HIDUP

Sebut saja aku Padi. Bapak dan emak menamai saya padi karena padi adalah sumber kehidupan dan saya lahir saat keluarga bapak panen padi. Di desa saya, mayoritas warganya bekerja sebagai petani. Di belakang desa saya ada sungai lebar yang selalu mengalir tenang, saya sering menangkap ikan bersama teman-teman disana. Om saya punya tambak ikan didekat sungai, untuk mengisi waktu luang saya, saya menjaga tambak ikan milik om saya. Lingkungan dimana saya tinggal sangatlah hijau, banyak tanaman, warganya bahagia karena tidak pernah gagal panen. Air disini sangat berlimpah, kami tidak pernah kekurangan air.

Tapi itu sudah 1 tahun yang lalu. Sekarang sungai dibelakang desa sudah berubah menjadi hamparan pasir dan batu. Mata air tidak muncul karna tertimbun olehnya. Banyak monster kuning terpakir diatasnya. Sawah bapak kering kerontang, tambak ikan milik om tidak ada airnya. Bahkan untuk mandi saya harus memakai air dari galon air mineral, yang berarti harus mengocek uang saku bapak. Karena mahalnya air gallon dan untuk menghemat uang, kami sekeluarga hanya mandi 2 hari sekali. Hawa dirumah sangat panas, pohon-pohon hijau dibantaran sungai dihabisi oleh monster kuning.

Beberapa hari yang lalu, ada 3 orang berbadan kekar mampir kerumah, pakaiannya seperti bos besar difilm-film yang dulu sering ditonton emak, sepatunya mengkilat, badannya wangi. Mereka memberi bapak 1 amplop putih, tapi bapak menolaknya. Lama-lama saya mengerti, air disungai hilang karena ulah si monster kuning. Suaranya menggelegar, tangannya bisa merusak 2 pohon besar sekaligus dalam sekali ayunan. Dulu saya takut mendengar suaranya, sekarang tidak lagi. Kata bapak itu hanya mesin yang dibuat manusia.

Saya tidak tahan lagi dengan keadaan ini. Sumber Daya Alam yang Tuhan berikan kepada saya dan warga desa milik bersama, bukan milik kalangan orang-orang kaya yang hanya bisa memupuk kekayaan tanpa melihat orang disekitarnya hidup susah, mereka mengambil sumber kehidupan kami begitu saja. Saya mengajak teman-teman saya melakukan aksi demo diepan para pihak berwenang agar membantu permasalahan kami ini. Dari dulu pihak berwenang hanya mengatakan “sabar-sabar” “baik, akan kami atasi” “akan saya konfirmasikan” tapi mana hasilnya? Saya sudah lelah menunggu jawaban yang tidak ada kepastiannya. Mereka tidak pernah peduli pada kita, dimata mereka kita adalah seonggok sampah yang tidak ada harganya. Saya marah! Bapak marah! Emak marah! Teman saya marah! Warga marah!

Semua yang Tuhan berikan kepada kami hilang seketika. Saya dan warga desa berusaha mengusir monster-monster kuning dan pengendaranya dari sungai kami. Saya menangisi alam kami, mereka sungguh tidak mempunyai hati, sangat serakah! Menghabiskan semuanya hanya untuk diri mereka sendiri, tidak mengingat anak-cucunya. Kelak anak-cucu kami tidak akan bisa melihat keindahan alam yang pernah Tuhan berikan. Maafkan kami Tuhan. Kami tidak bisa menjaga alam yang telah kau berikan kepada kami. Kami tidak bisa melindungi alam yang telah kau berikan secara berlebih pada kami. Maafkan kami ya Tuhan.

– Konflik dalam pengelolaan SDA –
Demo-Desa

Foto0698