kekayaan bukan musibah

Kekayaan bukan musibah

Indonesia, suatu negara yang kaya akan hasil alam yang melimpah ruah diseluruh jajaran barisan pulaunya. Bahkan banyak Negara lain yang iri terhadap kekayaan alam yang terdapat di Indonesia. Salah satu julukan Negara lain terhadap negeri kita ialah “macan Asia yang tidur”. Mengapa disebut demikian, jika masyarakat Indonesia mampu mengolah semua kekayaan yang ada tersebut, Indonesia dapat menjadi Negara yang berpotensi besar menjadi negeri adidaya. Terutama di asia. Indonesia juga kerap disebut sebagai “heaven earth”. Betapa besarnya anugerah tuhan yang maha esa diberikan kepada negeri kita ini walaupun terkadang kita jarang menyadarinya. Tidak mencakup pada kekayaannya saja, Indonesia juga terkenal dengan keindahan alam yang terdapat disetiap sudut jendela negeri ini, keindahan yang sangat memanjakan pesona alam nan surga dunia.

Menurut Bank Dunia, Kekayaan hayati Indonesia seperti hutan, luasnya yang tersisa sekitar 94.432.000 ha pada tahun 2010. Sekitar 31,065,846 ha di antaranya adalah hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Indonesia memiliki 10% luas hutan tropis yang masih tersisa. Kemudian, menurut riset Bank dunia juga,Indonesia memiliki kekayaan laut yang besar. Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai 81.000 km. Sekitar 7% (6,4 juta ton/tahun) dari potensi lestari total ikan laut dunia berasal dari Indonesia. Kurang-lebih 24 juta ha perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budidaya laut dengan potensi produksi sekitar 47 juta ton/tahun. Kawasan pesisir yang sesuai untuk usaha budidaya tambak diperkirakan lebih dari 1 juta ha dengan potensi produksi sekitar 4 juta ton/tahun.

Salah satu kekayaan alam yang akan kita bahas adalah emas. Berdasarkan data Indonesia Mining Asosiation, Indonesia menduduki peringkat ke-6 terbesar untuk negara yang kaya akan sumber daya tambang, Cadangan emas Indonesia berkisar 2,3% dari cadangan emas dunia dan menduduki peringkat ke-7 yang memiliki potensi emas terbesar di dunia dengan produksi menduduki peringkat ke-6 di dunia sekitar 6,7%. Daerah emas di Indonesia sangatlah banyak. Beberapa contoh perusahaan besarnya adalah Freeport yang terdapat di Papua. Walaupun berada dibawah tangan Amerika, itu sungguh sangat disayangkan karena pengolahan belum mampu dipegang oleh pemerintah Indonesia sendiri. Tak perlu membahas perusahaan besar seperti Freeport tersebut. Diwilayah Aceh sendiri juga banyak terdapat tambang emas yang baru saja ditemukan. Logam emas di Aceh umumnya terdapat pada batuan volkanik tua. Batuan pembawa (host rock) biasa berupa diorite, granodiorit dan batuan beku asam (PPPG, 1982). Logam Emas banyak ditemukan dibeberapa aliran sungai besar di Aceh Barat dan Aceh Tengah. Warga setempat melakukan pendulangan untuk mengambil deposit emas seperti yang dilakukan di Krueng Woyla dan Krueng Pameu (placer deposit). Selain itu di beberapa lokasi lain deposit emas tersingkap sebagai primary deposit seperti di Beutong Ateuh, Lhok Kruet, Kr.Sabee, Tangse dan Geumpang. Kedua tipe endapan ini mempunyai karakter yang berbeda ditinjau dari segi proses pembentukan, sumber daya dan metode penambangan.

Salah satu ruang lingkup yang diambil adalah penambangan emas yang terdapat di Aceh pidie, yaitu wilayah Tangse dan Geumpang. Pengelolaan tersebut ada yang bersifat legal dan ada juga yang bersifat illegal. Adapun syarat untuk bisa membuka lahan untuk pertambangan disana ialah para pemilik tambang harus memiliki surat izin buka tambang (SKBT). Pemilik harus mendaftar ke kantor wilayah setempat terlebih dahulu, sebelum membuka tambang digunung. Bagi yang tidak terdaftar di anggap illegal. Menurut pernyataan dari camat geumpang sendiri, Saiful Zuhri melalui pernyataannya “Ada dua lokasi pertambangan emas ilegal di sana. Lokasi pertama berada di Kilo Sikureueng, dekat aliran sungai Lhok Kuala. Sedangkan lokasi kedua berada di Lamjeue, dekat Pulo Luih”.

Beliau mengaku hingga saat ini belum pernah mendatangi lokasi pertambangan liar tersebut.Wajarnya, di samping jarak tempuhnya sangat jauh, curam dan terjal. Namun dirinya bersama Kapolsek dan Danramil Geumpang pernah menginstruksikan kepada warganya agar tidak membuka area pertambangan di wilayah Alue Digo pada tahun sebelumnya. Alasannya di wilayah tersebut terdapat sejumlah sungai kecil yang bermuara ke aliran Krueng Geumpang. Jarak tempuh yang harus ditempuh para penambang ini menuju lokasinya adalah 6 jam dengan jalan batuan dan mendaki. Biasanya ditempuh dengan sepeda motor maupun berjalan kaki.

Tindakan dalam penambangan emas ini juga mendapat berbagai masalah diantaranya pertambangan juga menyebabkan tercemarnya tanah. yakni setiap pertambangan pasti membutuhkan lahan yang luas. Akibatnya luasan bumi yang digali oleh penambang tentu akan luas pula. Hal itu diikuti pula perluasan area jalan dan tempat tinggal bagi para pekerja tambang. Akibat dari pekerjaan tersebut tentu bisa ditebak. Vegetasi yang harus dibabat untuk semua kegiatan itu sangat luas sekali. Hal lainnya adalah kegiatan tambang yang berupa pelepasan gas dan debu ke udara. Deforestasi dan polusi merupakan masalah utama dalam setiap adanya kegiatan pertambangan. Walaupun perusahan tambang sudah mencoba membuang limbahnya melalui pipa dan dialirkan ke sungai. Namun tidak ada yang bisa menjamin peluang kebocoran pipa. Bila limbah itu masuk ke dalam tanah, tentu hasilnya adalah tanah menjadi tidak subur. Bahkan berpeluang besar tidak bisa lagi ditanami.

Kemudian adanya korban yang terkena longsoran tanah , yang disebabkan karena kosongnya tanah dibawah permukaan sehingga ketika hujan turun lebat , komposisi tanah yang tersisa tidak mampu menahannya. Seperti kejadian 2 februari 2015, 2 pekerja tambang yang bekerja disana terhimpit dan tertimbun tanah yang dalamnya mencapai
kedalaman 20 meter dibawah permukaan bumi. Sehingga sangat sulit untuk mengevakuasi korban tersebut. Kejadian ini juga disebabkan karena hujan lebat. Bahaya lain dari penambangan ini adalah pencemaran air. Bahan kimia seperti merkuri, sianida, asam sulfat, arsen, dan merkuri metil merupakan bahan wajib yang digunakan dalam setiap tahapan pertambangan. Semua bahan kimia itu bila terlepas ke dalam air akan menimbulkan kerusakan yang luar biasa Matinya ikan-ikan diduga kuat akibat keracunan pertambangan tradisional yang saluran pembuangannya diarahkan ke sungai Geumpang dan mengalir hingga Krueng Teunom.

Dengan kejadian Juli 2014 tersebut, nama Geumpang pun mendapat sorotan publik akibat matinya ribuan ikan keureuling di sepanjang sungai (Krueng) Meukup, sungai yang pernah tercemar belerang gunung api Peut Sagoe, hingga Krueng Teunom, Aceh Jaya. Akibat lain ialah menyebabkan keracunan bagi para konsumernya. Selain itu pembuangan limbah tambang yang bersinggungan dengan sungai yang merupakan tempat aktivitas masyarakat untuk mandi, mencuci, dan sebagai sumber air bersih dianggap membahayakan lingkungan.
Demikian pemaparan singkat mengenai penambangan emas di daerah Geumpang tersebut. Kepada para penambang baiknya lebih memperhatikan keselamatan dan kejaminan lingkungan sekitarnya dan tidak hanya haus kepada hasil emasnya saja. Kekayaan bukan perusak.