Sengarat, Si kumis yang hampir terlupakan

Riau merupakan rumah bagi sebagian besar ikan air tawar khususnya dari Family Siluridae. Riau dengan 5 sungai besar yang dimilikinya menyimpan kekayaan plasma nutfah ikan air tawar yang cukup tinggi. Sungai-sungai tersebut memiliki ciri yang cukup unik dibanding dengan sungai lainnya. Keunikan sungai ini antara lain: airnya berwarna cokelat gelap dan pHnya relatif rendah akan tetapi, airnya tiduk keruh. Sungai pada umumnya memiliki pH 6.5-8.5 sedangkan rata-rata pH sungai yang ada di Riau 5-6, ini diakibatkan karena sungai-sungai tersebut termasuk dalam sungai paparan banjir yaitu, sungai yang dipengaruhi oleh fluktuasi air hujan. Lima sungai besar tersebut adalah sungai Kampar, Siak, Indragiri, Rokan dan sungai Kuantan.

Dengan kondisi perairan yang berpH rendah dan warna air yang gelap mengakibatkan ikan-ikan yang mendominasi perairan tersebut berasal dari spesies yang mampu beradaptasi pada kondisi perairan miskin oksigen, ikan tersebut kebanyakan berasal dari family Siluridae. Ikan dengan ciri khas berkumis ini tersebar banyak di perairan Riau contoh ikan tersebut ikan Lele, Patin, Toman, Lais, dll. Lais memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat Riau dan merupakan spesies kebanggaan provinsi Riau. Ikan yang merupakan icon dari Riau ini memiliki ciri umum bentuk tubuh pipih memanjang, tidak memiliki sisik, bentuk kepala seperti kerucut, bagian mulut cukup lebar dengan untaian kumis panjang di kedua sudutnya.

Perairan Riau menyimpan beberapa marga ikan Lais ini, seperti Kriptopterus, Ompok, Belodontichthys, dll. Icon provinsi Riau ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi, Ikan ini dijadikan wisata kuliner yang populer di Riau. Ikan ini dapat ditemukan dalam bentuk segar dan berupa asapan. Ikan segar dijual Rp.60.000,00/kg, sedangkan ikan asap di jual Rp.170.000,00/kg. Tidak hanya didalam negri ikan Lais yang telah diasapkan juga diekspor ke negeri tetangga seperti Malaysia. Tingginya nilai ekonomis ikan ini mengakibatkan persentase penangkapan di habitat aslinya cukup tinggi pula. Akibatnya, terdapat banyak spesies ikan Lais yang jumlahnya telah berkurang derastis dan hampir terlupakan oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah ikan Sengarat, Ikan yang berasal dari genus Belodontichthys dengan nama latin Belodontichthys dinema ini terkadang di sebut juga Lais Tabirin di daerah lain.

Di provinsi Riau Ikan ini lebih akrab di sapa dengan sebutan Lais Sengarek. Ciri ikan ini tidak memiliki sirip lemak dan tidak memiliki duri di sirip punggung, sedangkan sirip duburnya sangat panjang. Ukuran Sengarat begitu bervariasi dari yang kecil sampai yang besar, panjangnya dapat mencapai 3m. Umumnya Sengarat hidup di sungai dan danau dan biasanya hidup di lapisan bawah. Ikan kecil memakan plankton dan ikan besar memakan ikan yang kecil. Ikan Sengarat merupakan ikan predator dengan gigi berbentuk segitiga, kecil dan tajam, bentuk kepala dan badannya pipih datar, moncongnya mengarah keatas sedangkan bagian kepala mencekung diatas mata, ikan ini memiliki sirip punggung yang kecil, sudut mulutnya terdapat tepat dibawah garis mata, sirip dada ikan ini lebih panjang daripada kepala dan cuping atas sirip ekor lebih panjang daripada cuping bawah. Ikan ini memiliki bentuk badan yang sedikit berbeda dari ikan lain, ini merupakan adaptasi dari gerakan ikan meloncat cepat ke permukaan untuk menangkap calon mangsa

Seperti ikan Lais ikan Sengarat juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Akan tetapi karena ikan Sengarat semakin jarang berada di pasaran maka, ikan Sengarat tidak begitu populer di kalangan masyarakat, tak terkecuali masyarakat Riau. Tak jarang masyarat yang tinggal di Riau tidak mengenal ikan ini. Ikan ini jarang didapatkan dipasar tradisional biasa. Ikan sengarat biasanya didistribusikan langsung oleh pengumpul ikan di pasar khusus Ikan air tawar. Jumlah ikan yang didistribusikan juga tidak begitu besar dibanding jumlah ikan lais lainnya. Ikan Lais Sengarat memiliki ukuran dan berat yang jauh lebih besar dari ikan lais lainnya. Ikan Sengarat yang umumnya ditemukan memiliki panjang 40-55 cm dengan berat 1-1.5 kg per ekornya. Akan tetapi karena permintaan pasar yang tinggi tak jarang ikan yang ditangkap dan beredar di pasaran memiliki ukuran yang kecil yaitu kisaran panjang 30 cm dan berat 130-170 gr.

Ikan Lais Sengarat ini paling banyak didapatkan pada saat musim penghujan tiba, ikan Sengarat akan keluar untuk memijah dan mencari makan, pada saat itulah para nelayan memakai peluang tersebut untuk menangkap ikan Lais Sengarat. Untuk memenuhi permintaan pasar, maka para nelayan sering melakukan penangkapan tak terkendali tanpa memperhatikan kelestarian sumberdaya salah satunya, seringnya nelayan menangkap ikan yang masih berukuran kecil atau belum dewasa, tidak jarang pula ikan yang matang gonad dan siap berpijah ikut tertangkap. Dikhawatirkan pada masa yang akan datang keberadaan ikan Sengarat akan terancam, seperti kepunahan atau terjadi penurunan genetik. Belum lagi dari segi pencemaran sungai yang dapat mengakibatkan angka kematian yang tinggi bagi biota-biota yang berada di perairan tersebut.

Penelitian yang dilakukan Dinas Perikanan Provinsi Riau tahun 1995 di wilayah perairan Riau terdapat 160 spesies plasma nutfah ikan, dan ketika penelitian dilakukan kembali pada tahun 2003 jumlah jenis-jenis ikan lokal spesifik se-Provinsi Riau tinggal 83 spesies. Data ini memperlihatkan, bahwa dalam jangka waktu 8 tahun jumlah spesies ikan yang tercatat berkurang 52 %. Upaya menjaga kelestarian ikan dan kelestarian sungai perlu mendapat perhatian yang lebih serius baik dari pihak pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi angka penurunan populasi serta meningkatkan kualitas perairan yang lebih dapat menjamin kehidupan biota yang ada di alam dan sekitarnya. Upaya tersebut seperti melakukan penelitian dalam membudidayakan ikan Lais Sengarat, penentuan kawasan konservasi, penentuan waktu penangkapan, dan ukuran ikan yang boleh ditangkap perlu ditegaskan lagi untuk menjaga dan mempertahankan plasma nutfah yang masih tersedia.

 

Ukuran Ikan sengarat yang menakjubkan dan telah jarang dijumpai. Photo diambil dari: http://archive.kaskus.co.id/thread/2148035/4480

 

photo diambil dari: http://acsi.acnatsci.org/base/image_show_wrapper.html?target=133638

Upaya dalam penyadaran masyarakat untuk lebih menyadari makna sungai serta fungsinya juga perlu ditegaskan lagi. Meskipun telah ribuan kali diserukan dan dihimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan ke dalam sungai faktanya sebagian besar masyarakat tidak begitu mengindahkan larangan tersebut. Diperlukan pembaharuan peraturan yang lebih tegas dan sanksi yang lebih berat serta sosialisasi pengetahuan yang lebih mengena kepada masyarakat kedepannya.

Air adalah sumber kehidupan yang sama sekali tak dapat dipisahkan dari manusia. Air beserta seluruh alam yang telah dititipkan kepada kita harus dijaga dan dilestarikan sepenuh hati. Sikap menjaga, melindungi, dan menghormati alam sangat perlu ditanamkan kepada masyarakat sejak dini dan mengingatkannya kembali bagi sebagian kita yang telah melupakannya. Sikap-sikap tersebut penting dan merupakan jaminan hidup bagi kita maupun bagi anak dan cucu kedepannya dalam menuju kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.