Menguak Sejarah Tembawang Parong Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. (Sebuah Esai: Perspektif Historis)

Makam Keramat Tembawang ParongKultur masyarakat adat dayak hingga saat ini masih bisa diidentifikasi pada beberapa daerah di Kalimantan Barat. Budaya hingga konsep kehidupan yang masih terjaga serta eksistensinya yang masih terlihat sangat baik untuk dikaji sebagai pembelajaran antropologi, humaniora, bahkan kearifan lokal (local wisdom) dalam menganalisa konsep hidup turun-temurun masyarakat adat dayak yaitu berburu dan meramu. Di sisi lain ekspansi korporasi serta perambahan hutan adat sebagai bentuk profit juga menjadi dilema yang tak kunjung usai untuk diselesaikan. Hingga tak heran pula bagaimana kemudian kita melihat konflik di beberapa daerah adat seperti di Semunying Jaya, Kabupaten Bengkayang, konflik di Batu Daya Ketapang dan beberapa daerah lainnya yang masih belum terpublish di media. Satu di antara bentuk upaya perjuangan dalam membela hak-hak masyarakat adat adalah dengan menuliskan sejarah serta pengangkatan kultural kehidupan masyarakat adat dayak sehingga pemerintah mampu memproteksi kehidupan mereka yang kian hari kian terancam keberadaanya. Sejarah yang sangat baik untuk diangkat sebagai bentuk pengakuan masyarakat adat dayak adalah tembawang.

Tembawang adalah sebuah citra yang melekat pada etnis Dayak Kalimantan Barat. Ada begitu banyak tembawang yang bisa ditemui di Kalimanta Barat. Begitu pula dengan penamaannya, kekayaaan linguistik dan dialek dari setiap suku dayak menjadikan perbedaan dalam penyebutan istilah tembawang. Misalnya, Suku Dayak Laur Bungor menyebut tembawang dengan istilah temawaangk dan periau, Suku Dayak Semandang Bungor menyebut tembawang dengan istilah tamaangk atau tomaangk atau tamaag atau tomaag, serta Suku Dayak Kualan menyebut istilah tembawang dengan nama tamaangk dan tomaangk. Pada dasarnya definisi tembawang adalah perkampungan masyarakat adat yang sudah lama ditinggal pergi oleh penghuninya. Maka dari itu, dalam tembawang dapat dilihat berbagai kekayaan hayati, nilai budaya, nilai historis, dan peluang ekonomis masyarakat adat. Selain itu, di dalam tembawang juga disaksikan pula banyak hidup tumbuhan dan pepohonan, situs sejarah, dan peninggalan-peninggalan sebagai bentuk kebudayaan masyarakat adat. Lebih lanjut lagi, pada tembawang dapat juga dilihat banyak bekas-bekas perumahan panjang atau rumah betang sebagai bukti adanya kehidupan atau pemukiman masyarakat adat dayak. Contoh dari hal tersebut dapat dilihat pada Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya.

Desa Ambawang merupakan sebuah desa yang ditinggali suku Dayak dengan presentase 44%. Dayak yang bertempat tinggal di desa Ambawang adalah suku Dayak Benyadu’ sebagai suku asli dan Dayak Banana’ sebagai suku pendatang. Di desa Ambawang sendiri terdapat empat Tembawang yang masih bisa dikaji sejarahnya yaitu, Tembawang Parong, Sanggau, Pondok Ringsan, dan Kampung Cina. Ini merupakan contoh historis yang harus dikaji secara komprehensif sebagai bentuk pengetahuan sekaligus pemahaman untuk generasi mendatang yang semakin masif tergerus kebudayaan-kebudayaan modern.

Secara historis desa Ambawang untuk etnis Dayak Benyadu’ dimulai pada migrasi lokal dari Ngabang tahun 1911. Dasar dari migrasi lokal ini bahwasanya dikarenakan adanya peperangan dengan pihak Belanda saat itu yang dikenal dengan sebutan Perang Ringin. Pada saat Perang Ringin ada dua orang anggota dari suku Dayak yang tertangkap oleh Belanda. Karena peperangan tersebut kemudian mereka memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru dengan cara menggunakan sampan rakit sagu (catatan: sagu diikat dengan jumlah yang banyak). Semua migrasi lokal tersebut berjumlah 12 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah keseluruhan 44 jiwa.

Perintis pertama migrasi lokal ini bernama Gayor. Namun, Gayor hanya sebagai perintis atau penyurvey sehingga tidak ikut berpindah bersama 44 jiwa lainnya. Semua masyarakat adat Dayak yang pertama kali datang adalah veteran perang atas nama komandan Gusti Aliudin yang notabene merupakan orang Ngabang asli. Mereka yang mengikuti migrasi lokal terssbut berpindah pun tidak atas dasar berpindah tanpa memenuhi kebutuhan yang akan dihadapi ketika sudah sampai pada lokasi yang dituju. Elemen yang mereka ikutsertakan dalam migrasi lokal tersebut yaitu Kepala Desa, Dukun Beranak, Tukang Sunat, Dukun Dewa/Lenggang, dll. Kelengkapan secara profesi dalam konteks tradisional tersebut adalah sebagai wujud fase persiapan untuk menghadapi tempat baru yang akan mereka tinggali. Ini menunjukkan bahwa masyarakat adat sudah mengenal peradaban sejak lama meskipun tidak secanggih pada zaman kontemporer seperti saat ini.

Sehingga pada akhirnya mereka sampai pada sebuah desa yang dinamakan sebagai desa Ambawang. Desa ini sendiri saat itu masih di bawah kawasan dan kendali dari kerajaan Kubu. Sesampainya mereka di desa Ambawang konsep hidup yang komunal primitif melahirkan sesuatu yang hingga saat ini disebut sebagai tembawang. Tembawang-tembawang tersebut terdiri dari tembawang Parong, Sanggau, Pondok Ringsan dan Kampung Cina. Tulisan ini akan secara khsusus mengangkat sejarah satu di antara tembawang tersebut yaitu, tembawang Parong.

Menurut sejarah masyarakat setempat bahwasanya Tembawang Parong dahulunya sempat mau dibom oleh Jepang, namun bendera sebagai simbol negara yang saat itu terletak di tembawang Parong untuk pengibaran serta terpancangnya batang bendera ditutupi oleh masyarakat menggunakan daun-daun kayu. Sehingga masyarakat Tembawang Parong tidak terlihat oleh pasukan Jepang yang akan mengebom daerah ini. Sehingga masyarakat Parong yang  bersembunyi tidak terlihat oleh pihak lawan. Bukti yang terlihat hingga hari ini adalah makam keramat yang berada di Jalan perbukitan daerah Tembawang Parong. Di makam tersebut terlihat beberapa nama sesepuh sekaligus perintis pertama wilayah, seperti Nyahu Bin Pasim, Sasi Bin Katar, dan T. Pundu Sasi yang dituliskan langsung di bendera mereka yang disembunyikan dari penglihatan pahlawan perang. Ini menunjukan bahwasanya saat itu, alam ataupun hutan sangat membantu masyarakat dalam menjalani kehidupan dan memenuhi kebutuhan pokok bahkan menyelamatkan masyarakat adat dari peperangan. Sebagai bentuk apresiasi dari masyarakat adat dayak Desa Ambawang hingga saat ini adalah Setiap 17 Agustus akan dikibarkan bendera bersejarah yang ada.