Masyarakat Adat : Pelestarian Bantaran Sungai

Pagi itu, ratusan warga mulai membersihkan aliran sungai andagile. Hal yang biasa di kerjakan masyarakat saat bulan shafar tiba. Dari hulu hingga hillir semua bersih dari sampah. Aliran yang tersumbat turut di perbaiki. Usai membersihkan, mereka mulai menanam. Di sepanjang bantaran sungai, akan di tanami pohon bambu. Sementara untuk muara sungai (Desa Kotajin atau Pantai Minanga), akan di tanami pohon – pohon pelindung apa saja yang di bawa warga.

Lelah dengan semua itu, ada yang istirahat. Namun ada juga yang sibuk membangun bangsal (Masyarakat setempat menyebutnya tolitihu / sorlisige). Tempat itu yang nantinya akan di gunakan untuk berdoa. Lokasi bangsal sendiri berada di hulu sungai (Desa Buata).

Semua itu di persiapkan masyarakat jauh hari sebelum ritual budaya mandi shafar berlangsung. Sementara ritual ini memiliki arti tersendiri bagi mereka yang berada di kecamatan atinggola, kabupaten gorontalo uatara, provinsi gorontalo. Sesuai dengan namanya, ritual ini dilaksanakan pada hari rabu, minggu terakhir di bulan Shafar. Istimewanya adalah, masyarakat islam yang berjumlah 12.480 jiwa menganggap ritual ini bisa mencuci diri dari segala yang berhubungan dengan naas, baik itu yang terjadi sebelum atau nanti. Lainnya adalah, ritual ini satu – satunya di provinsi gorontalo. Meski daerah lain pun memilikinya. Seperti Ketapang (Kalimantan Timur), Kotawaringin (Kalimantan Tengah), Ternate (Maluku Utara) dan Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara). Meskit tujuannya sama, namun memiliki proses dan pelaksanaan yang beda dengan masyarakat atinggola.

Dari kebiasaan membersihkan aliran dan menanam di bantaran sungai, hal itu menandakan adanya pelestarian lingkungan. Melalui budaya ritual mandi shafar, masyarakat mampu mewujudkannya. Dan hal itu berlangsung setiap tahunnya. Dengan 10.298 jiwa yang menetap di lahan seluas kecamatan 264,55 meter persegi dan semuanya menanam, maka sungai tersebut di pastikan tidak akan pernah meluap hingga ke pemukiman warga jika sedang musim penghujan.

Pelestarian lingkunan bukan hanya sekedar di hulu sungai semata. Di hilir sungai terlihat pula ada penanaman pohon, namun bukan bambu. Melalui penanaman itu, ke asrian muara sungai pasti terjaga. Dengan kondisi pemanasan global saat ini, tentu ritual mandi shafar sangatlah berperan dalam menyumbang oksigen di seluruh provinsi gorontalo khususnya.

Pelestarian lingkungan bukan hanya terlihat di awal ritual. Di penghujung ritual, pemangku adat akan memberi pesan kepada Khalifah (Kepala Daerah) dan masyarakat, agar terus melestarikan ritual ini, serta selalu menjaga keseimbangan alam dan di tutup dengan menanam pohon mahono, jati, trambesi, meranti dan glodokan tiang (di hulu sungi).

Terlepas dari kepercayaan terhindar dari naas diri, masyarakat kecamatan atinggola telah berperan aktif dalam melestarikan lingkunagan di bantaran sungai. Konsep seperti itu telah tumbuh sejak abad ke 17 dalam massa pemerintahan raja Blongkod Gobel.

Sumber : Sumber Skripsi Noldy Gobel tahun 2013 dengan judul Transformasi Ritual Mandi Shafar di Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara.