuat sebuah tongkat yang diujungnya terdapat batu runcing dan menusukannya kepada bison besar untuk menjadi santapan mereka. Hal tersebut sangat wajar mereka lakukan karena mereka ingin bertahan hidup. Kebiasaan berburu dan meramu tersebut dilakukan untuk memenuhi hak mereka mendapat kebutuhan primer mereka yaitu pangan. Tetapi , yang dilakukan mereka saat itu memiliki tujuan yang polos dan bernaluri. Mereka tidak menjadikan hewan buruan mereka sebagai timbunan makanan perseorangan tapi untuk komunal dan kebersamaan, sehingga alam pun akan beserta dengan mereka. Selain itu manusia purba memerlukan alam untuk bernaung sehingga tajuk – tajuk pohon yang tinggi bertahan pada masa itu. Mereka hanya menggunakan ranting dan dahan pohon untuk kayu bakar yang dapat menghangatkan tubuh mereka disaat kedinginan. Api yang dinyalakan secara primitif pun digunakan bukan untuk menakuti makhluk lain, tapi untuk memberikan sebuah lingkaran teritori bahwa manusia purba tersebut menghargai teritori lainnya sehingga terhindar dari konflik dengan makhluk lain.
Belajar dari kehidupan manusia primitif tersebut bahwa keselarasan yang kita rasakan dengan alam saat ini secara menyeluruh tidak bisa kita rasakan lagi. Manusia purba memiliki naluri yang terbilang sudah jauh terkubur dimasa silam dahulu. Peradaban saat ini dibangun dengan sebuah etika. Etika merupakan sebuah landasan manusia untuk menjadi seharusnya hakikat manusia. Menjadi terpelajar,berhati nurani dan berperasaan. Namun, pada saat etika tersebut muncul, kita yang menjatuhkannya sendiri. Zaman yang serba ada saat ini tidak membuat etika mewujudkan gaung aslinya kepada diri kita masing masing. UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara hanya menjadi naskah tak bertuan saja dan anak – anak dari UUD 1945 tersebut dibuat hanya untuk “yang berkepentingan”. Tendensi tersebut terbukti dengan terjadinya puncak musibah besar di Indonesia baru baru ini yaitu kebakaran hutan yang hebat bersamaan dengan El Nino. Manusia (khususnya di Indonesia) yang berdaulat dan beretika tersebut menjatuhkan sendiri rumah bernaung mereka dan abu dari kayu – kayu yang terbakar akan menjadi saksi bisu nasib alam yang berduka. Bagaimana mungkin kita yang saat ini dengan keadaan lebih maju bisa lebih terpuruk dibandingkan manusia primitif tersebut?

Etika Sebagai Landasan Manusia
Etika merupakan hal mendasar dalam menerapkan ilmu pengetahuan tetapi hal tersebut sudah jarang tersentuh melalui teori maupun praksisnya, karena banyak orang yang berpendapat etika hanya berbatas retorika. Membangun dan memberikan produk etika ini kepada semua kalangan manusia sangat diperlukan karena jika tidak, maka akan lenyap dimakan era modernisasi. Maka dari itu, etika merupakan barang langka yang harus dihidupkan lagi sebagai kunci keberlanjutan manusia yang akan bersanding baik dengan alam. Etika dibangun berdasarkan kesadaran manusia dalam kehidupan yang sebenarnya karena semakin kita membiarkan etika tersebut rapuh, maka akan rapuh juga keberadaan keturunan manusia di masa yang akan datang. Masa depan mungkin hanya bisa direncanakan, tapi paling tidak untuk saat ini kita harus sadar beretika baik dengan alam sama dengan kita menghargai diri kita sendiri dan Sang Pencipta.
Etika harus dibangun dari kesadaran dan realita yang pasti sehingga harus dilakukan sedini mungkin. Belajar mengkaji penyimpangan kebijakan yang ada di pemerintahan pusat, daerah maupun rencana kerja yang digunakan untuk menggerakan motor perusahaan private butuh dilakukan. Selain itu, dengan adanya multidisliplin dalam ilmu pengetahuan jangan dijadikan penghalang untuk mengkaji ilmu lintas sektoral. Hal tersebut menghindari adanya tumpang tindih kebijakan multi sektoral. Pada saat ini masalah tumpang tindih kebijakan merupakan salah satu yang menjadi distorsi dalam kerusakan etika di semua kalangan masyarakat.
Contoh konkrit yang tercermin akan lunturnya etika terhadap lingkungan yaitu seperti kebekaran hutan yang baru terjadi sejak bulan Agustus 2015. Hal tersebut menunjukan adanya ketidakseriusan setiap kalangan masyarakat dalam menanggapi hal tersebut karena hal tersebut sudah terjadi pada tahun 1997 dan terjadi kembali saat ini. Setiap sektor yang mempunyai andil dan kepentingan seolah – olah saling menyalahkan dan angkat kaki dari masalah secara perlahan. Perusahaan HPH (Hak Pengurusan Hutan) dan HTI (Hutan Tanaman Industri) memberikan momok kenihilan dalam menjaga kawasan konsesinya sendiri. Sedangkan perusahaan sawit yang digembor-gemborkan menjadi “cerobong asap” pun tidak ingin disalahkan. Banyaknya perusahaan dan/atau perorangan yang melakukan pemusnahan sumberdaya alam secara masal tersebut, tidak membuat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut, sehingga kasus tersebut seperti hilang begitu saja tanpa jejak yang pasti. Gagal paham terhadap kondisi yang multisektoral ini diperparah dengan banyaknya Peraturan Daerah (PERDA) yang tidak selaras dengan peraturan yang seharusnya. Terlihat bahwa masalah ini timbul atas dasar kurangnya empati kepedulian terhadap masalah itu sendiri, dan mereka malah sibuk mengeluarkan egosentris sektoral yang jatuhnya saling menguntungkan kalangan sendiri. Sehingga etika yang ingin diwujudkan akan mandul selamanya dengan siklus krisis etika ini.

Sebuah Harapan untuk Menjadi Manusia Beretika
Harapan untuk memiliki etika pada alam dan lingkungan dapat terwujud apabila manusia mengikuti pola hidup yang positif seperti yang dilakukan manusia purba. Naluri yang ditumbuhkan merupakan murni untuk bertahan hidup. Konteks bertahan hidup yang dilakukan juga bukan atas dasar ketamakan dan keserakahan. Bertahan hidup yang dilakukan merupakan kunci saling menghargai antar makhluk yang mempunyai kebutuhan untuk hidup. Manusia secara individu harus menyadari etika positif ini akan jauh lebih baik apabila kita aplikasikan dengan konsisten. Berperan dalam hidup sehat dan menjadi pembelajar merupakan pokok dari mebangun etika positif itu sendiri.
Hidup sehat berarti menjaga pikiran, fisik dan jiwa untuk tetap sadar dalam melakukan dan menentukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan pola hidup dan lifestyle yang positif. Zaman yang maju saat ini sangat rentan dengan kebiasaan yang ingin serba instan tanpa melihat dampak dari kebiasaan itu sendiri, seperti menggunakan banyak plastik untuk membungkus makanan, minuman dan sebagainya karena berfikir lebih praktis dan efisien. Hal tersebut merupakan paradigma sederhana yang salah yang tumbuh di masyarakat. Apabila kita bisa mencari wadah yang dapat dipakai secara berkelanjutan dan bersifat permanen akan jauh lebih baik dan sehat. Wadah yang dapat digunakan terus menerus tersebut merupakan awalan sederhana untuk membangun etika positif terhadap lingkungan kita. Kegiatan tersebut terlihat sangat sederhana tapi memiliki urgensi yang yang tinggi dalam menyelamatkan dunia kita dari sampah plastik. Pemikiran sederhana tersebut menanamkan etika positif yang dapat tumbuh menjadi budaya apabila setiap lapisan masyarakat mendukung gerakan tersebut.
Manusia pembelajar merupakan manusia yang memiliki semangat dan kritis. Menjadi manusia pembelajar bukan terpatok menjadi kutu buku yang mengerti teori – teori rumit dan dapat membuat teori baru yang inovatif, tapi poin pentingnya teori tersebut dapat diaplikasikan dengan berkesinambungan dan secara realistis dapat digunakan dengan bijak. Manusia pembelajar manjadi kunci diri kita untuk menjadikan masa lalu sebagai memontum berharga untuk dipelajari kesalahan dan kekurangnya, menjadikan masa kini adalah momen mahal yang harus dipergunakan sebaik mugkin dan menjadikan masa depan sebagai ladang amal yang indah untuk anak dan cucu kita. Manusia pemberlajar akan menghargai sebuah proses yang dan tidak akan menyesali hasil yang akan didapatnya. Mereka yakin bahwa dengan belajar dari proses, mereka tidak akan melakukan kesalahan berulang kali. Sikap kritis dari manusia pembelajar memberikan energi positif untun tetap menghargai hidup dan kehidupan agar berjalan seimbang. Hal tersebut membuat manusia pembelajar menjadi output yang beretika dan mampu membawa alam dan lingkungan menjadi lahan belajar tanpa tendensi yang negatif.

Filosofi Pohon sebagai Pengingat Manusia yang Beretika
Saat ini semua manusia perlu menyadari etika bukannya hanya ditumbuhkan, tapi ditanam dan dipelihara dengan baik. Filosofi ini hampir sama dengan pohon. Apabila pohon itu ingin tumbuh dengan baik, sebagai manusia yang bertanggung jawab pada tanaman tersebut kita harus menanamnya dengan teknik yang benar. Setelah ditanam, pasti dilakukan pemeliharaan dengan menyiram tanaman tersebut dan melihat kondisinya apabila terjangkit hama maka kita harus beri tanaman itu pestisida alami agar hama tersebut mati, sehingga pohon dapat tumbuh dengan baik. Pada saat pohon itu sudah besar dan memiliki kualitas yang baik, manusia yang bertanggung jawab tersebut akan menerima hasil yang setimpal dari jerih payahnya. Sama halnya dengan etika apabila kita tanamkan etika yang baik dalam diri kita dan selalu konsisten untuk memelihara etika tersebut, semua hal baik akan terwujud dan akan lebih baik dari apa yang kita harapkan. Sudah sangat jelas, alam memberikan filosofi pemahaman secara tidak langsung kepada manusia bahwa mereka membutuhkan sesosok pemimpin yang mementingkan keseimbangan alam. Filosofi pohon menunjukan keterkaitan kita dengan alam sehingga menjadikan pribadi kita hidup beretika, sehingga sudah jelas bahwa alam sendiri yang megajarkan kita untuk beretika dan berperilaku semestinya, memanusiakan makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Esa.

Etika dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Alam 

Etika menjajikan keberhasilan individu manusia untuk bangkit dari tindakan yang kurang baik dan dapat merusak proses keberlanjutan sumber daya alam saat ini. Menerapkan etika yang didasari dengan kesadaran dan kebutuhan akan perbaikan memberikan intuisi baru dalam pengelolan sumber daya alam yang tergerus oleh tindakan yang tidak beretika. Etika seakan akan seperti penangkal racun yang bersarang dalam tubuh Stakeholder yang menjadi pemeran utama pelaku pengelolaan sumber daya alam. Kaum stakeholder yang beretika akan mengubah sebuah sistem secara  menyeluruh dengan menggunakan kemampuan teoritis dan praktisnya sebagai ladang kebaikan untuk menanam, memelihara sekaligus menghasilkan output yang tidak mudah kadaluarsa. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman yang serba ada ini tantangan yang dihadapi justru menjadi kelebihan tersendiri bagi Stakeholder yang memiliki etika hidup yang baik. Mereka akan terus mengembangkan sebuah inovasi teknologi, ilmu praktis maupun kebijakan yang mendukung kemaslahatan manusia.  Tantangan yang akan datang justru menjadi motivasi dan pembelajaran yang tak henti menjadi refleksi berfikir. Itulah salah satu kunci kesuksesan hidup beretika dengan alam.