Mata Air Bersama, Tanggung Jawab Bersama

Indonesia merupakan negara maritim yang dianugerahi 2/3 wilayahnya dengan air atau lautan. Air menjadi salah satu sumber daya utama di negara Indonesia. Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh aktivitas manusia membutuhkan air. Kondisi ketersediaan sumber daya air Indonesia, yaitu sebesar 127.775 m3/s setara dengan 10% total debit air di dunia.

Salah satu sumber daya air yang paling sering dan umum digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah air tanah. Air tanah adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori antara tanah dan bebatuan dalam. Air tanah juga berarti air yang mengalir di lapisan aquifer di bawah water table. Input alami dari air tanah adalah serapan dari perairan permukaan, terutama wilayah tangkapan air hujan, sedangkan output alaminya adalah mata air dan serapan menuju lautan.  Air tanah menjadi sumber daya air yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, misalnya untuk kebutuhan mandi, cuci piring, bahkan untuk diminum (Fakhrina et.al 2012).

Ketergantungan masyarakat Indonesia akan air tanah ini tampaknya akan mengalami ancaman berarti menghadapi penggunaan air tanah yang berlebihan, misalnya untuk mengairi lahan pertanian. Penggunaan secara belebihan di area pantai dapat menyebabkan mengalirnya air laut menuju sistem air tanah, menyebabkan air tanah dan tanah di atasnya menjadi asin (intrusi air laut). Selain itu, manusia juga dapat menyebabkan air tanah terpolusi, sama halnya dengan air permukaan yang menyebabkan air tanah tidak dapat digunakan dan penggunanaan secara berlebihan mengakibatkan air tanah menjadi kering. Beberapa tahun ini masalah kekeringan menjadi masalah yang lazim ditemukan di beberapa wilayah Indonesia.

Kerjasama dan partisipasi masyarakat menjadi penting untuk melestarikan sumber daya air agar keberlangungan hidup manusia tetap terjaga dan dapat mengurangi masalah kekeringan air bersih di Indonesia. Fokus utama dalam esai ini adalah pengelolaan sumber daya air di Desa Bantar Jaya, Bogor. Desa Bantar Jaya merupakan desa yang terletak di wilayah Bogor Barat, letak yang cukup dekat dengan pegunungan membuat desa ini dipenuhi oleh mata air sebagai sumber air untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari. Mata air yang terdapat di desa ini terbilang cukup melimpah. Karakteristik air yang jernih menjadi daya tarik masyarakat sekitar untuk menggunakan air ini.

Mata air pertama ditemukan oleh sebuah keluarga yang memiliki kandang ayam pejantan. Kebutuhan untuk memberi minum ayam, membersihkan kandang, dan lain sebagainya, kini terpenuhi oleh ditemukannya mata air tersebut. Hanya bermodalkan paralon dan bak yang besar untuk menampung air yang keluar dari mata air pertama tersebut. Air yang terus mengalir rasanya terbuang sia-sia. Melihat air yang melimpah, warga sekitar turut memanfaatkan air yang keluar dari mata air tersebut. Warga pun bergotong royong untuk menyambungkan mata air tersebut ke rumah mereka masing-masing. Pada saat itu, partisipasi masyarakat sangat terlihat jelas, segenap kemampuan mereka dikerahkan seperti menggali tanah, membuat cor agar air tidak kotor, semua dilakukan masyarakat dengan alasan untuk mendapatkan air bersih tanpa mengeluarkan biaya.

Sekitar tahun 2008, ditemukan kembali mata air berbeda yang jaraknya tidak jauh dari mata air pertama. Penemu mata air kedua ini merupakan seorang pengusaha yang tinggal di Jakarta. Ide-ide bermunculan dalam pikirannya, hingga pada akhirnya dengan pemikiran yang matang pengusaha ini mengembangkan perusahaan air minum. Pendirian perusahaan air minum ini menjadi harapan bagi masyarakat setempat karena pendirian perusahaan air minum ini membutuhkan partisipasi dari masyarakat dimulai dari pembangunan proyek serta keberlangsungan perusahaan tersebut nantinya membutuhkan karyawan yang berasal dari masyarakat setempat. Menurut John M Chohen dan Uohoff (dalam Parfi 2007) terdapat empat tipe partisipasi, yaitu:

1. Partisipasi dalam membuat keputusan (membuat beberapa pilihan dari banyak kemungkinan dan menyusun rencana‐rencana yang bisa dilaksanakan dan atau layak untuk dioperasikan)

2. Partisipasi dalam implementasi (konstribusi sumber daya, administrasi, dan koordinasi kegiatan yang menyangkut tenaga kerja, biaya, dan informasi)

3. Partisipasi dalam kegiatan yang memberikan keuntungan

4. Partisipasi dalam kegiatan evaluasi dan keterlibatan dalam proses yang sedang berjalan

Berdasarkan uraian diatas, pendirian perusahaan air minum ini menjadi pembuka jalan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolalaan sumber daya air. Meskipun pengelolaan sumber daya oleh masyarakat ini secara tidak langsung, namun setiap peran dan partisipasi yang dilakukan masyrakat memiliki peran yang cukup besar dalam keberhasilan pengelolaan sumber daya air ini. Masyarakat yang melakukan tipe partisipasi yang pertama adalah pemilik perusahaan air tersebut. Pemilik perusahaan air ini memiliki hak untuk menyusun rencana yang akan dilaksanakan seperti menentukan waktu, biaya, dan tenaga kerja yang akan dialokasikan untuk mendirikan perusahaan tersebut. Kemampuan finansial, pengetahuan, dan motivasi yang dimiliki oleh penemu mata air ini merupakan salah satu bentuk partisipasi yang dapat dilakukan.

Partisipasi dalam bentuk implementasi dilakukan oleh masyarakat yang dipercayakan menjadi karyawan yang berasal dari masyarakat desa itu sendiri. Partisipasi implementasi ini dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang. Kemampuan dan pengetahuan yang berbeda setiap orang, mengakibatkan pembentukan pembagian pekerjaan, ada yang menjadi manager, teknisi, supir, kernet, kasir, dan lain sebagainya. Semua partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat merupakan kegiatan yang memberikan keuntungan. Keuntungan tak hanya bagi pemilik perusahaan tetapi bagi mereka sendiri karena mereka akan memperoleh penghasilan. Sementara itu, partisipasi dalam kegiatan evaluasi dapat dilakukan oleh pemilik perusahaan, tetapi setiap proses kegiatan dapat dievaluasi secara mandiri oleh masyarakat yang bersangkutan.

Menurut Conyers (dalam Dicky 2003), ada tiga alasan utama mengapa peran serta mempunyai sifat yang penting, yaitu peran serta masyarakat sebagai alat untuk memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, tanpa kehadirannya program pembangunan atau proyek‐proyek akan mengalami kegagalan; masyarakat akan percaya bahwa proyek dan program pembangunan, jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat akan lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek; dan merupakan suatu hak demokrasi apabila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal tersebut tergantung pada kemampuan fisik, pendidikan dan keterampilan, motivasi, dan kepentingan. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dalam keberhasilan pengelolaan sumber daya air di Desa Bantar Jaya menjadi sangat penting demi melestarikan sumber daya dan menjadi sarana bagi masyarakat untuk mencari nafkah. Kemapuan yang berbeda, pendidikan yang berbeda, motivasi dan kepentingan yang berbeda dari masyarakat, tak menjadi penghalang untuk mencapai tujuan, tetapi perbedaan tersebutlah yang membuat masyarakat saling bekerjasama demi terwujudnya suatu keberhasilan pengelolaan sumber daya.