Kreatif Kelola Hutan untuk Masyarakat Hutan Lestari

kkhdwbk

 

 

 

 

 

 

Orang Indonesia pasti banyak yang romantik kalau ditanya tentang hutan di Indonesia. Untuk pertanyaan tentang apa itu hutan, apa manfaatnya, dan bagaimana masyarakat di lingkungan hutan hidup, pasti akan lebih banyak ditemui jawaban bahwa di hutan banyak pohon dan binatang liar, hutan bermanfaat sebagai sumber makanan dan obat, dan masyarakat di lingkungan hutan di Indonesia hidup secara tradisional dan seakan tidak tersentuh oleh kemajuan jaman.

Pada kenyataannya, masuknya industri perkayuan sejak tahun 1960an dan diikuti industri sawit yang massif beroperasi mulai tahun 1980an, membuat masyarakat di lingkungan hutan mengalami pergeseran yang besar dalam semua aspek kehidupannya. Komoditas hutan dan tanah yang kemudian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan waktu-waktu sebelumnya mendorong banyak anggota masyarakat bersikap praktis dan oportunis.

Hutan dan Para Pihak

Dari pengalaman saya berkunjung ke wilayah hutan dekat konsesi tambang atau perkebunan kelapa sawit, banyak masyarakat yang pro tambang atau perkebunan yang sangat mendukung hutan dibuka untuk kepentingan investasi. Proses pembukaan hutan yang massif dan mengabaikan aspek konservasi, sosial, dan ekonomi membuat para pihak yang peduli terhadap hutan dan masyarakat adat di Indonesia kesulitan mengembangkan kerja bersama untuk menjaga hutan dan kearifan masyarakat yang hidup di lingkungan hutan.

Pembukaan hutan untuk kebutuhan pasar menyebabkan berkurangnya luas tutupan hutan. Pada periode 2009-2013 laju deforestasi terhitung tinggi; rata-rata mencapai 1,13 juta hektare per tahun dan berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca, kondisi rawan bencana, hilangnya satwa liar dan habitatnya, dan konflik antara berbagai pemangku kepentingan. (FWI, 2014)

Mengapa hal itu bisa terjadi? Kesenjangan kesejahteraan dan pembangunan masyarakatlah yang menjadi jawabannya. Kondisi ini terjadi karena program pembangunan nasional tidak terserap sampai ke pelosok, pemerintah daerah yang tidak punya cukup semangat untuk membangun, kekuatan korporasi yang menekan masyarakat, dan sistem pengetahuan masyarakat yang tidak cukup memadai untuk menghadapi pengaruh atau trend yang menerpa kehidupan. Indomie dan Coca Cola lebih bisa menyentuh masyarakat yang jauh dari akses pembangunan dibandingkan layanan pemerintah.

Melihat tantangan-tantangan yang ada, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif untuk menjaga hutan dan memastikan masyarakat yang hidup di lingkungan hutan mendapatkan manfaat secara nyata. Pengelolaan hutan digeser dari pemanfaatan produk semata menjadi berorientasi pada pengelolaan sumber daya hutan non kayu.

Wisata Minat Khusus sebagai Pilihan Solusi

ilustrasi
Hutan sebagai tempat wisata menarik dan bisa memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi pada masyarakat.

Beberapa tahun terakhir, dinamika di tingkat pemerintahan mendorong distribusi wewenang pengelolaan dari kabupaten/kota ke provinsi dan mulai lebih memberdayakan desa. Komunitas lokal yang secara generik disebut masyarakat adat mulai banyak diakui baik secara individual maupun komunal berikut hak-haknya. Dorongan internasional untuk menjaga hutan dari deforestasi juga menguat. Faktor-faktor pendukung ini dapat dijadikan momentum untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan hutan. Lingkungan hutan menjadi ruang yang dapat dikelola untuk kesejahteraan masyarakat dan mendukung perekonomian lokal dan nasional. Wisata minat khusus dalam kerangka wisata berbasis komunitas bisa menjadi satu bentuk pilihan untuk mewujudkan itu.

Model pengelolaan hutan lewat usaha wisata seperti ini mendukung konservasi dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dan mengandung prinsip-prinsip baik antara lain: 1) adanya pengenalan, dukungan, dan promosi kepemilikan masyarakat dalam pariwisata, 2) anggota masyarakat dilibatkan dalam setiap tahap pengembangan pariwisata, 3) adanya promosi kebanggaan terhadap komunitas bersangkutan, 4) peningkatan kualitas kehidupan dan jaminan keberlanjutan lingkungan, 5) perlindungan terhadap keunikan dan budaya masyarakat lokal, 6) pengembangan pembelajaran lintas budaya, 7) adanya penghormatan terhadap perbedaan budaya dan martabat manusia, dan 9) terjaminnya distribusi manfaat yang diperoleh secara proporsional bagi anggota masyarakat. (Suansri, 2003)

Pariwisata berbasis komunitas merupakan peluang yang muncul sebagai bagian dari tren pariwisata global dimana para wisatawan menginginkan pengalaman akan kreasi budaya, peninggalan sejarah dan ekowisata di suatu lokasi wisata, dalam hal ini yang berada di lingkungan hutan. Model wisata ini menarik karena menawarkan pengalaman proses belajar, apresiasi terhadap alam, memperkaya pengetahuan, dan petualangan. Wisata minat khusus dalam kerangkan wisata berbasis komunitas cocok dilakukan oleh masyarakat yang hidup di lingkungan hutan karena bersifat berkelanjutan.

Sifat berkelanjutan wisata berbasis komunitas ditunjukkan oleh karakternya yang lebih mudah diorganisasi dalam skala yang kecil dan merupakan suatu jenis pariwisata yang bersahabat dengan lingkungan, secara ekologis aman. Peluang lebih besar dalam hal partisipasi komunitas lokal akan membuka pintu pemberdayaan masyarakat. (Nasikun, 2001)

Pengusahaan wisata alam di lingkungan hutan dapat dilakukan dengan payung hukum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Dan Taman Wisata Alam. Model pengusahaan ini dapat diajukan oleh perorangan, badan usaha, atau koperasi. Kesempatan masyarakat untuk mengelola lingkungan hutan negara juga dijamin oleh PP ini selama bukan sebagai hak kepemilikan atau penguasaan atas kawasan taman nasional,taman hutan raya, atau taman wisata alam.

Produk Unggulan Wisata Komunitas

Contoh produk-produk unik, kreatif dan bernilai tinggi yang dapat diproduksi dengan bahan baku hasil hutan lestari.

Masyarakat di lingkungan hutan punya banyak kesempatan untuk menjadi produsen produk-produk wisata dan pemanfaatan potensi hutan yang berkualitas. Produk wisata seperti tracking, susur sungai, jelajah dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda, dan kesempatan tinggal dengan masyarakat setempat adalah paket-paket wisata yang menarik.

Pengelolaan sumber daya hutan selain kayu melahirkan peluang bagi masyarakat untuk mengolah hasil hutan dengan tingkat keterampilan yang lebih tinggi (craftmanship). Dengan membuka akses masyarakat untuk belajar pengolahan hasil hutan, masyarakat dapat menjadi produsen produk kehutanan yang memiliki nilai tinggi. Semua hasil hutan yang dahulu tidak bernilai dapat diolah menjadi komoditi yang potensial dan tetap menjaga semangat konservasi. Bahan baku mentah atau setengah jadi dari lingkungan hutan dapat dijual dengan harga yang layak kepada konsumen yang membutuhkan.

Semangat ekonomi kreatif perlu ditanamkan bagi masyarakat yang hidup di lingkungan hutan agar mereka siap untuk mengelola informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya diri dan lingkungannya sebagai faktor produksi yang utama. Dengan begitu, masyarakat yang hidup di lingkungan hutan menjadi berdaya, mandiri, kreatif dan mampu berkompetisi dengan tetap menjaga nilai budaya dan hutannya.

 

Referensi dan foto:

  • Nasikun, 1999. Globalisasi Dan Paradigma Baru Pembangunan Pariwisata Berbasis Komunitas. Makalah Lokakarya Penataan Pariwisata dalam Menyongsong Indonesia Baru oleh DEPARI, Harian Suara Pembaharuan, dan PUSPAR-UGM, Puncaka.
  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam
  • Forest Watch Indonesia. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013.
  • Suansri, P. 2003. Community Based Tourism Handbook. Bangkok, Thailand : Responsible Ecological Social Tours Project (REST).
  • Foto diolah dari Google.