Serba-serbi Indonesia Penguat Solidaritas, Bukit Rimbang Baling Sumatra!

Indonesia bagaikan surga dunia bagi berbagai habitat dan keanekaragaman hayati yang unik. Sebagai salah satu negara yang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang besar, Indonesia tercatat telah mengantongi sejumlah kawasan yang diresmikan sebagai lokasi Suaka Marga Satwa dan hutan yang dilindungi sebagai Taman Nasional. Seperti Bukit Rimbang Baling sebagai Suaka Marga Satwa karena merupakan kawasan prioritas terhadap konservasi Harimau.

Sebagai masyarakat Indonesia, patutnya kita bangga terhadap berbagai kekayaan yang kita miliki. Tak sebatas pada kekayaan intelektual yang diembankan kepada putra dan putri Indonesia yang telah banyak membawa harum nama bangsa, bahkan di ajang internasional. Namun, juga idealnya dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual tersebut dengan mampu menjaga, melestarikan, merawat, membudidayakan serta mendukung keberlangsungan alam jangka panjang dengan memerhatikan dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan.

Dikatakan Kemal Amas (Kepala BKSDA), bahwasanya Bukit Rimbang Baling memiliki topografi yang unik karena konturnya yang berbukit-bukit. Gemercik Sungai Subayang yang indah menemani kepentingan masyarakat adat.

Agustus 2015, saya berkesempatan mengunjungi Bukit Rimbang Baling dalam peringatan Global Tiger Day bersama Komunitas Tiger Heart Riau dan WWF-Indonesia Program Riau.

Perjalanan menuju desa Muara Bio, merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. Peringatan tersebut dilakukan pada 7-9 Agustus 2015 di Desa Muara Bio, Kampar Kiri. Adapun pemilihan desa didasarkan pada lokasi yang langsung bersinggungan dengan daerah penyangga dari habitat Harimau Sumatra.

Masyarakat adat mengandalkan aliran air sungai Subayang sebagai nahkoda transportasi Pompong untuk mencari rezeki. Festival lubuk larangan sebagai kegiatan panen ikan dilakukan selama sekali dalam setahun saat musin kemarau merupakan upaya pelestarian Sumber Daya Alam yang sangat menarik.

Uniknya, hasil tangkapan ikan tersebut kemudian dijual dengan mekanisme pelelangan. Partisipan dari pelelangan adalah masyarakat desa setempat ataupun masyarakat luar desa pada saat festival itu dilakukan. Kemenarikan lainnya terletak pada hasil pelelangan yang dikembalikan kepada masyarakat desa sebagai kas desa, dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan kelembagaan adat, masjid, kelompok desa serta pemerintah desa.

Ikan, siap untuk dilelang.
Kegiatan pelelangan hasil panen Ikan, tepi Sungai Subayang. Riau.

Tanjung Belit merupakan desa yang dapat dijumpai pertama kali ketika tiba di lokasi Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Baling setelah menempuh 3 jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru. Selain desa Tanjung Belit, terdapat juga Desa Muara Bio. Pompong merupakan satu-satunya alat transportasi penghubung antar desa yang dapat digunakan. Alat transportasi tersebut berbentuk kapal panjang yang digerakkan dengan mesin boat dan dapat menampung beragam kapasitas penumpang, minimal 4 orang penumpang dan 1 orang pengemudi. Sedangkan dapat memuat maksimal 13 penumpang dan 1 orang pengemudi untuk Pompong ukuran besar.

Sejauh mata memandang, keindahan panorama disepanjang perjalanan dari desa Tanjung Belit menuju desa Muara Bio dengan menyusuri Sungai Subayang mampu menyejukkan pikiran, bahkan lelah setelah 3 jam  perjalanan darat mampu terbayarkan. Tak jarang, selama perjalanan menggunakan Pompong kita dapat menjumpai berbagai satwa hutan yang berkeliaran mencari makan dan minum dipinggiran sungai Subayang.

Panorama indah Sungai dan Bukit Rimbang Baling, Riau.
Keindahan panorama Sungai Subayang dan Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Baling, Riau.

Adapun kemenarikan lainnya, terletak pada hasil pelelangan yang mampu menerangi gelapnya malam masyarakat desa. Sejalan dengan belum meratanya aliran listrik dari PLN, mesin diesel dioperasikan dari kas hasil pelelangan ikan. Tradisi festival lubuk larangan ini secara tidak langsung telah banyak membantu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan dan sungai.

Kawasan Bukit Rimbang Baling merupakan daerah penyangga terhadap ketersediaan satwa dan keanekaragaman hayati sekaligus sebagai habitat dari Harimau Sumatra yang kini populasinya telah terancam punah sebagai akibat dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh manusia, seperti perburuan Harimau untuk keuntungan ekonomi, kegiatan penambangan yang mengakibatkan tercemarnya beberapa sumber air yang mengganggu kebutuhan Harimau, dan lain sebagainya.

Perlu diketahui bahwasanya Harimau memanfaatkan air sungai hanya untuk minum dan menyeberang, Harimau tidak memakan ikan. Sehingga apabila banyak air sungai yang tercemar, mengindikasikan bahwa populasi Harimau dalam kondisi yang semakin terancam.

Bukit Rimbang Baling berlokasi di dua kabupaten, yakni di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Singingi. Selain memiliki keunikan dalam kegiatan festival, Rimbang Baling juga menjanjikan terhadap kegiatan wisata alam. Kegiatan wisata alam ini dikelola oleh Kelompok Kerja (POKJA) Batu Dinding.

Masyarakat Desa Muara Bio sangat menghormati Harimau, bahkan saking hormatnya, terdapat pernyataan yang dipercaya secara turun temurun dan berbunyi “Be-bapak-lah ke Harimau, dan be-Ibu-lah ke Gajah.” Bagi masyarakat, Harimau merupakan satwa yang harus dihormati, sama halnya seperti kita menghormati orang tua kita sendiri.

Pada jaman dahulu, populasi Harimau di Indonesia dibedakan atas 3 spesies, yakni Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatra. Akan tetapi kini populasi Harimau di dunia yang masih tersisa dan terdapat di alam bebas diperkirakan hanya berkisar ±3.000 individu. Sedangkan untuk populasi Harimau di Indonesia sendiri hanya menyisakan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dengan jumlah kurang dari ±400 individu. (Sumber: wwf.or.id Sumber)

Harimau sendiri banyak diburu dengan berbagai alasan, terlebih alasan ekonomi. Diantaranya digunakan sebagai binatang hias dalam ruangan yang di dapat dari hasil pemburuan dengan memisahkan antara kulit dengan daging Harimau dan selanjutnya diisi dengan kapas guna membuatnya menjadi bentukan Harimau kembali. Selain itu, kepemilikan boneka Harimau sebagai binatang hias tersebut juga dinilai sebagai bentuk prestise ataupun bentuk hadiah yang diberikan oleh golongan berpunya sebagai mitra kerja dalam melakukan bisnis tertentu.

Penting untuk diketahui bahwasanya dibutuhkan sekitar 10.000 Ha hutan untuk habitat dari satu ekor Harimau. Sehingga ketika kita mampu menyelamatkan satu Harimau Sumatra, mengindikasikan kita telah melakukan penyelamatan terhadap 10.000 Ha hutan yang menyediakan air bersih, sumber dari berbagai makanan dan udara segar, serta yang terpenting adalah ketika kita mampu menyelamatkan dunia berarti kita telah melakukan upaya penyelamatan masa depan. (Sumber : Poster Global Tiger Day 2015 – WWF-Indonesia).

Oleh sebab itu, sebagai masyarakat terdidik yang telah mengetahui tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam, satwa dan berusaha menciptakan harmonisasi bersama. Mari bersama-sama kita wujudkan alam yang damai dan adil, baik adil untuk diri kita sendiri, alam, ataupun satwa serta habitat dari satwa itu sendiri. Sebab cara seperti itu, mampu menumbuhkan dan meningkatkan solidaritas kita dalam keberagaman yang unik, sehingga patut untuk dilestarikan demi kepentingan kita bersama.