KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DANAU TEMPE KABUPATEN WAJO

Danau Tempe merupakan danau yang terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Tempe, Kecamatan Belawa, Kecamatan Tanah Sitolo, Kecamatan Maniangpajo dan Kecamatan sabbangparu letaknya sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae. Danau Tempe yang luasnya sekitar 13.000 hektare ini memiliki spesies ikan air tawar yang jarang ditemui di tempat lain. Hal ini karena danau tersebut terletak di atas lempengan benua Australia dan Asia.Danau ini merupakan salah satu danau tektonik di Indonesia. Danau Tempe merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan. Selain itu danau ini juga memiliki spesies ikan tawar yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Di tengah-tengah danau tampak perkampungan nelayan bernuansa Bugis. Dari daerah ketinggian, danau tempe tampak bagaikan sebuah baskom raksasa yang diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng dan Sidrap.

Dahulu Danau Tempe telah dikenal merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan yang melimpah. Sejarah perikanannya merupakan yang tertua dalam bidang perikanan dimana pekerjaan seharian masyarakat pesisir danau memang dikenal sebagai nelayan turun temurun. Di era tahun 1970an, Danau Tempe merupakan salah satu pemasok utama memenuhi kebutuhan ikan untuk konsumsi di pulau Jawa. Bahkan pada masa itu, Danau Tempe sempat menjadi sumber terbesar ikan sidat untuk kebutuhan ekspor Indonesia. Pemasarannya malah mencapai benua Eropa dan Amerika.
Danau Tempe juga menjadi salah satu media penelitian para akademisi yang berdatangan dari berbagai belahan dunia.Danau tempe juga pernag menjadi objek wisata yang luar biasa, berbagai bentuk penelitian dilakukan terutama menyangkut fauna endemiknya.

Danau tempe dahulu memiliki kedalaman lebih dari 200 m, tetapi seiring perkembangan zaman danau ini menjadi tidak terawat dan semakin dangkal. danau tempe yang dulunya menjadi penghalang banjir, akibat semakin dangkalnya danau, kini tiap tahun terjadi luapan yang mengakibatkan banjir, sehingga keindahan dan kemampuan Danau Tempe dalam menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya memudar seiring berjalannya waktu. Danau Tempe mengalami pendangkalan, kesimpulan banyak ahli lingkungan yang telah menelitinya. Saat kemarau, airnya menyusut sangat drastis hingga danau yang mengering menjadi sumber konflik dalam pengusahaan pertanian. Saat musim hujan dan banjir, rumah panggung penduduk pun terendam. Seolah memaksa penduduk berhenti beraktivitas.

Hal tersebut disebabkan karena danau tempe telah mengalami kerusakan , akibat pengelolaannya yang kurang memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Berdasarkan kenyataan yang ada sekarang di Danau Tempe, semua pihak menyatakan bahwa kondisi danau sudah mengalami degradasi lingkungan yang sangat parah akibat sedimentasi dan pencemaran. Sedimentasi dan pencemaran ini hanya merupakan akibat dari permasalahan dasar yaitu karena kerusakan ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Sedimentasi yang terjadi setiap tahun telah menyebabkan pendangkalan yang menimbulkan dampak negatif bagi sumberdaya perikanan Danau Tempe.  Danau Tempe menjadi lebih dangkal dan volume air berkurang sehingga ruang perairan untuk habitat ikan juga berkurang. Sedimen yang masuk ke DAS merupakan akumulasi erosi dan buangan rumah tangga dan industri sepanjang DAS.  Erosi disebabkan oleh penebangan hutan di sekitar hulu dan sepanjang DAS sehingga aliran air pada saat hujan mengikis lapisan tanah dan terbawa ke sungai.  Kemudian pada badan air danau terdapat banyak tanaman air baik yang tumbuh dari dasar danau maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bungka toddo.  Tanaman air ini menjadi perangkap sedimen dan mengendapkan sedimen ke dasar danau.  Menurut penelitian Nippon Koei (2003), bahwa sepanjang musim hujan 80 – 90 persen permukaan danau ditutupi oleh tanaman air.

Hal tersebut di pertegas dalam sebuah artikel ‘Profil Danau Tempe’ menuliskan salah satu hal yang menjadi konflik dalam penegelolaan sumber daya alam danau tempe yaitu masalah dalam ekosistem danau tempe

  1. Kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA)
  2. Kerusakan daerah hulu Danau Tempe diakibatkan oleh penebangan yang tak terkendali, diantaranya perambahan hutan, perlu dangan berpindah, illegal logging sehingga menjadikan jumlah kawasan kritis Danau Tempe menjadi 308.962,56 ha dari total kawasan 830.485 ha.
  3. Terjadinya konversi daerah resapan dan kantong-kantong air.
  4. Kekeringan, kawasan daerah resapan danau yang menurun, sehingga cadangan air yang dapat disimpan semakin menipis.
  5. Kerusakan Sempadan
  6. Pencemaran yang terjadi pada perairan Danau Tempe, disebabkan oleh buangan limbah domestik, pertanian, pemukiman dan sisa pakan ikan. Hal ini merupakan penyebab terjadinya eutrofikasi pada permukaan air danau.
  7. Pencemaran Perairan
  8. Laju sedimentasi di Danau Tempe yaitu sebesar 1-3 cm per tahun. Akibat sedimentasi ini, danau mengalami pendangkalan dan menyebabkan terjadinya bencana banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Apabila laju sedimentasi diasumsikan sebesar 0,38 cm pertahun, maka diperkirakan pada tahun 2018 Danau Tempe akan hilang pada musim kemarau.
  9. Pendangkalan yang terjadi di Danau Tempe secara alami diakibatkan oleh sedimentasi yang dibawa oleh inlet sungai yang bermuara di danau ini seperti S. Lawo, S. Batu-batu, S. Belokka, S. Nila dan Sungai Walannae. Terjadinya pendangkalan tersebut mengakibatkan penurunan kapasitas tampung bagi danau tersebut sehingga memicu terjadinya bencana banjir di kawasan sekitarnya.
  10. Pengelolaan lahan yang melebihi daya dukung danau
  11. Penurunan produktivitas lahan
  12. Peningkatan jumlah penduduk

Itulah salah satu konflik pengelolaan sumber daya alam Danau Tempe yang letaknya di Kabupaten Wajo. Semoga ini dapat dilirik oleh pemerintah setempat dan segera mangatasinya.