Kearifan Lokal Merabu sebagai Pagar Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Kampung Merabu adalah sebuah desa yang berada di jantung Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimtan Timur. Kampung Merabu memiliki luas wilayah 22.000 ha dengan 40% (12.200 ha) wilayah merupakan hutan produksi dan 60% merupakan hutan lindung. Hutan lindung terdiri atas 10.800 ha merupakan hutan dan 7.500 ha merupakan kawasan karst. Kampung Merabu merupakan wilayah daratan (daerah pemukiman, perkebunan dan pertanian, hutan, dan kawasan Karst) yang dialiri oleh Sungai Lesan dan Sungan Bu.

Masyarakat Kampung Merabu mayoritas terdiri atas warga lokal dan sebagian warga pendatang. Warga Lokal adalah suku asli Dayak Lebo yang merupakan keturunan dari suku Dayak Basap. Tampilan fisik suku Dayak Lebo adalah kulit sawo matang, rambut hitam, dan postur tubuh tidak jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Nenek moyang Dayak Lebo bukanlah suku dayak yang hidup berpindah-pindah (nomaden). Suku Dayak Lebo sudah hidup dalam perkampungan dengan rumah menyerupai pondok-pondok sederhana yang terbuat dari kayu. Suku Dayak Lebo lebih sering bertahan di perkampungan daripada menyerang suku lain pada masa lampau. Oleh sebab itulah mereka dinamakan Dayak Lebo , Lebo berarti rumah.

Kehidupan masyarakat Merabu begitu dekat dengan hutan. Mereka memanfaatkan jasa hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kayu bakar, madu, sarang walet, rotan, guano (kotoran kelelawar) dan hewan buruan adalah sedikit dari hasil hutan yang diperoleh masyararakat untuk kehidupan mereka. Akses yang jauh dari perkotaan membuat mereka masih sangan bergantung dengan hasil hutan tersebut. Masyarakat Merabu masih bisa dikatakan memiliki karakteristik masyarakat zaman dahulu, yaitu berburu dan meramu. Mereka masih sangat mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhan protein, yaitu dari hewan buruan dan memancing di sungai. Pembedanya adalah mereka tidak lagi tinggal berpindah-pindah dan mulai mencoba bercocok tanam, seperti sayuran dan tanaman perkebunan.

Ketergantungan masyarakat terhadap pentingnya hutan bagi kehidupan membuat mereka melakukan upaya-upaya konservasi terhadap hutan mereka. Upaya untuk menjaga kelestarian hutan dan hasil hutan. Masyarakat memiliki sistem tersendiri dalam mengelola hasil hutan. Untuk itu, mereka membentuk sebuah lembaga masyarakat desa yang disebut Kerima Puri. Kerima Puri merupakan lembaga lokal yang berperan dalam menjaga kelestarian hutan dan karst Merabu. Lembaga lokal ini terbentuk atas inisiatif masyarakat dengan difasilitasi oleh The Nature Conservancy (TNC). Kerima Puri membagi peran masyarakat dalam menjaga dan mengelola hutan. Ada kelompok yang bertugas untuk mengelola hasil hutan kayu, madu, air, berkebun, dan lain-lain. Kerima Puri dikepalai oleh Pak Asrani, mantan Kepala Desa Merabu.

Masyarakat Merabu tidak begitu saja mengambil semua hasil hutan. Ada aturan-aturan yang tercipta dalam masyrakat dalam mengelola hasil hutan. Salah satu contoh adalah kegiatan berburu dan memancing masyarakat Merabu hanya dilakukan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, hewan buruan dari hutan tidak diperjualbelikan oleh masyarakat, baik diluar ataupun didalam kampung sendiri.

Contoh lainnya adalah pemanfaatan madu hutan. Madu adalah salah satu sumber penghidupan masyarakat Merabu untuk menghasilkan uang. Mereka menjual madu yang diperoleh dari hutan, murni tanpa campuran dan olahan apapun. Madu dperoleh bukan dengan diperas, melainkan dibiarkan menetes untuk menjaga kualitas madu. Hasil hutan yang bernilai ekonomi tinggi ini tdak serta merta membuat masyrakat memproduksinya dalam jumlah besar untuk mendapatkan untung yang sebersar-besarnya pula.

Pemanenan madu adalah salah satu hal yang sacral di Kampung Merabu. Berbagai upacara harus dilalui dalam rangka pemanenan madu. Kegiatan ini pun hanya dilakukan satu kali dalam setahun, yaitu saat bulan baru di malam hari. Kondisi ini adalah malam tergelap dalam setahun. Hanya pada saat itulah para pemanen madu boleh memanjat pohon madu dan memanennya. Awalnya, metode ini adalah upaya untuk mengurangi kemungkinan pemanjat disengat oleh lebah sehingga madu hanya boleh dipanen pada hari tergelap dalam setahun. Namun budaya ini kemudian menjaga cara masyarakat Merabu untuk menjaga kelestarian hutan dan tidak mengeksploitasi hasil hutan dengan berlebihan.

madu merabu

Gambar 1 Madu Merabu dalam kemasan, siap dipasarkan

Satu lagi contoh upaya pelestarian hutan yang dilakukan masyarakat Merabu adalah program adopsi pohon. Program adopsi pohon ini mengajak orang-orang dari luar Kampung Merabu untuk mengenal alam di Kampung Merabu. Kegiatan ini dimulai dari inisiatif The Nature Conservancy (TNC) sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mendampingi Kampung Merabu sebagai kampung rendah emisi karbon dalam program REDD+. Sebagai salah satu bentuk kepedulian pengunjung Kampung Merabu terhadap kelestarian alam Indonesia, seseorang dapat berpartisipasi dengan cara mengadopsi pohon di sana.

Pengunjung dapat mengadopsi sebuah pohon yang dipilihnya sendiri di hutan Kampung Merabu dengan biaya kontribusi yang akan digunakan untuk pengelolaan dan pelestarian hutan Kampung Merabu. Biaya yang ditetapkan untuk wisatawan asing berbeda dengan wisatawan lokal. Untuk wisatawan lokal ditetapkan biaya kontribusi untuk satu pohon adalah Rp 500.000,-/pohon/tahun dan wisatawan asing adalah 1.500.000,-/pohon/tahun. Pohon yang telah diadopsi bukan berarti pengadobsi memilikinya dan bisa menebangnya, namun hanya sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga tetap adanya pohon tersebut. Semakin banyak pohon yang diadopsi, maka semakin besar pelindungan masyarakat terhadap pohon-pohon di hutan Kampung Merabu. Peraturan pengadopsian pohon ini dibuat oleh masyarakat Merabu sendiri.

Adopsi Pohon oleh LAWALATA IPB, Juli 2014

Gambar 2 (Ki-Ka) Aziz, Ndel, Hendri, Ve berpose di depan pohon yang diadopsi oleh LAWALATA IPB, Juli 2014

Masyarakat Merabu memahami akan pentingnya menjaga dan melestarikan hutan dan alam sekitarnya. Karena alam adalah sumber kehidupan. Kearifan lokal yang dipelihara sejak turun temurun menjadi salah satu pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan. Tentang bagaimana menjaga kelarasan hidup dengan alam. Budaya yang tidak lekang oleh waktu dan tidak terhapuskan oleh globalisasi menjaga masyarakat Merabu tetap hidup harmonis dengan alam. Hal ini bisa menjadi cermin bagi kita dalam menjalani kehidupan. Bercermin dari masyarakat Merabu untuk kelestarian alam Indonesia yang lebih baik lagi.

Adalah kesepakatan bersama bagi masyarakat Merabu untuk menjaga kelestarian hutan.

Salam dari Kampung Merabu, Kampung Asik.