PENDIDIKAN AGAMA, SAINS DAN TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM

Pendidikan berbasis agama terus meningkat, disisi lain pertumbuhan industri seperti kehadiran perusahaan juga meningkat hingga ke desa-desa. Ironisnya, kebutuhan perusahaan untuk mengisi tenaga kerja tidak sesuai dengan ilmu yang dimiliki anak-anak lulusan sekolah yang berbasis agama. Di Provinsi Banten ketika ada bursa tenaga kerja yang dibutuhkan ribuan orang, tetapi penduduk lokal warga Banten yang memenuhi kriteria hanya puluhan orang. Inilah potensi konflik yang berkelanjutan antara penduduk lokal dengan pendatang saat ini dan dimasa yang akan datang.

Dalam diskusi saya dengan Pengurus Wilayah Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar di Pandeglang Banten baru-baru ini terungkap bahwa kebutuhan ikan Mas (Cyprinus Carpio) untuk masyarakat Pandeglang sekitar 10-15 ton per hari berasal dari Jawa Barat seperti dari waduk Saguling dan Cirata. Padahal, zaman dulu di Pandeglang dikenal ikan mas si nona yang rasanya gurih dan sedap. Demikian juga kebutuhan ikan lele (Clarias sp) yang dikonsumsi masyarakat Pandeglang banyak dari daerah lain. Padahal, kualitas air dan kesuburan tanah untuk budidaya ikan-ikan air tawar di Pandeglang sangat cocok. Bagaimana peran Pondok Pesantren dalam menyiasati persoalan kebutuhan masyarakat?. Bagaimana pula kesiapan Pondok Pesantren dalam menyiasati Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang telah diresmikan Presiden Jokowi Tanjung Lesung di Banten itu?.
Persoalan semacam ini tidak hanya di Banten, tetapi hal semacam ini terjadi hampir di seluruh nusantara. Pendidikan berbasis agama (semua agama) belum mampu menjawab persoalan masyarakat. Disisi lain, lulusan Universitas sibuk mencari kerja untuk bekerja di perusahaan dan statusnya sebagai pendatang karena umumnya anak rantau. Masyarakat lokal acapkali menganggap kehadiran perusahaan sebagai “penjajah” karena masayarakat lokal menjadi penonton di kampung halamannya. Seolah-olah lulusan sekuler versus lulusan lulusan pendidikan berbasis agama. Lulusan sekuler sebagai karyawan dan lulusan pendidikan berbasis agama menjadi korban karena korban kehadiran perusahaan. Juga karena perusahaan telah membeli lahan dari penduduk lokal.
Dalam kajian sosial dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) biasanya ditulis mengutamakan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja, tetapi dalam kenyataanya perusahaan sulit memenuhi apa yang tertulis di AMDAL karena penduduk lokal tidak ada yang memenuhi kriteria. Perusahaan memiliki niat merekrut penduduk lokal tetapi karena tidak memenuhi kriteria, terpaksa dicari dari tempat lain. Tidak mudah mendidik penduduk lokal untuk memenuhi kriteria yang dibuat oleh perusahaan. Sebab, perusahaan juga ingin berjalan dengan baik.
Salah satu peserta diskusi dari Mathla’ul Anwar mengatakan, mungkin saja Pondok Pesantren melahirkan Madrasah Aliyah Kejuruan bidang pariwisata dalam rangka menyiasati kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung dan Madrasah Aliyah Kejuruan yang dibutuhkan bursa tenaga kerja. Pondok Pesantren sebagai tuan rumah harus mengambil peran strategis dalam menyiasasti arus global yang tidak terbendung lagi, tukasnya. Pondok Pesantren memang harus kreatif dan inovatif menyikapi perubahan zaman, sahut salah satu peserta diskusi.
Perbincangan saya dengan Muhammad Haizun Rozali dari Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) di tempat yang sama cukup menarik. Haizun Rozali mengatakan di USIM itu berkomitmen untuk mengintegrasikan Ilmu Islam dengan Sains. Semboyan USIM itu adalah Menjadi Pelopor Sains Islam dan Memimpin Keilmuan. Kerjasama kedua lembaga antara Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar dengan USIM dalam rangka mengintegrasikan Ilmu Agama Islam dengan Sains perlu ditumbuhkembangkan agama-agama lain di Indonesia dalam rangka ketahanan pangan dan menyelamatkan lingkungan.
Ilmu Agama dengan sains bertemu dalam satu irisan. Dalam ilmu matematika kita mengenal Himpunan. Himpunan semestanya adalah lingkungan yang didalamnya ada himpunan Ilmu Agama dan Ilmu Sains. Irisan Ilmu Agama dan sains adalah peradaban manusia. Tidak ada agama yang tidak menawarkan peradaban dan tujuan ilmu pengetahuan atau sains juga membangun peradaban manusia. Ilmu agama yang beradab dan ilmu sains yang beradab mengakibatkan lingkungan yang lestari.
Paradigma mengintegrasikan Ilmu agama dengan sains harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan pelaku pembangunan. Tiga komponen antara Pelaku pendidikan, pemerintah dan swasta harus satu persepsi. Kalau Pondok Pesantren telah merubah paradigma, sementara pelaku usaha tidak memahami perubahan itu maka lulusan pendidikan berbasis agama tetap saja tidak lulus karena persepsi yang membutuhkan penerima tenaga kerja tidak berubah juga. Dari pemerintah harus satu persepsi karena menyangkut alokasi dana pendidikan. Kita menyadari pendidikan membutuhkan biaya yang besar.
Menyadari bahwa menjawab persoalan masyarakat seperti kelaparan dan konflik sosial akibat ketidakadilan pembangunan maka pendidikan berbasis agama harus menjadi ujung tombak dalam menjawab kebutuhan masyarakat seperti ketahanan pangan. Pendidikan berbasis agama harus mampu mengintegrasikan ilmu agama dengan sains yang tidak terlepas dari pelestarian lingkungan. Ilmu Agama dan sains harus dalam bingkai lingkungan hidup. Sebab, setinggi apapun ilmu agama kita dan keilmuwan kita untuk menjawab persoalan rakyat, akan sia-sia jika tidak menyadari bahwa kita tak bisa hidup tanpa lingkungan.