HUTAN TANPA ASAP

HUTAN TANPA ASAP

Musibah asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan dan beberapa daerah lain di bulan September hingga Oktober 2015 yang mengakibatkan korban jiwa membuktikan bahwa kita tak berdaya mengahadapinya. Banyak orang hanya bisa menyalahkan pemerintah karena dianggap lambat menghentikan asap. Padahal, asap itu merupakan akumulasi kesalahan beberapa pihak yang berlangsung puluhan tahun. Asap itu merupakan buah perbuatan anak-anak bangsa yang tidak menyadari bahwa hutan merupakan sumber kehidupan semua orang, bahkan semua makhluk hidup membutuhkan jasa hutan. Pemerintah baru-baru ini mengundang para pakar gambut dari seluruh dunia untuk membahasnya. Padahal, orang yang mengetahui persis persoalan adalah masyarakat lokal. Lalu, apa pokok persoalan tragedi asap yang memprihatinkan itu?.

Tahun 2000 dalam sebuah diskusi, seorang aktivis gereja menanyakan saya, apa pendapat abang ketika seorang pejabat kehutanan memiliki ribuan hektar sawit dan di tengah lahan sawit itu dibangun rumah ibadah?. Pemilik sawit itu sangat serius melayani umat dan sangat kelihatan saleh. Pejabat itu dikenal sangat religius?. Sebagai orang yang tidak belajar ilmu kerohanian yang hanya belajar ilmu lingkungan saya cukup sulit untuk menjawabnya.

Saya mengatakan bahwa di Fakultas Kehutanan dikenal istilah rimbawan. Rimbawan itu artinya ahli hutan dan pecinta hutan. Ahli hutan sejatinya pecinta hutan. Ketika seorang Pegawai Negeri Sipil menjadi ahli hutan harus jugalah mencintai hutan. Menjaga hutan agar tidak dialihfungsikan. Pejabat negara di kehutanan tugasnya menjaga hutan bukan memiliki hutan. Bagaimana pejabat kehutanan menjaga hutan sementara dia sudah memiliki hutan untuk memperkaya diri sendiri?. Dimana letak religiusnya?. Mencintai lingkungan merupakan bagian dari kehidupan spiritual karena mencintai lingkungan bagian dari kesadaran akan fungsi alam bagi kehidupan.

Rimbawan yang ahli hutan dan mencintai hutan harus bangga hidup sederhana untuk menyelamatkan hutan. Ahli hutan dan pecinta hutan menyadari betul bahwa hutan sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Menyadari bahwa hutan berfungsi sebagai : a. Sebagai paru-paru dunia; b. Sumber ekonomi; c.habitat bagi flora dan fauna; d. Tempat penyimpanan air; e. Pengendali bencana; f. Menyuburkan tanah; h. Mengurangi polusi dan pencemaran udara. Jika dipahami betapa pentingnya fungsi hutan bagi kehidupan maka seorang rimbawan harus berani mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan hutan, bukan memiliki hutan atau merusak hutan demi kepentingan pribadi dan golongan.

Dalam konteks hutan tahun 1990-an, seolah-olah kebodohan atau kemunafikan jika seorang pegawai kehutanan tidak kaya raya karena banyaknya kayu yang akan dijual dan setelah kayu dijual maka lahan itu dijadikan perkebunan, khususnya sawit. Jika kita lintas Sumatera maka kita akan melihat perkebunan sawit sepanjang jalan. Era tahun 90-an pegawai kehutanan seperti di Provinsi Riau identik dengan kaya raya. Banyak berlomba masuk pegawai kehutanan untuk tujuan kaya raya. Inilah gambaran pegawai kehutanan selama puluhan tahun. Jadi, kita tak perlu heran jika akumulasi ketamakan itu berbuah asap yang mengakibatkan tragedi asap yang menelan jiwa itu.

Di Fakultas Pertanian, penelitian paling bergengsi adalah penelitian tentang kelapa sawit. Betapa bangganya seorang peneliti jika penelitiannya meningkatkan produksi sawit di lahan gambut. Hampir tidak dipertimbangkan resiko gambut terbakar. Bahkan dibakar sendiri. Penelitian ketika itu hanya untuk peningkatan produktivitas atau hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan resiko lingkungan. Sementara, masyarakat kita mengenal produk pertanian dan peternakan dari Bangkok. Sebutlah ayam Bangkok, lele jumbo, ikan patin, jambu Bangkok dan berbagai macam produksi serba Bangkok. Padahal, sejatinya kita dapat melakukan hal yang sama bahkan lebih baik untuk menjawab kebutuhan masyarakat kita. Perguruan Tinggi juga terjebak dengan produksi yang disebut primadona karena menghasilkan uang yang banyak.

Revolusi Mental untuk Mengutamakan Lingkungan.

Tragedia asap harus kita jadikan menjadi titik balik paradigma pembangunan kita. Teriakan-teriakan untuk diversifikasi pertanian mutlak dilakukan. Jika tidak, tragedi yang lebih parah akan muncul. Resiko pertanian monokultur seperti lahan sawit   sangat tinggi seperti timbulnya penyakit. Bayangkan, andaikan muncul penyakit sawit suatu ketika maka dari ujung ke ujung pulau Sumatera dan Kalimantan akan kena penyakit maka resikonya teramat tinggi. Begitu juga resiko harga, jika harga sawit anjlok maka jumlah rakyat yang tergantung terhadap harga sawit terlalu banyak. Hal itu akan mengganggu perekonomian nasional. Resiko lain yang teramat penting adalah resiko ekosistem yang terganggu. Tanaman monokultur akan merusak keanekaragaman hayati (biodiversity). Suka atau tidak suka, tumbuh tidaknya ekonomi bahwa pertimbangan ekosistem harus menjadi pertimbangan utama. Mengutamakan lingkungan dalam kebijakan memang memperlambat pertumbuhan ekonomi jika dilihat dari angka-angka. Tetapi keberlanjutan kehidupan hutan dan manusia terjamin. Dari kasus tragedi asap sejatinya menyadarkan kita sesadar-sadarnya bahwa pertumbuhan ekonomi secara angka tidak ada arti ketika tragedi asap itu muncul.

Jadi, tindakan utama yang dilakukan pemerintah agar tidak terjadi tragedi asap adalah mengevaluasi kembali makna rimbawan bagi pegawai kehutanan. Jika tidak paham dan tidak mau menjalankan makna rimbawan untuk kepentingan hutan lebih baik mencari profesi lain. Hal ini amat penting mengingat dinas kehutanan di daerah menjadi perisai untuk menyelamatkan hutan. Pemerintah yang tidak paham fungsi hutan akan memberikan izin secara sembrono. Ibarat Surat Izin Mengemudi (SIM) diperoleh dari calo akan memunculkan kendaraan ugal-ugalan dijalanan. Izin mengelola hutan diberikan kepada para manusia tamak.

Kemudian, diversifikasi pertanian harus segera dilakukan untuk menyiasati resiko ekosistem. Jika ekosistem rusak, hidup kita merana tanpa makna. Asap tidak akan terjadi jika pemerintah dan masyarakat memahami fungsi hutan sebagai sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup. Manusia dan makhluk hidup lain saling membutuhkan.

Hal penting lain yang harus dilakukan adalah membuat regulasi yang menyebut bahwa setiap pemilik lahan bertanggung jawab atas lahannya masing-masing. Ibarat pemilik rumah menjaga rumahnya masing-masing. Tidak ada alasan bahwa api yang ada di lahan pemiliknya bersumber dari lahan milik orang lain. Semua pemilik lahan harus bertanggungjawab atas lahannya. Dan, luas lahan kepada individu dan korporasi pun harus dibatasi. Ditambah pula sistem pengawasan yang ketat. Utamanya, pengawasnya adalah rimbawan sejati. Jika semua bertanggungjawab menjaga lahan masing-masing maka hutan kita bebas tanpa asap.