Omah Senthong Tengah Samas Komunitas reiSPIRASI Yogyakarta

sumber: Komunitas reiSPIRASI Indonesia
sumber foto: Komunitas reiSPIRASI Indonesia

Seperti kebanyakan kawasan pesisir yang identik dengan kemiskinan, pencemaran dan wilayah yang terpinggirkan, wilayah pesisir Pantai Samas yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengalami hal yang sama. Dari segi potensi, Pantai Samas memiliki keistimewaan sebagai tempat mendaratnya 4 jenis penyu dari 6 jenis penyu yang ada di Indonesia. Namun karena rusaknya ekosistem pesisir pantai yang diakibatkan banyaknya sampah yang ada di pantai, abrasi dan tutupan vegetasi yang kering membuat dari tahun ke tahun penyu yang mendarat ke Pantai Samas semakin menurun baik dari segi keanekaragaman jenis dan jumlah spesiesnya.

grafik penyu
Sumber grafik: Komunitas reiSPIRASI Indonesia

Muncul pemikiran dari komunitas reiSPIRASI yang ada di Yogyakarta untuk melakukan pengelolaan sumber daya wilayah pesisir berbasis masyarakat di wilayah Pantai Samas dengan prinsip pemberdayaan dan pembangunan kapasitas, pengakuan terhadap kearifan dan pengelolaan tradisional, perbaikan hak masyarakat lokal, pembangunan berkelanjutan, akuntabel dan berkelanjutan, pelestarian lingkungan pesisir, pengembangan mata pencaharian, keadilan, dan keterpaduan. Namun dalam prakteknya menerapkan prinsip-prinsip tersebut memiliki tantangan tersendiri ketika masyarakat masih berada dalam kemiskinan, pengembangan mata pencaharian menjadi hal yang utama. Ketika komunitas reiSPIRASI mengajak masyarakat untuk memperhatikan kelestarian penyu yang ada di wilayahnya, masyarakat merasa masalah tersebut belum menjadi perhatian masalah mereka karena masyarakat sibuk dengan pekerjaan dalam rangka peningkatan sumber ekonomi mereka.

Keterpaduan dicoba untuk mengembangkan mata pencaharian masyarakat dengan upaya melestarikan penyu yang ada di Pantai Samas. Ekowisata dirasa menjadi salah satu jalan keluar dalam peningkatan mata pencaharian. Paket-paket wisata seperti penanaman mangrove, pohon cemara, memberi makan penyu yang berada di kolam penangkaran penyu Pantai Samas, dan interaksi dengan masyarakat mencoba didorong agar hubungan langsung antara konservasi dan ekonomi dapat nyata dirasakan. Ekowisata dijadikan sebagai upaya penyadaran terhadap masyarakat yang ada di Pantai Samas dan menjadi pengenalan kepada pendatang bahwa ekosistem yang ada di pantai ini telah rusak dan berpengaruh terhadap berkurangnya penyu yang mendarat di pesisir pantai.

Pengelolaan sumberdaya pesisir yang terpadu merupakan sebuah proses yang dinamis dan perlu dilakukan secara terus menerus. Upaya mengajak pemerintah, masyarakat umum, kalangan intelektual dan kepentingan sektoral dalam menyiapkan suatu rencana terpadu untuk perlindungan dan pengembangan sumberdaya pesisir ini memiliki tantangan tersendiri. Hal ini tampak nyata ketika terjadi abrasi di Pantai Samas yang merusak kolam penangkaran penyu Pantai Samas. Bantuan-bantuan perbaikan kolam yang datang tidak dikelola dengan terpadu dan berjalan sendiri-sendiri antara pihak BKSDA (pemerintah), pihak swasta perusahaan yang menyalurkan dana CSR, dan komunitas reiSPIRASI sendiri sehingga kolam penangkaran penyu yang terbangun tidak maksimal secara konstruksi berkelanjutan dan tidak sinkron antara pihak-pihak yang peduli tersebut.

Pemikiran tentang sebuah pertemuan sebagai ruang diskusi muncul agar keterpaduan bisa tercapai. Mendengar dari reiSPIRASI bahwa mereka tengah merancang Omah Senthong Tengah Samas sebagai ruang diskusi untuk bertukar pengalaman, harapan, mimpi untuk membangun Pantai Samas secara bersama-sama, setara dan bertumpu pada kekuatan untuk merengkuh masa depan pengelolaan sumberdaya pesisir di Pantai Samas secara berkelanjutan untuk perubahan yang diwujudkan oleh masyarakat bukan yang berorientasi pada proyek dimana ada suatu komunitas yang peduli dikarenakan mendapat dana untuk mendampingi yang terkadang ketika dana tersebut habis maka pendampingan pun akan berhenti tanpa adanya suatu exit strategi dan penilaian apakah masyarakat sudah siap atau belum sehingga program pendampingan yang ada menjadi prematur dan tidak berkelanjutan karena secara mandiri masyarakat yang disiapkan belum siap untuk mandiri yang pada akhirnya kembali lagi untuk tidak peduli untuk menjaga kelestarian lingkungannya. Omah Senthong Tengah Samas berharap memiliki fasilitas perpustakaan, ruang diskusi, pelatihan, penelitian dan sarana uji coba, pengembangan prototipe program dan rumah singgah bagi masyarakat yang peduli terhadap konservasi sumberdaya di pesisir Pantai Samas.

Pengaruh relatif kegiatan masyarakat capaian program
Sumber: Outcome Mapping. Jejak Perubahan Menuju Keberhasilan. VECO Indonesia.

Filosofi Lao Tzu mengatakan pergi dan temuilah masyarakatmu, hiduplah dan tinggalah bersama mereka, cintai dan berkaryalah dengan mereka. Mulailah dari apa yang mereka miliki, buat rencana dan bangunlah rencana itu, dari apa yang mereka ketahui. Sampai akhirnya ketika pekerjaan usai, mereka akan berkata “kami yang telah mengerjakannya”, menjadi tantangan untuk dipraktekan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir di Pantai Samas dengan konsekuensi bahwa tinggal dan hidup bersama masyarakat menjadi pendekatan utama dalam menggerakkan perubahan perilaku yang ada di masyarakat pesisir Pantai Samas.

Harapan kedepan ada tingkat partisipasi masyarakat yang makin tinggi dan masyarakat menjadi pelaku utama dalam perubahan yang ada dalam mereka. Omah Senthong Tengah Samas diharapkan hanya menjadi kunci atau pemicu untuk membukakan paradigma pengetahuan dan memberi jalan bukan sebagai pelaku utama namun hanya memfasilitasi dan merencanakan diskusi dan tukar pengalaman sehingga semakin lama Omah Senthong Tengah Samas menjadi rendah partisipasinya dan hanya menjadi sebuah ruang diskusi, masyarakatlah kemudian memiliki partisipasi yang tinggi meningkatkan kualitas ekonominya, sosial budayanya dan lingkungan yang ada di sekitarnya.

Tidak sabar menunggu kabar dari perkembangan Omah Senthong Tengah Samas yang dilakukan oleh teman-teman komunitas reiSPIRASI di Yogyakarta untuk menjawab tantangan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan tanpa berorientasi pada proyek, dana habis pendampingan habis atau hanya menjadi model prototipe yang kerdil. Salam lestari.