Pengaruh Modernisasi terhadap Kearifan Bajo dalam Pemanfaatan Sumber Daya Hayati Laut

Pengelolaan sumberdaya alam kerap sekali dikaitkan dengan kearifan lokal yang dimiliki suatu komunitas adat. Namun, dari segala potensi sistem pengelolaan sumberdaya laut (alam) banyak mengalami tantangan. Salah satunya adalah tantangan modernisasi. Pada era ini pengaruh modernisasi sangat kuat. Modernisasi merupakan proses transformasi dimana terjadi perubahan masyarakat dalam segala aspek. Salah satunya, modernisasi melalui peningkatan dan penggunaan teknologi alat tangkap serta bantuan pemodalan berimplikasi pada kegiatan serta organisasi penangkapan ikan dan pada akhirnya terjadi perubahan dalam suatu komunitas (Hamzah, 2008). Seperti halnya dengan program motorisasi dengan istilah revolusi biru, menurut Solihin dalam Hamzah (2008) bukannya menciptakan perikanan semakin maju dan pelakunya (nelayan) menjadi sejahtera, namun program tersebut menciptakan kompleksitas permasalahan perikanan, seperti degradasi ekosistem lingkungan pesisir dan laut yang berujung pada kelangkaan sumberdaya ikan. Hal ini menjadi perhatian karena tidak semua lapisan nelayan dapat memanfaatkan peluang modernisasi.

Suku Bajo memiliki seperangkat kearifan lokal dalam pengelolaan pesisir dan laut karena kaitannya yang sangat erat yang menjadikan laut sebagai tempat keramat dan dimiliki nenek moyang dibanding dengan suku lain seperti Bugis-Makassar yang mampu menyelenggarakan kehidupannya di semua tempat (Hamzah 2008). Masuknya modernisasi pada suku Bajo jelas bersentuhan dengan nilai budaya, gaya hidup, dan pada satu sisi berdampak pada efektifitas dan peningkatan hasil tangkapan nelayan. Alih teknologi dapat dipastikan meningkatkan produksi dan pendapatan nelayan.

Perlu diketahui, suku Bajo mendiami hampir sebagian perairan di Indonesia, terutama di wilayah timur Indonesia dan selain di Indonesia, suku Bajo juga mendiami perairan Johor dan Filipina. Suku Bajo dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup dan matinya berada di atas lautan. Bahkan perkampungan suku Bajo dibangun menjorok ke arah lautan bebas, tempat mencari penghidupan. Sebagai masyarakat pesisir, suku Bajo memiliki karakter yang keras, tegas, dan terbuka. Karena seluruh kehidupannya yang berhadapan dengan laut, karakteristik kehidupan sosial, budaya dan ekonominya sangat dipengaruhi oleh pandangan mereka terhadap kekuatan alam yang melingkari kehidupan sehari-hari.

Penuturan Bahtiar (2012) pada penelitian Suku Bajo di Kepuluan Tiworo dan Napa Balano Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, bahwa suku Bajo memiliki seperangkat kearifan ekologi yang dapat dikreasi dan digunakan sebagai salah satu model alternatif dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. Salah satunya seperti pamali dan ongko. Masyarakat Bajo sangat percaya bahwa mereka tidak boleh merusak tempat yang melanggar pamali, jika mereka merusaknya maka dipercaya akan mendapat hukuman atau kutukan dari Mbo (pemberi rezeki).

Adapula menurut hasil studi Ramli Utina (2012) pada suku Bajo di Desa Torosiaje, Provinsi Gorontalo, mengatakan bahwa suku Bajo memiliki tradisi melaut yang disebut Mamia Kadialo. Tradisi mamia kadialo berupa pengelompokan oran ketika ikut melaut dalam jangka waktu tertentu serta perahu yang digunakan. Ada 3 kelompok tradisi ini yaitu: palilibu, bapongka, dan sasakai. Palilibu, adalah kebiasaan melaut yang menggunakan perahu jenis soppe yang digerakkan dengan dayung, kegiatan melaut ini hanya dalam 1-2 hari. Bapongka, kegiatan melaut selama bebrapa minggu bahkan bulan dnegan menggunakan perahu besar yang disebut leppa. Sasakai, yaitu kebiasaan melaut menggunakan beberapa perahu untuk melaut selama beberapa bulan dengan wilayah jelajah antar pulau. Kemudian mengenai perilaku memperoleh hasil tangkapan, Bajo menangkap ikan dengan memancing atau menggunakan tombak sambil menyelam. Hal yang mengesankan adalah, ikan diberi kesempatan untuk mencapai suatu stadium dewasa hingga dapat berkembangbiak, dengan demikian sumberdaya hayati laut berpeluang untuk meningkatkan populasinya guna mempertahankan spesiesnya.

Namun sayang, kearifan tersebut kini rupanya sudah mulai terkikis seiring perubahan zaman dan pengaruh budaya masyarakat yang datang dari luar komunitas suku Bajo dengan berbagai jenis alat tangkap dan teknologi yang lebih modern telah memicu persaingan (Bahtiar, 2012).

Komunitas suku Bajo yang berada di Pulau Sapeken, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur sama halnya dengan Indonesia yang diapit dengan dua benua dan beberapa negara dengan berbagai budaya. Menurut Taunay (2013), Pulau Sapeken berada pada pertengahan tiga ranah budaya, yakni: sisi barat ranah budaya jawa-kalimantan, sisi timur ranah budaya sulawesi barat-flores, dan sisi selatan ranah budaya bali. Selain itu, Pulau Sapeken juga berada tepat ditengah antara pulau-pulau di Kepulauan Kangean, yang menjadikannya sebagai titik ‘pengirim’ dan ‘penerima’ muatan (kebutuhan rumah tangga). Dengan menjadi titik pusat tersebut, Pulau Sapeken sangat didukung dengan armada transportasi laut yang memadai. Bahkan, untuk di Kecamatan Sapeken (17 pulau) semua rute taxi laut (perahu penumpang) harus bersinggah terlebih dahulu di Pulau Sapeken untuk melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lainnya. Dengan kondisi Pulau Sapeken yang seperti itu, peluang ekonomi yang hidup sangat menarik bagi warga pendatang. Dari hal-hal tersebut, maka manjadi faktor penting dalam masuknya pengaruh modernisasi terhadap komunitas Suku Bajo disana.

tempat parkir perahu para nelayan Bajo
IMG_2265

Menurut Mujani (nelayan Bajo, 45 tahun) sejak tahun 80-an nelayan Bajo di Pulau Sapeken sudah mulai menggunakan perahu dengan tambahan mesin berkekuatan 3-5 GT. Kini, sudah hampir seluruh nelayan Bajo di Pulau Sapeken menggunakan perahu dengan tambahan mesin tersebut, namun layar dan dayung masih dipergunakan apabila angin kencang untuk menghemat bahan bakar. Tidak jarang nelayan Bajo yang pada asalnya nelayan perorangan, kini bergabung dengan kapal besar menggunakan alat tangkap purse seine di kelompok-kelompok nelayan bersamaan dengan orang Bugis dan Mandar. Alat tangkap yang digunakan nelayan Bajo hingga kini mayoritas dengan memancing, dengan seutas benang pancing tanpa joran serta umpan yang dikaitkan di mata pancing. Umpan yang digunakan pun tidak selalu umpan ikan segar, seringkali nelayan Bajo menggunakan dodoah, sejenis umpan berbentuk ikan tiruan dibuat dari batang kayu dan pemberat dari timah. Adapun nelayan Bajo yang menggunakan alat tangkap tombak, sejenis senapan terbuat dari kayu dengan dikaitkan tombak dari besi tipis dan tombak besi itu akan melesat bila pelatuk ditekan. Namun, akhir tahun 2015 hal ini (alat tangkap tombak) sering menjadi perseteruan antar nelayan karena penggunaan alat tangkap tombak sembari menyelam dengan menggunakan alat bantu bernapas kompresor yang biasa digunakan untuk isi angin ban kendaraan. Menurut Haji Ali (Aktivis lingkungan Sapeken, 54 tahun) alat bantu bernapas kompresor bukanlah budaya asli dari Sapeken, melainkan kepentingan juragan-juragan ikan pendatang yang meminta nelayan bawahannya agar hasil tangkapan melimpah.

IMG_3011
tombak senapan digunakan dengan menyelam

Menurut Halid (nelayan Bajo, 87 tahun) bahwa Pulau Sapeken merupakan pulau yang laris manis, posisinya yang strategis membuat pulau ini seringkali disebut Surabaya Kecil. Sudah menjadi minoritas kelekatan budaya Bajo pada masyarakat di Pulau Sapeken, meski bahasa di pulau ini menggunakan bahasa Bajo. Penggunaan armada laut sudah banyak yang berubah, tidak lagi untuk hanya keperluan sehari-hari dalam memperoleh hasil tangkapan ikan, sudah banyak pencampuran budaya (asimilasi) antara Bajo-Bugis-Mandar dalam gaya pemanfaatan sumber daya hayati pesisir dan laut. Kini, sulit mendapatkan ikan terutama pada musim kemarau, harus keluar pulau dengan jarak yang jauh untuk mendapatkan ikan.

Masuknya modernisasi menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas suku Bajo di Pulau Sapeken, mencari ikan di laut buka lagi untuk hanya keperluan sehari-hari kelaurga Bajo tapi untuk kepentingan pasar di Pulau Sapeken. “sekarang kami harus pongkat (melaut) dalam sehari bisa 3 kali berangkat (pagi hari, siang hari, dan malam hari) karena persaingan dalam menangkap ikan disini sudah sangat sengit. Jika kami tidak mendapatkan ikan, tidak ada yang bisa kami jual yang hasilnya unutk kami gunakan keperluan sehari-hari” (Baco, nelayan Bajo 43 tahun).