Mengintip Keberadaan Herpetofauna di Hutan Popayato-Paguat

Rhacophorus cf. georgii_Fajar_GORHutan Popayato-Paguat di Provinsi Gorontalo merupakan kawasan hutan alam produksi yang terletak di Kabupaten Pohuwato dan Boalemo. Kawasan ini dianggap penting bagi keragaman hayati, meskipun produktivitasnya sudah berkurang. Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2009, menunjukan bahwa kawasan ini masih memiliki nilai penting bagi jenis flora dan fauna. Salah satu kekayaan keragaman hayati selain keragaman burung dan mamalia yang di temukan, juga tinggginya keragaman jenis herpetofauana yang ada di wilayah tersebut.
November 2015, Saya melakukan perjalanan di kawasan Hutan Popayato-Paguat. Saya dan tim memulai perjalanan menuju Desa Puncak Jaya atau sering dikenal dengan masyarakat adalah Marisa 6 Sub C, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Kami menjadwalkan survei dilakukan selama 14 hari.
Pada kesempatan kali ini, saya mencoba untuk kembali mengamatin amfibi dan reptil selain monitoring selain satwa lainnya. Selama survei berjalan, hampir setiap malam saya mencoba meluangkan waktu untuk herping. Dalam setiap malam kami lakukan herping 3-4 jam. Memang waktunya sangat sedikit tetapi tidak mengurangi niat kami untuk melakukan herping.
Saya dan tim mencoba memfokuskan herping di dua anak sungai Wongga Hulu yaitu sungai terang/Dangdong dan sungai Rhaco. Lokasi sungai tersebut tidak jauh dari keberadaan camp yang kami dirikan. Selain herping ke sungai, saya juga menyusuri genangan air yang terbentuk dari sisa penambang emas masyarakat yang menyerupain kolam yang berada di sekitar lokasi camp.
Dari hasil herping selama dua minggu saya dan tim survei mencatat 8 jenis amfibi antara lain Ingerophrynus celebensis, Limnonectes rufus, Limnonectes larvaepartus, Limnonectes spp. Hylarana celebensis (cf.), Rhacophorus monticola, Rhacophorus edentulus, dan Rhacophorus cf. georgii. Sekali ini saya dan tim sangat senang atas temuan Limnonectes larvaepartus yang kedua kalinya untuk melihat kata yang melahirkan di wilayah Hutan Popayato-Paguat. Pada survei awal tahun 2015 saya  juga menemukan Limnonectes larvaepartus di wilayah hutan yang sama dengan jarak 10 km dari survei November 2015. Bahakan bukan hanya Limnonectes larvaepartus yang membuat kami senang. Tapi saya dan tim juga dikejutkan dengan ditemukannya satu lokasi istanah bagi genus Rhacophorus. Selama 14 hari kita menangkap sebannya ± 30 Rhacophorus. Ini pertama kalinya saya dan tim menemukan Rhacophorus yang sangat banyak dalam satu lokasi.
Selain amfibi yang kita temukan, saya dan tim juga menemukan 12 reptil diantaran Eutropis Rudis, Eutropis multifasciata, Draco spilonotus, Cyrtodactylus jellesmae, Python reticulatus reticulatus, Rhabdophis chrysargoides, Rhabdophis callitus, Xenochrophis trianguligerus, Ophiophagus hannah, Varanus salvator, Tropidolaemus subannulatus, dan Tropidolaemus laticinctus.
Dari hasil pantau kami selama dua minggu memperoleh 8 jenis amfibi dan 12 jenis repti. Sedangkan data yang saya kutip dari berbagai sumber mencactat ada sebanyak puluhan jenis herpetofauna yang ada di Gorontalo. Melihat dari hasil temuan tersebut ini membuktikan bawasannya kawasan hutan Popayato-Paguat cukup kaya atas keberadaan herpetofauna. Bahkan dikawasan tersebut juga di temukan katak endemik sulawesi yang satu-satunya di Dunia jenis katak yang melahirkan yaitu Limnonectes larvaepartus.
Melihat tingginya keragaman hayati di kawasan hutan Popayato-Paguat sangat penting bagi flora dan fauna.  Untuk itu mari kita bersama menjaga dan melestarikan kawasan hutan tersebut. Serta sudah seharusnya Pemerintahan Daerah saatnya berpihak dalam pembangunan yang rama lingkungan dan melestarikan kawasan Hutan Popayato Paguat menjadi habitat penting bagi flora dan fauna yang ada di Provinsi Gorontalo.