Menanti “Perempuan Bumi” Indonesia Bersolek Ekowisata

Oleh Sonia Fitri

“Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandung dan disusuinya.”
-Y.B. Mangunwijaya, dalam “Burung-Burung Rantau”-

 ***
Sebab mengacu pada perumpamaan Romo Mangun, saya sepakat mengistilahkan “Bumi Indonesia” selaku perempuan yang kaya raya, berwibawa, tapi fakta itu membuat kecantikannya yang agung tertutupi. Semua orang berfokus pada kekayaannya, dari mulai lahan dan hutan subur terhampar luas, barang tambang di segala lubang, tanaman aneka jenis berikut eksklusivitas dan khasiat, satwa cantik istimewa, gambut selaku gudang air baku, serta masyarakatnya yang berwarna-warni dengan masing-masing kekayaan budayanya.

Saking kayanya, ia mengundang pemanfaatan sebesar-besarnya pun sebanyak-banyaknya di segala sektor oleh kalangan pengusaha. Utamanya dalam hal pemanfaatan barang mentah. Sama sekali bukan hal nista apalagi melanggar hukum ketika tanah Indonesia dieksploitasi. “Sang Perempuan” memang toh mempersilakan diri untuk digali kekayaannya demi kemaslahatan segenap umat manusia, khususnya rakyat Indonesia selaku tuan rumah. Dengan catatan, secukupnya.

Entah lupa, entah terlena tamak, para pecinta “Sang Perempuan” membuat celaka. Tak memperhatikan Bumi Indonesia yang kelelahan melihat eksploitasi tanpa kendali, pun dinikmati hanya oleh segelintir kalangan saja. Ibu Pertiwi lantas mengomel misalnya dalam bentuk kebakaran hutan dan lahan, bencana alam, longsor, banjir dan gempa. Sayangnya ia kerap diabaikan, ditimpali dengan sejumlah argumen akademis, atau praktik lempar batu sembunyi tangan.

Omelan berganti murka. Yang terdekat, kita saksikan pada Oktober 2015 kebakaran hutan kompak di enam provinsi yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Kabut asap menyesakkan ribuan dada hingga merenggut nyawa. Pemerintah kelimpungan melakukan penanggulangan. Pun para dalang pembakar hutan dijanjikan untuk ditangkp segera.

Respons publik global makin menguat agar perbaikan lingkungan hidup segera dieksekusi. Terlebih, Bumi Indonesia merupakan bagian dari ekosistem dunia dan hutannya menjadi paru-paru bumi. Agenda mengantisipasi perubahan iklim pun tampak diseriusi. Misalnya dengan mengurangi emisi, melakukan reboisasi, menetapkan sejumlah kawasan konservasi serta mempercantik bumi dengan konsep Ekowisata.

Solusi yang terakhir saya sebut akan membuat “Perempuan Bumi” tersenyum. Sejak lama ia ingin bersolek cantik, disentuh dengan lembut dalam lingkup kultur ramah khas Indonesia. Menteri Pariwisata Arief Yahya berkomitmen memulainya. Kementeriannya bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan penandatanganan nota kesepahaman percepatan aktualidasi destinasi pariwisata alam pada akhir Oktober 2015. Tujuannya memajukan sektor pariwisata di Indonesia melalui keberadaan taman nasional dan hutan alam.

Pariwisata merupakan sektor yang bisa menggerakkan ekonomi sekaligus paling ramah lingkungan, bahkan di dalamnya ada unsur konservasi. Berdasarkan penuturan Arief, sebagai pusat megabiodiversity, kawasan hutan Indonesia memiliki kekuatan unsur wisata dalam bentuk nature 35 persen, culture 60 persen dan manmade lima persen. Kawasan hutan Indonesia juga memiliki beragam keunikan dalam bentuk gejala alam yang indah dan mampu meningkatkan minat wisatawan berkunjung.

Kawasan tersebut misalnya lautan pasir atau kaldera bromo, kawah biru, kawah ijen dan keindahan alam lainnya yang tersebar di 51 taman nasional dan 114 taman wisata alam. Diseriusinya kerja sama antara KLHK dan Kemenpar menurutnya sangat baik dalam upaya konservasi kekayaan alam sekaligus meningkatkan ekonomi nasional.

Sepakat dengan Arief, konsep ekowisata bergulir agar pemanfaatan “Sang Perempuan” tak membabi buta. Sebab manfaatnya plus-plus yakni menjaga dan memamerkan kelestarian lingkungan, melindungi budaya lokal, menyejahterakan masyarakat setempat.

Ekowisata atau ekoturisme dalam pengertiannya merupakan salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan. Di dalamnya mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Maka kegiatan ekowisata kebanyakan dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan.

Ia dapat dimulai dari mengedukasi masyarakat setempat agar sudi mencari titik cantik dilanjutkan dengan mendandaninya. Sebab merekalah yang memang akan jadi pelaku utama ekowisata. Lembaga Swadaya Masyarakat dan pemerintah dapat masuk melalui serangkaian pendampingan, dana insentif dan penyiapan infrastruktur mengakses keindahan alam tersebut dengan nyaman. Masing-masing wilayah punya keunggulan yang pastinya menarik jika dikelola dengan benar. Memang tak se-instan melakukan penambangan kasar. Tapi ekowisata berproses menuju pengelolaan alam berkelanjutan.

Pada akhirnya, konsep ekowisata seperti mengarahkan bumi “perempuan” agar bersolek menonjoklan segala keindahan. Ketika itu terjadi, ia akan memberikan kesejahteraan berupa ekonomi bernilai tinggi dari segi materi dan kultural. Keseriusan segenap elemen masyarakat, didukung langkah nyata pemerintah masih dinanti. Agar Bumi Indonesia menarik cantiknya, lantas tetap terjaga kelestarian alamnya. Jadi, janganlah lagi dirusak pun dieksploitasi keterlaluan demi keserakahan sedikit orang.  

Selesai
17122015