Kehidupan dalam Gelap untuk Menjaga Kelestarian Kawasan Karst

Salah satu daya tarik dari sebuah gua adalah kehidupan yang ada didalamnya. Kondisi lingkungan gua yang gelap, lembab, dan dingin membuat tidak semua makhluk hidup mampu bertahan didalamnya. Tidak banyak tumbuhan yang bisa hidup di dalam gua, karena ketiadaan sinar matahari, tetapi hewan-hewan didalam gua menemukan sumber energy lain yang dimanfaatkannya untuk bertahan hidup. Ada perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri makhluk hidup untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan gua. Perubahan-perubahan ini menciptakan keanekaragaman spesies baru yang kemudian jenis-jenis hanya ditemukan di dalam gua.

Gua Lubang Tembus dan Gua Sedepan Bu di Kampung Merabu menyimpan keanekaragaman biota gua. Biota yang banyak ditemukan di Gua Tembus dan Sedepan Bu adalah jangkrik gua dari famili Raphidophoridae. Jangkrik ini dapat ditemukan di setiap jengkal, mulai dari dinding, atap, dan terutama lantai gua. Jangkrik gua yang ditemukan berwarna coklat dengan corak putih pucat. Jangkrik ini masih memiliki mata dengan panjang tubuh sebesar 1.2 cm dan panjang antena sebesar 11.6 cm (10 kali panjang tubuh). Antena yang sangat panjang merupakan bentuk adaptasi jangkrik terhadap lingkungan gua yang gelap dan merupakan ciri khusus dari jangkrik gua famili Raphidophoridae.

Jangkrik gua mengalami modfikasi morfologi, salah satu yang paling mencolok adalah antenanya yang sangat panjang,

Jangkrik tersebar merata di sepanjang lantai gua mulai zona gelap hingga terang. Hal tersebut terjadi karena lantai gua tertutupi oleh guano (kotoran kelelawar). Guano ini memiliki butiran tanah yang lembut seperti pasir dan merupakan sumber makanan bagi jangkrik gua. Jangkrik gua di Gua Sedepan Bu lebih sedikit dibandingkan di Gua Tembus. Berbeda dengan Gua Tembus, guano di lantai Gua Sedepan Bu tidak menutupi seluruh permukaan lantai. Lantai Gua Sedepan Bu juga basah karena adanya aliran Sungai Bu. Hal ini menyebabkan jumlah jangkrik gua di lantai Gua Sedepan Bu tidak sebanyak di Gua Tembus.

Laba-laba juga banyak ditemukan di Gua Tembus dan Sedepan Bu. Laba-laba umumnya ditemukan di dinding gua dalam ukuran yang besar berkisar 1-17 cm. Laba-laba ini berwarna hitam. Keempat pasang tungkainya bercorak hitam dan coklat belang. Mata laba-laba ini bercahaya dalam gelap sehingga mudah ditemukan. Hewan lain yang ditemukan adalah Diplopoda yaitu arthropoda yang memiliki dua pasang kaki di setiap ruasnya. Diplopoda ditemukan di dinding dan lantai gua. Diplopoda yang ditemukan umumnya berwarna putih hingga abu-abu dengan panjang tubuh berkisar 3–10 cm.

Laba-Laba diatas telurnya

Gua Sedepan Bu menjadi rumah bagi Amblypygi atau kalacemeti dari spesies Sarax sp.. Sarax sp. adalah spesies amblyphygi yang hanya ditemukan di pulau Kalimantan. Amblypygi hidup bersembunyi dibalik batuan dan di dinding-dinding gua, sehingga terkadang sulit untuk menemukannya. Arthopoda ini bergerak sangat cepat apabila merasa terganggu. Ukuran individu betina sedikit lebih kecil dari individu jantan. Amblypygi betina memiliki panjang 12 mm, sedangkan Amblypygi jantan memiliki panjang 15 mm. Amblypygi diketahui memiliki masa hidup yang relatif lama. Waktu yang dibutuhkan untuk siap reproduksi adalah 1-2 tahun. Waktu reproduksi menjadi dua kali lipat lebih lama jika suhu lingkungannya < 26 °C (Rahmadi 2010). Hal ini menyebabkan jumlah Amblypygi sangat sedikit di alam.

Sarax sp. adalah Arthropoda dari famili Charinidae dibawah mikroskop stereo dengan perbesaran 0.8x

Arthropoda dari famili Scutigeridae juga ditemukan di Gua Sedepan Bu. Disini ditemukan Scutigeridae dengan dua jenis warna. Scutigeridae dengan tubuh berwarna ungu dan ukuran yang kecil (sekitar 2 cm). Scutigeridae yang berwarna hitam-kuning memiliki ukuran lebih besar (15-20 cm). Hewan akuatik yang ditemukan di gua ini adalah ikan lais. Spesies ini dapat ditemukan di sepanjang aliran Sungai Bu. Panjang tubuhnya berkisar 20-15 cm. Warna tubuh kuning pucat, sirip anal sedikit transparan dibandingkan dengan tubuhnya, memiliki sungut dan masih memiliki mata.

Gua Tembus dan Sedepan Bu masih dipenuhi oleh kelelawar sehingga salah satu sumber energi dalam gua ini berasal dari kotoran kelelawar. Sejak dahulu gua ini menghasilkan sarang walet, banyak ditemukan bulu walet di lantai gua. Di zona terang Gua Lubang Tembus masih ada tangga kayu yang dahulu digunakan masyarakat Merabu untuk memanen sarang walet dari dinding dan atap gua. Sekarang kedua gua ini sudah tidak lagi aktif menghasilkan sarang walet. Beberapa ekor walet ditemuan dalam Gua Sedepan Bu, namun kami tidak menemukan sarangnya.

Banyaknya jumlah dan keragaman biota yang ditemukan menunjukan kelestarian dari kedua gua ini. Biota-biota ini menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem yang tercipta dalam gua berjalan dengan baik. Kehidupan di dalam gua menjadi indikator bahwa gua tersebut masih hidup dan tumbuh berkembang. Ekosistem ini kemudian menjaga kawasan endokarst tetap lestari. Menjaga kelestarian biota dalam gua mejadi salah satu cara untuk menjaga kelestarian kawasan karst sehingga kawasan ini dapat menjalankan peran ekologisnya sebagai wilayah resepan air dengan baik.