PEREMPUAN PENJAGA TEMBAWANG

Pohon di TembawangTidak mudah memang mengilustrasikan kisah tembawang. Perbedaan latar belakang suku serta lingkungan hidup yang belum pernah menjamah keberadaan Tembawang menjadi kendala. Namun, ketika mendengar cerita seorang Ibu dan dua anaknya dari seorang teman, Ibu yang menjaga Tembawang dengan segala upaya dan rela berkorban waktu. Membuat keberanian serta kekuatan rasa ingin tahu mengungkap Tembawang semakin kuat. Letak tembawang yang diceritakan tersebut berada di Desa Tanjung Maju, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

/Perjalanan Menuju Desa Tanjung Maju/

Perjalanan dimulai sedini itu. Matahari baru lahir dari kandungan langit. Lokasi desa Tanjung Maju sekitar tiga jam tiga puluh menit dari kota Pontianak. Sesampainya disana sambutan suasana hening, rumah berbaris rapi dengan atap daun sagu serta dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang menjulang tinggi ke langit. Air masih menetes dari daun-daun yang membasahi lantai bumi. Cahaya matahari terpancar melalui celah-celah daun rindang. Terasa masih begitu melegakan udara di pagi itu. Roda motor terhenti di depan sebuah kerumunan ibu-ibu yang tengah sibuk menganyam daun kelapa menjadi karpet. Sebagian lagi sedang membuat tanggui. Alat kepala penghindar panas layaknya topi. Tidak lama kemudian, lontaran pertanyaan terucap dari ibu paruh baya. Suara ramah memecah keheningan. Maksud dan tujuan kedatangan disampaikan sembari berbasa-basi mengakrabkan diri. Namanya Ibu Simon. Tidak disangka, Ibu simon adalah tokoh perempuan yang menjadi buah bibir teman dayak kemarin yang bercerita. Ibu Simon inipun menunjukan keramahannya seperti yang diperbincangkan sebelumnya oleh temanku.

Derap kaki mulai melangkah meninggalkan kerumunan. Sampailah disebuah rumah yang terletak di ujung kampung. Sebuah pohon besar menyambut kunjungan kami di perkarangan rumah. Daun-daun tertata rapi menjadi sebuah tumpukan. Disitu pula ada sebuah kursi dan meja tempat melepas lelah. Disitu Ibu simon mulai bercerita.

“Masyarakat suku dayak disini mengenal Tembawang dengan Timawangk atau kampung lama. Disebut kampung lama karena dulunya pedukuhan yang diawali dengan berladang serta disekelilingnya ditanami kebun buah seperti durian, cempedak, langsat, dan tanaman buah lainnya”. Katanya.

Lanjutnya lagi, “Kampung akan menjadi Tembawang jika lokasi tersebut tidak digunakan lagi untuk berladang. Sayang jika tanaman buah ditebang karena sudah besar dan menghasilkan buah”. Tuturnya.

Tembawang adalah sumber penghidupan masyarakat. Meskipun, panen buah dilakukan setahun sekali. Namun, setiap panen hasilnya berlimpah. Cukup membantu perekonomian keluarga. Masyarakat punya adat istiadat dalam memanfaatkan Tembawang. Sebelum berbunga, ada upacara adat agar bunga yang tumbuh tidak gugur sehingga hasil buah berlimpah. Pada saat panen, ada lagi ritual adat sebagai rasa syukur hasil panen. Banyak aturan adat yang mengatur Tembawang sehingga kondisinya masih terjaga sampai sekarang. Sanksi adat diberlakukan jika menebang satu pohon saja tanpa ada sosialisasi dengan masyarakat tentang alasan mengambil kayu di Tembawang. Beruntung, kedatangan kami pada musim buah. Ibu Simon mengantar ke Tembawang pada saat buah-buah lahir dari batangnya. Sepanjang perjalanan di lokasi Tembawang seperti pasar pagi. Terdapat banyak titik cahaya terpancar dari pembakaran ranting kering. Setiap titik terlihat 5-6 orang sedang berkerumun. Kebanyakan perempuan dan anak-anak usia 10-15 tahun.

Ibu simon bercerita pada saat musim Tembawang, ibu dan anak-anak akan berjaga di Tembawang. Mereka menunggu buah matang jatuh dari pohon. Mereka berkumpul 5-10 orang menunggu buah jatuh sambil membuat api-api untuk menghangatkan badan dan menghalau nyamuk. Rutinitas dilakukan setiap hari saat musim panen. Masyarakat turun dari rumah mulai jam 10 malam dan pulang setelah matahari muncul di ufuk timur. Pada saat mengunggu, orang yang dituakan akan bercerita sejarah Tembawang, sejarah suku, dan nilai-nilai di masyarakat yang menjadi adat dan istiadat. Nilai-nilai diceritakan sampai pendengar mengerti dan mampu menceritakannya kembali. Adat istiadat tersebut sudah dilakukan sejak dulu. Sehingga generasi sekarang mengerti nilai-nilai di masyarakat yang mereka harus patuhi.

Perjalanan semakin jauh ke hutan. Semakin kedalam semakin banyak terlihat kerumunan orang. Suasananya seperti pasar pagi. Hutan yang bisanya hening menjadi ramai. Dipenuhi orang dan cahaya tembusan dedaunan yang seolah-oleh menyatu sehingga menyinari seisi hutan. Langkah kaki terhenti disebuah pohon besar. Ibu simon mengambil ranting-ranting kering untuk menyalakan api. Sembari membersihkan lokasi di sekeliling agar bisa diduduki.

Sesaat kemudian, Ibu simon melanjutkan ceritanya.

“Itulah kenapa Tembawang penting. Tidak hanya menjadi sumber tambahan ekonomi masyarakat. Tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya. Tembawang sebagai sumber air bersih menjadi pemersatu masyarakat. Jika ada yang tidak memperoleh hasil panen buah karena buah belum masak, yang lain akan membagikan buahnya. Masa panen juga masa mendidik generasi muda. Mengajarkan pentingnya hutan dan waktu bagi orang tua untuk memberikan nilai moral kepada generasi muda”.

Bagi kaum perempuan, Tembawang diwariskan rata dengan laki-laki. Mereka diberi kuasa memiliki, bahkan hak menjual. Sangat jarang kisah perempuan menjual Tembawang. Nilai Tembawang penting bagi perempuan untuk menularkan nilai-nilai moral bagi anaknya, membantu perekonomian keluarga serta sebagai tempat perempuan belajar cara pengobatan tradisional.

Itulah kenapa Tembawang penting tidak hanya bagi laki-laki. Perempuan menjaga dan merawat Tembawang bagai anaknya. Termasuk saat perkebunan sawit mulai bermanis ria menawarkan peluang ekonomi jika direstui membuka perkebunan. Perempuan termasuk Bu Simon, mempertahankan tembawang dengan sekuat tenaga, tidak ada alasan perkebunan masuk, katanya. Kami perempuan-perempuan tidak setuju.

Nada suara Ibu simon mulai meninggi. Semangatnya bercerita semakin menguat. Layaknya seorang orator yang menegaskan identitas diri.

“Masyarakat beruntung mempunyai contoh. dua Kampung dari sini sekarang hidupnya tidak tenang karena merestui perkebunan sawit masuk. Setiap harinya, ada saja masalah muncul. Tembawang disana tinggal sedikit. Tinggal dimiliki beberapa keluarga. Gaya hidup generasi muda mulai aneh-aneh. Orang luar banyak berdatangan dari seluruh penjuru. Masyarakat bekerja sepanjang hari. Tidak banyak waktu lagi untuk bercerita menularkan nilai-nilai sosial ke generasi muda. Sudah 5 tahun perkebunan sawit masuk. Tidak ada perubahan muncul.

Cerita tersebut menjadi bekal Ibu simon mengajak perempuan di Kampung untuk teguh menjaga Tembawang. Satu persatu perempuan didatangi agar bersama-sama menjaga Tembawang. Pekerjaan yang tidak mudah bagi Ibu Simon. Banyak yang setuju. Tidak sedikit menolak. Tekadnya yang membara sedikit demi sedikit menuai hasil. Kaum perempuan mulai mengerti kenapa Tembawang tidak untuk perkebunan sawit. Hingga akhirnya masyarakat satu suara tidak menyerahkan Tembawang menjadi sawit.

Tidak terasa, matahari mulai muncul dari ufuk timur. Bu Simon beranjak meninggalkan hutan. Pengalaman hidup Ibu Simon telah ditumpahkannya satu persatu. Ceritanya memberikan gambaran tentang Tembawang secara utuh. Rasa ingin tahu tentang Tembawang terbayar tuntas. Lelah sepanjang hari terbayar dengan kisah inspiratif dari seorang perempuan tidak berpendidikan. Muncul niat dihati untuk ikut bersama Ibu Simon menjaga Tembawang.