Mengelola Sumber Daya Alam Ala Orang Samin

Mengelola Sumber Daya Alam Ala Orang Samin

kendeng2Sampai sekarang, saya yakin tidak ada seorang pun yang bisa menyebutkan secara pasti seberapa luas dan agung alam raya ini. Memang, di mata kita—sebagai manusia, alam selayaknya seorang ibu bagi anaknya. Memberikan semua yang ia punya meskipun ia tahu, hal tersebut belum tentu terbalas. Namun ibu selalu mempunyai cara paling legit dalam menasihati anaknya ketika mereka—anak-anaknya—melakukan kesalahan.

Salah satu cara yang kerap “ibu” berikan untuk menasihati “anaknya” adalah berupa bencana. Meskipun “bencana” dikaitkan dengan kemurkaan, namun dari sanalah alam menunjukkan kasih sayangnya. Jangan salah, alam juga mempunyai hak. Ia mempunyai hak untuk dihormati. Ungkapan tersebut agaknya hiperbola. Namun kembali kepada analogi bahwa alam adalah seorang ibu bagi seluruh manusia yang menghuni tubuhnya, maka alangkah karim apabila manusia juga membalas kasih sayang alam dengan menghormatinya.

Sebagaimana ibu yang merupakan bagian dari orang tua selain ayah, maka tanpanya kita—manusia pun tiada. Begitulah, maka alam ada untuk seluruh makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia yang merupakan bagian dari alam. Hampir semua kebutuhan manusia dipenuhi alam. Maka dengan tidak menghormati alam, sama saja manusia tidak menghormati dirinya sendiri. Lalu, bagaimana cara menghormati alam?

Sebenarnya, setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda tentang alam. Interpretasi yang berbeda ini pun menuntun kepada cara yang berbeda-beda pula dalam menghormati alam. Namun demikian, masih terdapat batasan mengenai cara menghormati alam, yaitu merawat dan atau memperbaiki. Secara satire, maka dapat dikatakan bahwa jika tidak bisa merawat, ya setidaknya tidak ikut merusak!

Namun adakalanya, masih saja upaya dalam merawat itu mendapat satu dua kerikil tajam yang membuat langkah upaya tersebut menjadi tertatih dan terseok-seok. Salah satu contoh kerikil yang kerap ditemui adalah sikap acuh tak acuh masyarakat dalam ikut serta merawat alam. Padahal keikutsertaan mereka dalam merawat alam akan sangat berguna, baik bagi alam maupun moral generasi penerus. Tentu saja, dengan sikap peduli apalagi antusias yang api dari masyarakat saat ini dalam merawat alam akan memberikan contoh kepada anak-cucu mereka bagaimana merawat dan menjaga alam. setidaknya dalam pengertian merawat alam berarti merawat diri mereka sendiri, seperti halnya mandi atau gosok gigi.

Sikap acuh tak acuh masyarakat yang acap kali ditemukan di sekitar sumber daya alam yang dikelola pemerintah, misalnya, sebagian besar cenderung dikarenakan adanya celah komunikasi antara pihak pengelola dengan masyarakat. Adanya celah komunikasi ini bukan hanya disebabkan kurangnya sosialisasi pengelola sumber daya alam atau dalam hal ini adalah pemerintah kepada masyarakat, namun disebabkan pula oleh kesadaran masyarakat dalam ikut serta menjaga dan mengelola lingkungan yang masih rendah. Kesadaran dalam ikut serta menjaga lingkungan yang rendah dibentuk oleh paradigma bahwa “hari ini adalah hari ini dan besok adalah besok”. Paradigma tersebut menjadikan masyarakat cenderung berfikiran pendek. Hal inilah yang patut diperbaiki, khususnya oleh generasi muda yang notebene adalah masyarakat terpelajar, masyarakat yang mempunyai pengetahuan dalam mempertimbangkan dan memutuskan segala sesuatu. Sangat berbeda dengan paradigma orang-orang Samin yang bahkan lebih banyak dianggap sebagai orang-orang dungu selain karena mereka tidak menempuh pendidikan di samping sikap mereka yang terlalu sederhana dan jujur, yang sangat menghormati alam.

Samin adalah salah satu suku yang berdiam di sekitar pegunungan Kendeng yang memanjang dari Pati di Jawa Tengah, hingga Tuban di Jawa Timur. Selain di sebut Samin, ada beberapa sebutan lain yang digunakan untuk merujuk pada para penganut Saminisme ini, seperti wong Sikep (orang Sikep), Sedulur Sikep ataupun orang Kalang. Untuk yang terakhir, lebih digunakan sebagai hinaan pada orang Samin, sebagai orang rimba atau orang hutan yang tak tahu sopan santun.

Sejarah orang-orang Samin tidak dapat dipisahkan dari tokoh kunci dalam penyebaran ajaran Saminisme, yakni Raden Kohar, tokoh politik dan intelektual yang hidup pada masa penjajahan Belanda di abad ke-18. Raden Kohar sendiri sebenarnya masih keturunan bangsawan, karena merupakan putra dari Raden Surawijaya. Ia lahir pada tahun 1859 di Ploso, Kedhiren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Simpati dan rasa kepedulian Raden Kohar pada kaum miskin memang begitu besar. Untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, ia kemudian berganti nama menjadi Samin Surosentiko, dan nama itulah yang kemudian menjadi sebutan bagi ajaran dan pengikut yang melestarikan ajarannya.

Samin Surosentiko mengajarkan kesederhanaan dan hidup selaras dengan alam kepada para pengikutnya. Pandangan hidup orang Samin sangat menjunjung tinggi kejujuran, kasih sayang, persaudaraan dan mencintai lingkungan hidup serta alam semesta. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi kehidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Mereka juga menolak menggunakan barang-barang elektronik. Masyarakat Samin menyadari bahwa habis atau tidaknya isi dan kekayaan alam adalah tergantung kepada pemakainya. Itulah mengapa kaum Samin sangat memuliakan alam. Kelestarian alam berarti kelestarian kehidupan. Sedangkan kehancuran alam berarti juga hancurnya kehidupan. Mereka mengatakan bahwa alam Jawa bukanlah milik penjajah. Untuk itulah banyak warga Samin yang membuat pusing Belanda kala itu. Mereka dengan seenaknya mengambil kayu dan ranting dari hutan-hutan jati yang dikelola pemerintah Belanda. Meskipun mereka hanya mengambil sebatas yang mereka butuhkan.

Kejujuran yang luar biasa yang ditunjukkan orang-orang Samin adakalanya justru menimbulkan kesan bodoh atau dungu bagi sebagian orang. Misalnya ketika ditanya berapa anaknya, maka orang Samin akan selalu menjawab dua, yakni lelaki dan perempuan. Pun jika ditanya dari mana mau ke mana, orang Samin dengan lugu akan menjawab dari belakang mau maju ke depan.

Secara pendidikan, orang-orang Samin tidak ada yang menempuh pendidikan secara formal. Bagi mereka, sekolah adalah belajar, sedangkan belajar bagi mereka adalah proses penanaman nilai-nilai kehidupan dari orang-orang tua mereka yang juga percaya bahwa alam akan menjadi guru mereka. Lagi-lagi, orang-orang Samin menunjukkan rasa hormat mereka kepada alam, bukan hanya sebagai ibu, melainkan juga sebagai guru.

Kecintaan orang-orang Samin terhadap alam yang begitu kuat tersebut ditunjukkan dengan upaya untuk tetap melestarikan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka dalam peristiwa perlawanan terhadap kaum kapitalis yang ingin menjadikan lahan pertanian mereka sebagai sebuah pabrik semen sekitar pertengahan tahun 2008. Ketika itu, PT Semen Gresik berencana berekspansi modal (sekitar 40% saham asing) dengan mendirikan pabrik besar tepatnya di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang merupakan kawasan pertanian. Tidak seperti warga lain yang biasanya menyukai bila tanah miliknya dibeli pemodal besar karena akan dihargai mahal, warga setempat anehnya menolak.

Bagi orang Samin, apabila nanti pabrik semen jadi didirikan di wilayahnya, maka akan muncul dampak lingkungan yang mengancam kawasan gunung Kendeng yang selama ini menjadi sumber ekologi serta mengancam mata pencaharian bertani di samping pegunungan kapur tersebut juga memiliki makna budaya dan sejarah tersendiri bagi orang-orang Samin yang memiliki ekologi kulturalnya yang sangat berrelasi dengan lingkungan khususnya gunung. Peran pegunungan secara kultural bagi masyarakat Samin dan masyarakat lokal lainnya di wilayah Sukolilo, Pati, memiliki ikatan kesadaran simbolis yang terdapat dalam situs-situs kebudayaan yang banyak terdapat di pegunungan Kendeng. Kesadaran masyarakat lokal di wilayah Sukolilo yang mengikat dengan pegunungan Kendeng di antaranya Watu Payung yang merupakan simbolisasi dari sejarah pewayangan Dewi Kunti, di mana beberapa situs narasi pewayangan tersebut terartikulasikan dalam beberapa relief alam yang terdapat di pegunungan Kendeng.

Sebagai bukti perlawanan masyarakat Samin terhadap kaum kapitalis yang dalam hal ini adalah pemilik modal pabrik semen Gresik, didirikanlah Rumah Kendeng sebagai monumen sejarah yang berisi beberapa berita dan juga bukti-bukti lain yang menggambarkan perjuangan masyarakat Samin dalam mempertahankan budayanya.

Bagaimana orang-orang Samin begitu memuliakan alam bahkan menganalogikannya sebagai ibu selakigus guru patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi dalam merefleksikan bagaimana seharusnya masyarakat non-Samin yang lebih terpelajar dapat lebih memuliakan alam sebagai perwujudan rasa syukur maupun partisipasi dalam merawat sumber daya alam yang telah dilimpahkan Tuhan kepada manusia. Pengelola sumber daya alam pun diharapkan dapat berperan aktif dalam melibatkan suku-suku yang masih mempertahankan kebudayaan mereka seperti suku Samin yang berada di sekitar sumber daya alam yang dikelola, sehingga pengelolaan sumber daya alam dapat lebih efektif dan konservatif.