Peran Lingkungan Sekolah Sebagai Sarana Pembelajaran Biologi

JAKARTA – Saat ini peranan sekolah sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangat diperlukan, selain untuk sarana menimba ilmu, peranan sekolah juga dapat sebagai RTH. Tidak hanya itu, lingkungan sekitar sekolah yang masih banyak pepohonan, juga sangat berperan penting sebagai RTH baik seperti pekarangan rumah, taman-taman kota, arboretum, maupun lapangan bola.

Mengingat RTH saat ini sangatlah terbatas dikarenakan RTH banyak dijadikan untuk pembangunan jalan, pemukiman, pertokoan, industri, tempat rekreasi, dan gedung-gedung pencakar langit. Sekolah dan lingkungan sekitarnya sebagai RTH sangatlah penting untuk menunjang kehidupan flora dan fauna serta manusia. Suasana yang terlihat lebih asri, teduh dan nyaman dikarenakan banyak rerimbunan pohon yang hijau menjadi tempat yang nyaman bagi manusia maupun satwa liar yang berada di sekitarnya. Selain itu, keberadaan flora dan fauna di lingkungan sekolah dapat dijadikan sebagai laboratorium alam oleh guru beserta siswa dan siswinya sebagai sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi.

Oleh karena itu, Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta melalui Biological Bird Club (BBC) Ardea bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melalui gerakan Biodiversity Warriors dan Yayasan Perguruan SMA Sumbangsih ingin melihat potensi keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekolah SMA Sumbangsih melalui kegiatan Biodiversity Warriors Goes To School. “Melalui kegiatan tersebut, diharapkan seluruh warga sekolah dapat mengenal, peduli  dan melestarikan keanekaragaman hayati yang berada di lingkungan sekolah dan dapat dijadikan sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi” Ujar Kepala SMA Sumbangsih, Drs. Akhmad Nidom, Sabtu 28 November 2015

Siswa dan siswi KIR SMA Sumbangsih, November. Setiap sepulang sekolah mengamati keanekaragaman hayati yang terdapat di lingkungan sekolah. Foto: Ahmad BaihaqiSiswa dan siswi KIR SMA Sumbangsih melakukan pengamatan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah. Foto: Ahmad Baihaqi.

Keberadaan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dapat merubah pola pikir para guru bahwa kegiatan belajar mengajar tidak hanya dapat dilakukan di dalam ruang kelas atau laboratorium saja, melainkan di pekarangan sekolah juga dapat dijadikan sebagai laboratorium alam yang merupakan sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi. Selain itu, hal tersebut juga dapat menjadi pengingat bagi warga sekolah untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah.

Sebagai kegiatan awal Biodiversity Warriors Goes To School, pada Bulan November 2015 di SMA Sumbangsih telah diadakan workshop “Peran Lingkungan Sekolah Sebagai Sarana Pembelajaran Biologi”. Dalam workshop tersebut para peserta yang terdiri dari siswa dan siswi yang tergabung dalam ekskul KIR dan pecinta alam di sekolahnya, dikenalkan tentang keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah beserta fungsinya dan metode pengamatan keanekaragaman hayati oleh Pembina KIR SMA Sumbangsih, dosen-dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta dan mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional yang tergabung dalam Biological Bird Club Ardea. “Kami berharap workshop ini dapat memberikan pemahaman pada guru  dan siswa tentang keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dan mampu membekali mereka dengan kemampuan metode pengamatan keanekaragaman hayati serta hasil pengamatan tersebut dapat menjadi buku panduan yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran khususnya di bidang biologi” ujar Drs. Imran S.L. Tobing, M.Si selaku Keynote Speaker dan Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta .

Sementara itu, Teguh Triono selaku Direktur Program Yayasan KEHATI, mengatakan bahwa mengetahui potensi keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah sangatlah penting, hal ini dikarenakan keberadaan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dapat menjadi indikasi bahwa lingkungan sekolah tersebut memiliki kualitas lingkungan yang baik atau buruk dan membangkitkan kesadaran warga sekolah untuk dapat ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melalui gerakan Biodiversity Warriors  memiliki program Goes To School “Peran Lingkungan Sekolah Sebagai Sarana Pembelajaran Biologi” dimulai pada bulan September di SMA Suluh, Bulan Oktober di SMA Negeri 7 Jakarta dan Bulan November tahun 2015 di SMA Sumbangsih, Jakarta. Keanekaragaman hayati yang diamati meliputi burung, capung, kupu-kupu, herpetofauna (reptil dan amfibi), mamalia, jamur dan vegetasi. Harapannya, kegiatan ini dapat dilakukan diseluruh Sekolah yang ada di DKI Jakarta.

Salah satu keanekaragaman hayati yang berhasil diamati adalah capung kembara (Pantala flavescens). Jenis capung ini aktif pada pagi dan sore hari dan dapat dijumpai di dataran rendah sampai dataran tinggi, khususnya di tempat-tempat terbuka, di tepi sungai, area persawahan, padang rumput, lapangan sampai di sekitar pekarangan. Capung ini paling mudah dijumpai sepanjang tahun terutama saat musim hujan populasinya lebih banyak.

Salah satu keaneakaragaman hayati yang berada di lingkungan SMA Sumbangsih, Jakarta. Capung kembara. (Pantala flavescens) Foto: Ahmad BaihaqiKeanekaragaman hayati yang berhasil diamati adalah capung kembara  (Pantala flavescens). Foto : Ahmad Baihaqi

Keberadaan capung di suatu lingkungan mengindikasikan bahwa lingkungan tersebut memiliki kualitas air dan udara yang masih baik. Selain itu, peran capung di alam juga sebagai biokontrol, capung sebagai predator yang memangsa serangga hama di suatu lingkungan. Di samping itu, capung juga sebagai sumber inspirasi seperti pembuatan helikopter tidak terlepas dari kemampuan terbang capung.

Maka dari itu, mari bersama-sama kita mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati di sekitar kita..