Hukum Adat Pengelolaan Getah Damar Pinus oleh Masyarakat Krui Pesisir Barat Provinsi Lampung

Indonesia memang dikaruniai tuhan dengan sumber daya alam yang kaya. Bersama dengan sumber daya manusia, maka sumber daya alam merupakan milik ekonomi utama negara. Secara ilmiah dapat dikatakan bahwa sumber daya alam adalah semua unsur tata lingkungan biofisik yang dengan nyata atau potensial dapat memenuhi kebutuhan manusia, atau dengan perkataan lain sumber daya alam adalah semua bahan yang ditemukan manusia dalam alam, yang dapat dipakai untuk kepentingan hidupnya. Pengelolaan sumber daya alam dapat diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara dan memperbaiki sumber daya alam agar kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya.

Ada istilah bahwa manusia dapat memengaruhi alam, dan alam dapat memengaruhi manusia. Hal tersebut sangat jelas bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya alam disebabkan oleh manusia, banyak sekali adat istiadat di Indonesia yang menerapkan bersatu dengan alam sebagai bukti bahwa sesungguhnya manusia dapat hidup sejahtera dengan mengelola sumber daya normal dan sesuai kaidah (tidak berlebihan).

Adat istiadat adalah kaidah di masyarakat yang dianggap sakral dan berhubungan dengan tradisi masyarakat serta dilakukan secara turun temurun. Adat istiadat merupakan hukum yang tumbuh, berkembang, hidup dalam masyarakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Peran Adat Istiadat Masyarakat Krui dalam Pengelolaan Getah Damar Pinus

Krui sebagai daerah pesisir yang terletak di Kabupaten Pesisir Barat berpotensi tinggi untuk pariwisata pantai. Keindahan pantainya yang sangat alami membuat banyak wisatawan mancanegara berkunjung untuk menyaksikan betapa indahnya alam pantai yang disajikan di daerah Krui. Namun terlepas dari keindahan alam pantainya, masyarakat krui mempunyai cara yang unik untuk pengelolaan getah Damar Pinus yang merupakan salah satu komoditi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Damar Pinus (Shorea javanica) telah diolah di Krui sejak bertahun-tahun. Para penguasa Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik.

Hingga saat ini, masyarakat Krui terus melindungi pohon Damar Pinus yang merupakan warisan dari nenekmoyang mereka. Pohon Damar Pinus berjejer indah menghiasi daerah bukit di wilayah pesisir. Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan Damar Pinus mempunyai hukum adat yang bertujuan untuk melindungi Damar Pinus. Setiap orang yang melakukan penebangan pohon Damar Pinus adalah tindakan pelanggaran hukum, dan apabila ada masyarakat yang melakukanya maka akan dihukum untuk menanam pohon Damar Pinus yang baru.

Uniknya dari masyarakat Krui dalam menjaga pohon tersebut adalah setiap calon pengantin harus menanam pohon Damar Pinus sebelum menikah, sebeb menanam pohon Damar Pinus merupakan syarat wajib untuk semua masyarakat Krui jika hendak melangsungkan pernikahan. Beberapa masyarakat Krui percaya bahwa mereka bisa berkomunikasi (bicara) dengan pohon Damar Pinus tersebut dan bahkan selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada anak-anak mereka, “jika kamu butuh uang untuk membayar biaya sekolah anak-anakmu, maka berbicaralah dengan pohon Damar”.

Dan sekarang banyak orang Krui telah sukses dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sejak orang tua mereka membudidayakan Damar Pinus, artinya status sosial mereka meningkat akibat dari hasil pengelolaan getah pohon Damar Pinus. Pohon Damar Pinus adalah sumber utama pendapatan bagi masyarakat Krui. Setiap minggu, para petani mengumpulkan getah dan apabila sudah cukup banyak  mereka akan menjualnya ke pengumpul.

Selain sebagai media resapan air, pohon damar pinus juga berfungsi sebagai daerah penyangga bagi upaya konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Pada tahun 1997, Pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada masyarakat krui, atas komitmen mereka terhadap kelestarian Damar Pinus melalui hukum adat.

Dalam pengelolaan sumber daya alam akan berhasil apabila adanya dukungan dari pemerintah dan kebudayaan setempat, sebab dukungan pemerintah saja tidak akan cukup untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya alam. Kehidupan dengan keserasian antara manusia dengan alamnya akan membuat kesejahteraan berlangsung lama dan juga akan munculnya keseimbangan yang baik. Saat ini Indonesia sangat membutuhkan partisipasi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sumber daya alam agar Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi dan keterpurukan karakter.

ditulis oleh Dyah Nawang Wulan

Daftar Referensi

Katili. 1993. Sumberdaya Alam Untuk Pembangunan Nasional

Artha Dinata. 2009. https://arthaliwa.wordpress.com/2009/06/24/damar-dan-cara-masyarakat-krui-melestarikan-lingkungan-hidup/ (diakses pada, 08 Desember 2015 pukul 12.45)