Hutan Desa Sumur Kumbang, Potret Kegigihan Warga dalam Pelestarian Alam

gunung rajabasa, pengelolaan hutan
Pesona Gunung Rajabasa

“Apapun skemanya, yang penting kami bisa makan!” ujar salah seorang warga pengelola hutan desa di Register 3 Gunung Rajabasa, Lampung Selatan.

Yang penting warga bisa makan dan mempertahankan hidup dari hari ke hari. Sesederhana itu. Bukan hanya warga sekitar Gunung Rajabasa, bahkan semua warga pengelola hutan. Mereka hanya mendambakan ketenangan dalam melakukan pengelolaan.

Hutan Gunung Rajabasa adalah salah satu kawasan hutan lindung seluas 5.160 hektar yang berada di Selatan Propinsi Lampung yang kondisinya dinilai masih terjaga dengan baik. Hal ini tak luput dari peran warga sekitar yang menggantungkan hidupnya dari hari ke hari pada sumberdaya alam yang tersedia di hutan.

Setidaknya ada 22 desa di kaki Gunung Rajabasa yang warganya kerap diliputi ketakutan terhadap polisi hutan dan dihantui status sebagai perambah. Padahal mereka telah menerapkan pola pengelolaan hutan lestari yang diwariskan oleh para leluhurnya. Mereka hanya tak punya izin kelola sebagai legalitas status mereka di kawasan hutan. Dengan segala potensi sumber mata air, panas bumi, hingga hasil hutan non kayu yang telah menjadi tumpuan hidup warga tentu sangat disayangkan jika potensi tersebut justru membuat warga pengelola terus dihantui status sebagai perambah.

Staff Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Rajabasa, Iqbal Amiruddin Ihsanu, S. Hut menuturkan bahwa KPHL Rajabasa baru terbentuk pada 2011 silam. Pembentukan KPHL ini berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 367/Menhut-II/2011 tanggal 7 Juli 2011 tentang Penetapan Wilayah KPHL Model Rajabasa (Unit XIV) Seluas 5.160 hektar.Pemerintah memandang perlu mengakomodasi kepentingan warga yang bersikukuh ingin meneruskan pengelolaan kawasan hutan. Sebelumnya hanya ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan pendampingan warga di sekitar hutan. Sebut saja Walhi Lampung dan Wanacala yang hingga kini masih terus mengawal proses pembentukan hutan desa seluas 2.197 hektar di empat kecamatan.

Fasilitasi pendampingan warga dalam pengajuan izin hutan desa (Foto: KPHL Rajabasa)
Fasilitasi pendampingan warga dalam pengajuan izin hutan desa (Foto: KPHL Gunung Rajabasa)

Proses ini diawali dengan kegiatan studi banding oleh perwakilan warga Desa Sumur Kumbang, Padan dan Jondong ke Register 19 Gunung Betung yang dilakukan oleh dinas terkait. Di sana, warga telah lama melakukan pengelolaan melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Sistem Hutan Kemasyarakatan (SHK). Sejak saat itu, warga tertarik untuk memperjuangkan skema pengelolaan bagi warga di sekitar kawasan Register 3 Gunung Rajabasa.

Tak membutuhkan waktu lama, pada 2014 silam Kementerian Kehutanan menerbitkan Penetapan Areal Kerja (PAK) Hutan Desa di 22 Desa di sekitar kawasan Hutan Gunung Rajabasa. Menurut keterangan Iqbal, ada 5 desa yang diprioritaskan untuk diajukan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD). Sumur Kumbang, Padan dan Jondong adalah desa yang telah menyusun perizinan dan telah diajukan HPHD-nya kepada gubernur. Harapannya, awal tahun depan Bupati Lampung Selatan akan telah mengeluarkan izin tersebut.

“Dari keseluruhan desa, Sumur Kumbang memang salah satu desa yang warganya berpartisipasi aktif, kompak dan bersemangat dalam penyusunan persyaratan hutan desa,” tutur Iqbal.

Tradisi dan Hutan Lestari

Sumbur Kumbang berada di kaki Gunung Rajabasa yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Kota Kalianda. Desa yang dihuni oleh kebanyakan keturunan Suku Sunda ini merupakan titik awal favorit untuk pendakian GunungRajabasa. Terlebih di sana ada komunitas pecinta alam Rimba Selatan yang juga sangat aware dengan permasalahan lingkungan, bukan sekedar memfasilitasi para pendaki semata.

Sebenarnya Gunung Rajabasa tidak terlalu tinggi, hanya 1.200 mdpl, namun butuh perjuangan ekstra untuk sampai ke puncaknya. Untuk bisa mencapai puncak, pendaki harus ditemani oleh warga agar tidak tersesat. Jalan-jalan rintisan ke kawasan kelola warga sebelum mencapai rimbunnya pepohonan di hutan dengan lumut-lumut khas bisa saja mengecoh dan menyesatkan para pendaki.

Potensi air terjun GUnung Rajabasa
Potensi air terjun Gunung Rajabasa

Puncaknya pun hanya berupa dataran berumput dengan kawah yang dapat ditemui dengan menuruni lembah. kawah yang diperkirakan merupakan letusan pada abad ke-20. Kawah yang hanya berupa rawa dengan sebongkah batu di tengahnya itulah yang menjadi daya tarik tersendiri Gunung ini. Batu cukup, sebutannya. Karena meski kecil, batu tersebut konon cukup menampun berapapun orang yang duduk di atasnya.

Untuk mencapai puncak kawah, diperlukan waktu sekitar 8 jam dengan melewati 4 pos pendakian. Mata air yang jernih ditemui hingga Pos 1 yang juga menjadi sumber air bersih bagi warga sekitar. Ini sebagai bukti bahwa Gunung Rajabasa mengemban fungsi ekologi yang sangat vital bagi kehidupan warga tak hanya di kaki gunung, tetapi lebih jauh daripada itu. Setidaknya 4 kecamatan dan 39 desa menggantungkan hidupnya dari kelestarian Hutan Gunung Rajabasa. Bukan sekedar ancaman bencana alam yang menghantui, tapi juga kelaparan dan kemiskinan akan terjadi jika warga sekitar gagal melakukan pelestarian kawasan.

Berdasarkan penuturan Abah Santika, salah seorang tetua di Desa Sumur Kumbang, leluhurnya memang mengajarkan untuk tidak menebang pohon di hutan. Hal ini diperkuat oleh beberapa kebiasaan dan pantangan yang dianut oleh warga Sumur Kumbang.

“Ada aturan nggak boleh membawa pulang kayu dan nebang pohon untuk bikin rumah setelah jam 12 siang,” kata Abah Santika.

Dulja’ah, Ketua Hutan Desa Sumur Kumbang menambahkan bahwa warga juga tidak boleh mematahkan ranting menggunakan tangan. Mereka juga sangat peduli dengan komposisi tanam tumbuh dalam hutan. Meskipun mereka menanam kakao, kopi, petai,dan sebagainya, mereka juga menanam beberapa jenis tanaman kayu.

Warga Desa Sumur Kumbang menyadari bahwa alam sangat berjasa bagi kehidupan mereka. Oleh karenanya mereka selalu menggelar kegiatan ruwat bumi yang dikenal sebagai tradisi peperahan. Tradisi ini diadakan setiap Bulan Muharram yang diawali dengan ritual pembacaan silsilah keturunan leluhur dan puji-pujian setiap kamis selepas ashar selama enam minggu. Sementara peperahan digelar pada Hari Jumat setelah minggu keenam.

Tradisi peperahan merupakan pesta rakyat yang mengundang segenap birokrat, tetua adat, pimpinan di desa-desa tetangga, hingga tamu-tamu warga sipil baik itu para pecinta alam hingga LSM. Aktivitas warga dimulai sejak matahari belum lagi keluar dari peraduannya, mulai dari aktivitas memasak bersama hingga mempersiapkan kegiatan makan bersama sebelum sholat jumat.

peperahan
Peperahan, tradisi tahunan ruwat bumi di Desa Sumur Kumbang (Foto: Hermansyah Walhi Lampung)

Uniknya, makanan ditaruh di atas daun pisang sepanjang jalan desa. Meski puncak acara dilakukan di masjid Desa Sumur Kumbang, tapi makanan tersebut disediakan hingga sepanjang 1 km di tengah jalan. Tak boleh ada warga yang membawa pulang makanan tersebut kecuali untuk makanan ternak. Tak boleh ada makanan yang disimpan. Mereka menyebutnya pamali. Artinya, tidak ada keegoisan dalam diri masing-masing warga untuk mendapatkan banyak jatah makanan. Semua sama rata karena mereka makan bersama di tengah jalan.

Peperahan dan tradisi lain di Desa Sumur Kumbang mampu memupuk kekompakan warga dalam segala hal. Termasuk dalam menjaga hutan. Setidaknya itulah pengakuan Saptu dan Jambra, warga yang juga aktif memperjuangkan akses kelola warga melalui hutan desa.

“Dari dulu di sini emang kalo ada yang nebang pohon enggak izin dulu langsung dikasih peringatan. Kalo bandel ya dilaporin Polhut!” kata Jambra dengan logat Sundanya yang kental.

Lain lagi penuturan para perempuan-perempuan di Desa itu. menurut mereka, hutan adalah kehidupan. Sampai sekarang, Desa Sumur Kumbang tidak pernah dilanda banjir. Berbada dengan desa lain di kaki gunung. Hutan itu telah memberikan jengkol, petai, melinjo, durian, kakao, dan segalanya sehingga warga bisa makan dan anak-anak mereka bisa bersekolah. Sudah sewajarnya jika warga sangat menghormati hutan dan menggelar sedekah atau ruwat bumi setiap tahunnya sebagai tanda bersyukur kepada Tuhan atas limpahan sumber daya alam yang luar biasa.

Setidaknya, Sumur Kumbang merupakan potret harapan warga desa lainnya yang terus berupaya untuk diakui peran sertanya dalam menjaga alam sekitarnya. Diberikan ruang untuk meneruskan mandate dari leluhur mereka demi kelangsungan ketenangan anak cucu kita. Nyaris dua tahun mereka menunggu izin gubernur dan bupati mempertegas status hutan desa mereka.

Diakui oleh Iqbal, tutupan hutan Gunung Rajabasa memang tergolong masih baik dibandingkan lokasi-lokasi lainnya di Lampung. Untuk itu pula pihaknya terus berupaya agar warga segera mendapatkan legalitas akses hutan desa dari bupati dan Gubernur. Kerjasama dengan pihak lain pun terus dilakukan. Salah satunya adalah pembentukan lahan percontohan untuk pembibitan damar mata kucing unggul di Desa Banding. Meski baru seluas 5 hektar dan bukan untuk tujuan penyadapan, namun harapannya upaya ini akan semakin memicu semangat warga dalam melakukan pengelolaan meski status hutan desa baru sebatas ditetapkan sebagai areal kerja.