Panen Bawang Merah di Lantai 5

Bawang Merah di Medan

teks dan foto oleh : dewantoro

Siapa yang tak kenal kawasan Jalan Mesjid. Kawasan ini, bisa dibilang sebagai salah satu sentra bisnis percetakan, elektronik dan bengkel di Kota Medan. Dari pagi hingga sore situasinya padat dan bising. Tapi, di balik itu, siapa yang menyangka di atas ruko-ruko (rumah toko) yang menjulang tinggi, ada salah satunya yang menjadi ‘ladang’ pertanaman bawang merah. Raungan suara kendaraan, padatnya lalu lintas di bawah, seperti lenyap seketika melihat hijaunya daun bawang merah di atas lantai 5.

Dijumpai di kedai kopi sebelah rukonya, Pak Kim menceritakan bagaimana bertanam bawang merah di tempat yang ekstrim. Dia menyebutnya dengan tempat yang ekstrim karena tempat untuk bertanam kemungkinan besar sangat jarang dilakukan oleh orang banyak. Contohnya, kebanyakan orang bertanam bawang merah di ladang pekarangan di atas tanah bedengan.

Sementara, dia tidak demikian. Pada awalnya, ketika ditanya di mana tempat tersebut, dia hanya menjawab, di atas. Dibutuhkan 3 kali pertanyaan dengan jawaban yang sama baru kemudian penulis paham bahwa yang dimaksudnya di atas, memang sebenar-benarnya di atas. Bukan di daerah yang merupakan dataran lebih tinggi dibandingkan Medan, seperti Brastagi, misalnya.

Setelah kopi di dalam gelas habis diminum, dia kemudian mengajak untuk melihat ‘ladang’nya. Memasuki rukonya yang menjadi tempat usaha percetakan Kim, di sebelah kiri terdapat meja yang mana di atasnya terdapat tumpukan bawang merah yang masih segar.

Daunnya masih hijau dibiarkan tanpa dipotong. Bawang tersebut dikumpulkan dalam beberapa ikatan. “Itu bawang yang sudah dipanen semalam, itu belum seberapa, masih ada banyak lagi di atas, bisa kita panen hari ini,” katanya.

Dia mengajak menaiki tangga menuju lantai lima. Sesampainya di lantai paling atas tersebut, tanaman bawang merah yang masih seminggu sampai yang siap dipanen ditanam dengan bermacam-macam media. Ada yang ditanamnya di pot, polybag, cover ban mobil dan lain sebagainya. “Ini sengaja ditanam dengan banyak ragam tempat, ini untuk percobaan-percobaan atau eksperiman kecil-kecilan, bagaimana bertanam bawang merah lebih efisien,” katanya.

Sambil mencabuti bawang merah yang sudah cukup usia untuk dipanen, dia menjelaskan, ide bertanam bawang merah di lantai lima sudah lama dipikirkannya. Karena, menurutnya, bawang merah merupakan tanaman yang pertanamannya tidak terlalu rumit. Prinsipnya, kata dia, selama tanahnya subur untuk tumbuhnya tanaman, maka bawang merah sangat memungkinkan untuk ditanam.

Dia juga sengaja mengisi polybag dengan tanah penuh, ada pula yang tanahnya tipis. Ternyata, pertanaman bawang merahnya tidak terganggu. Dengan begitu, dia akhirnya tahu bahwa bawang merah tidak membutuhkan tanah yang cukup tebal untuk perakarannya. Dengan begitu, polybag tidak perlu diisi dengan tanah penuh, tetapi bisa dibagi menjadi dua polybag.

Bahkan, bertanam bawang merah juga tidak menyita waktu. Dia hanya cukup menghabiskan waktu sekitar 2 jam perhari untuk merawat tanamannya, bisa di waktu pagi ataupun sore hari.

Selebihnya, dia bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. “Bertanam bawang merah ini kan mudah, hanya waktu seminggu – dua minggu pertama tanaman ini ditutupi dari hujan dan panas secara langsung, selebihnya bisa dibuka, seperti yang sekarang ini lah, terbuka langsung, tak ada penutup di atasnya langsung langit,” katanya.

Besar dan Kecil.
Menurutnya, ukuran bawang merah yang ditanamnya ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Jika ingin membuat bawang merah ukuran besar, maka di dalam media tanamnya, baik itu pot, polybag, cukup ditanami dengan 1 butir bibit. begitupun untuk membuat ukuran bawang merah yang kecil, sebagaimana bawang merah lokal yang dijual di pasaran, maka di dalam polybagnya harus diperbanyak. “Semakin sedikit bibit di dalam polybag, maka siungnya semakin besar, semakin rapat siungnya, maka semakin kecil,” katanya.

Ketika ditanya mengenai pasar yang akan mau menampung bawang merah dengan ukuran besar dan kecil, menurutnya, tidak perlu khawatir. Pasalnya, banyak rumah makan-rumah makan yang mau membeli bawang merah ukuran besar, misalnya seukuran bawang bombay. Apalagi untuk bawang merah ukuran kecil seperti yang banyak dijual di pasaran Kota Medan. “Dan kita sudah ada pasar yang akan menampung dari panen di sini,” katanya.

Dia menyatakan, semua yang sudah dilakukannya sebenarnya bisa dilakukan oleh orang lain. Karena bibit bawang merah saat ini mudah didapatkan. Kemudian, cara bertanam juga tidak sulit. Kemudian, pasar yang akan menampung juga besar. “Kalau di lantai 5 dengan media tanam seperti ini saja bisa, kenapa yang lain tidak mencobanya juga, tidak ada alasan apapun untuk ragu bertanam bawang merah, kalau lahannya sempit, bisa di polybag atau pot, dan kalau punya lahan tanah pekarangan, manfaatkan saja,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk pertanaman bawang merah ini, dia tidak menggunakan umbi, tetapi dia menanam bibit bawang merah Tuktuk dari Panah Merah – East West Seed, berupa biji. Bibit yang sama banyak ditanam oleh petani bawang merah di Pasar 4, Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan. Bedanya, di Medan Marelan ditanam di sebidang tanah sedangkan yang dilakukan oleh Pak Kim menggunakan media polybag, pot bunga dan cover ban mobil. Begitupun ditanam tidak di atas tanah, tetapi di lantai lima atau paling atas rukonya.

Perbedaan lainnya, pertanaman di Medan Marelan perlu penyemaian, sedangkan Pak Kim tidak. Dia menjadikan tempatnya tumbuh dari mulai bibit berupa biji sampai dia membesar sebagai tempatnya bertumbuh. Dengan demikian, ada efisiensi waktu dan pengerjaan yang lebih praktis. “Karena, sudah begitupun sudah tumbuh dengan baik, tak perlu dipindahkan lagi, itu kalo ditanam di polybag,” katanya.

Peluang Menggiurkan dari Bawang Merah
Pusing dengan harga bawang merah yang kerap melambung tinggi? Kenapa tak memulai bertanam sendiri di rumah? Pusing karena tak tahu bagaimana bertanam bawang merah? Kenapa tak mencobanya dari sekarang? Beli bibitnya, siapkan tanahnya, sisihkan waktu sejenak. Tak perlu berlama-lama. Dan, lahan sepetak kecil pun bisa ditanami bawang merah. Pusing karena tak punya lahan tanah yang luas? Kenapa tak menanamnya di polybag?

Sebagai gambaran, saat ini harga bawang merah di pasaran Medan antara Rp 30.000 – Rp 40.000/kg. Bawang merah, membutuhkan waktu panen selama 3 bulan. Maka, sekarang lah waktu yang tepat untuk bertanam bawang merah. Tujuannya, pertama tidak perlu lagi membeli bawang merah di pasaran dengan harga mahal. Kedua, bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah, misalnya khususnya untuk lingkungan yang paling dekat. Dengan kata lain, bertanam bawang merah menjadi peluang usaha juga dimiliki oleh orang yang tinggal di tengah kota, tidak hanya dimiliki oleh orang yang punya lahan/tanah di desa atau pinggiran kota.

Selain itu, bertanam sendiri merupakan salah satu cara yang tepat untuk sedikit melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bawang merah impor. Sebagaimana diketahui, produksi bawang merah di Sumut masih sekitar 13.703 ton per tahun dengan sentra produksi berada di di dataran tinggi seperti di Toba Samosir, Samosir, Simalungun, dan Karo.

Pada tahun 2012, produksi bawang merah di Sumut 14.156 ton dari lahan seluas 1.581 hektare. Angka tersebut lebih tinggi dari setahun sebelumnya dengan produksi sebesar 12.449 ton dari lahan seluas 1384 hektare. Sementara kebutuhan mencapai 34.395 ton sehingga kekurangannya mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa dan impor.

Kim, atau yang juga dikenal dengan panggilan Pak Kim, seorang yang ulet dalam bertanam. Dia banyak melakukan eksperimen mulai dari media tanam, trik khusus menentukan ukuran besar kecil bawang merah, ataupun efisiensi penggunaan tanah di dalam polybag. Dia tidak peduli dengan keterbatasan lahan di tengah Kota Medan. Dia menjadikan atap rukonya sebagai tempat bertanam bawang merah. Hasilnya, tidak kalah dengan yang ditanam di atas tanah di Medan Marelan, misalnya. “Bertanam ini bisa di mana saja,” ujarnya tentang pertanaman bawang
merahnya.

Kenapa dia memilih bawang merah, bukan tanpa alasan. Dari yang sudah diperhitungkannya, dengan media tanam polybag, dalam ukuran tanah 1×1 meter, bisa diisi dengan 25 polybag. Dari tiap polybag, bisa diisi hingga 8 siung. Untuk menghasilkan 1 kg bawang merah, hanya dibutuhkan 4 polybag saja. “Bisa saja malah lebih, karena kadang dari 4 polybag, ternyata bisa juga sampai 1,2 kg, itu hanya dihitung dari pemanfaatan lahan 1×1 meter saja, sedangkan harga bawang merah sekarang sudah berapa,” katanya.

Dikatakannya, dirinya saat ini sudah banyak melakukan pemanenan. Dan akan panen secara berkesinambungan sampai beberapa bulan mendatang karena usia tanamannya berlainan. “Ini nantinya akan panen terus-terusan, sampai beberapa bulan mendatang, dan kalau sudah habis, kita juga tanam baru lagi, sampai kapan, ya sampai bosan, tapi kayaknya tak ada bosannya saya bertanam,” katanya.