Masa Depan Kemanyan Sumatera Utara

Kemenyan

teks dan foto oleh dewantoro

Desa Matiti, Kecamatan Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan merupakan salah satu desa penghasil getah kemenyan di Sumatera Utara. Selama sebulan, dari Pasar Dolok Sanggul bisa mengirimkan kemenyan sebanyak sekitar 50 ton dikirim ke Jawa. Jumlah tersebut mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kemenyan tersebut dijual dengan harga Rp 50.000 – Rp 140.000/kg untuk berbagai kelas. Menurut petani, perdagangan kemenyan sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga sekarang.

Pasar Dolok Sanggul sendiri, sejak tahun 1980 merupakan pusat perdagangan kemenyan dari kabupaten sekitar penghasil kemenyan Sumut, seperti Dairi, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, dan Humbang Hasundutan dengan total luasan lahan 22.005,81 hektare dengan produksi 4.620,54 ton, pada tahun 2012. Lebih rendah dari setahun sebelumnya yang mencapai 23.017,42 hektare dengan produksi sebesar 5.106,43 ton.Sebelumnya, pusat perdagangan kemenyan berada di Tarutung, Tapanuli Utara.

Permasalahannya adalah, selama ini petani hanya mengandalkan tanaman tua yang usianya mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Sementara pertumbuhannya sangat lambat. Hingga kini, belum ada penelitian yang menunjukkan tanaman kemenyan bisa dikembangkan di tempat lain selain yang sudah ada selama ini.

Apalagi untuk dikembangkan secara monokultur, masih banyak yang pesimistis karena tanaman kemenyan merupakan tanaman semi toleran yang sangat membutuhkan keberagaman jenis pohon, sebagaimana hutan dalam arti sebenarnya. Ironisnya lagi, di beberapa tempat, tombak haminjon (hutan kemenyan), saat ini mengalami tekanan dengan adanya permasalahan yang tak kunjung selesai.

Kemudian, Mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri Usaha Kecil Menengah Tapanuli Utara (sebelum pemekaran), yang saat ini menjabat Direktur Utama Badan Usaha Kecil dan Menengah Global Bisnis, Jonny Hutagalung di Tarutung menyebutkan, kemenyan tidak pernah terdata sebagai produk ekspor karena diganti dengan nama lain.

Kemudian, beberapa waktu lalu, Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia menyatakan, kemenyan masuk dalam ekspor hasil hutan bukan kayu bersama damar, rotan dan lainnya, dengan alasan tidak adanya budidaya secara serius hingga produksinya minim. Sepanjang tahun 2013 volume ekspornya mencapai 5.541 kg dengan nilai US$ 96.900 dengan negara tujuan ke India, Singapura, Thailand dan Inggris,

Menurut Jonny Hutagalung, yang paling dirugikan dalam praktek perdagangan kemenyan selama ini adalah petani. Pasalnya, harga kemenyan yang tinggi, tidak seharusnya disejajarkan dengan harga damar yang mana jauh lebih murah. Ia membandingkan harga kemenyan Rp 100.000/kg sedangkan harga getah damar hanya Rp 3000/kg. Tidak hanya itu, negara juga tidak mendapatkan devisa yang lebih tinggi karena harga kemenyan harus diturunkan menyesuaikan dengan barang yang diekspor.

Entah bagaimana nasib petani kemenyan jika getah kemenyan tak lagi bisa disadap karena terlampau uzur usianya. Entah bagaimana nasib petani, karena tombak haminjon semakin terdesak oleh banyaknya kepentingan. Entah bagaimana nasib industri kosmetik dan parfum dunia yang selama ini menggunakan kemenyan jika pohon kemenyan tak lagi berdiri di tanahnya. Entah bagaimana jika dalam ritual-ritual keagamaan, aroma kemenyan absen, karena menurut informasi, kemenyan juga dikirim ke Vatikan. Entah bagaimana nasib para dukun yang selama ini menggunakan aroma mistis kemenyan untuk memudahkan ritualnya kalau kemenyan tak ada lagi.