Simalakama Kelapa Sawit

sawit, kelapa sawit, palm, cpo, kebun sawit

 

Boleh dibilang Indonesia patut bersyukur dengan potensi sumber daya alamnya yang luar biasa. Bak negeri dongeng, Indonesia tak ubahnya seperti rumah kue yang didalamnya tersedia semua potensi kebaikan alam baik dari tanahnya maupun lautnya. Tidak ada negara dengan kondisi alam semakmur Indonesia, bahkan Koes Plus menyebutnya sebagai tanah surga.

Sawit adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang tersohor di penjuru dunia. Tanaman ini awalnya dibawa pada tahun 1848 yang ditanam sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor yang waktu itu bernama Buitenzorg. Seperti lirik lagu Koes Plus – tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman – sawit ternyata tumbuh subur di alam Indonesia. Menyadari potensi ini, industri wasit berskala besar kemudian dimulai.

Indonesia menguasai 44,5% produksi Crude Palm Oil (CPO) dengan luas lahan lebih dari 7 juta Ha. Ini pula yang menjadikan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyebutkan, nilai Pajak Ekspor CPO dan turunannya mencapai 268 miliar rupiah pada tahun 2004, kemudian meningkat menjadi 286 miliar rupiah pada tahun 2005. Pada tahun 2006 dan 2007, pajak ekspor mengalami peningkatan hingga mencapai 982 miliar (2006) dan menjadi Rp3,8 triliun pada 2007. Hal ini disebabkan karena Pemerintah menetapkan tarif ekspor sebesar 3 persen pada tahun 2006 dan 6 persen pada 2007. Perubahan skema dari Pajak Ekspor menjadi Bea Keluar pada 2008 membawa pemasukan sebesar 12,2 triliun untuk negara. Namun karena penurunan harga sawit, bea keluar Indonesia pada 2009 turun menjadi 508 miliar. Angka ini kembali naik pada 2010 menjadi 8 triliun.

Bisnis perkebunan sawit memang sangat menguntungkan. Terbukti dengan masuknya trio raja sawit Indonesia yaitu Bachtiar Karim (PT Musim Mas), Lim Hariyanto Wijaya Sarjono (Harita Grup) dan Sukanto Tanoto (PT Raja Garuda Mas) yang berhasil menduduki barisan orang terkaya di dunia versi majalah Forbes tahun 2014. Walau mengalami fluktuasi harga, sawit nyatanya masih menjadi bisnis yang menguntungkan. Ribuan orang bekerja di sektor perkebunan sawit, pengharapan atas kondisi finansial yang lebih baik digantungkan pada pekerjaan di perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Sayang beribu sayang, malang kepalang malang, selain menyumbang keuntungan besar bagi Indonesia, perkebunan kelapa sawit juga menjadi penyumbang masalah besar bagi alam Indonesia. Mungkin kita belum lupa bencana asap yang melanda Indonesia berbulan-bulan lamanya. Ribuan titik api menyebar mulai dari Sumatera hingga ke Papua. Korban berjatuhan, mulai dari infeksi saluran pernafasan sampai meninggal dunia. Setelah ditilik, perkebunan sawit adalah faktor utamanya.

Pembukaan lahan dengan cara manual sepertinya banyak membuang waktu, tenaga serta biaya sehingga pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakarnya. Masyarakat lantas menyalahkan pemerintah yang terkesan diam saja. Wajar pemerintah diam, sebab beberapa kepala daerah justru telah mengizinkan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Masyarakat Kalimantan Tengah misalnya, walau menjadi daerah yang terparah dengan kualitas udara yang sangat buruk saat itu, justru mengatakan bahwa mereka sudah terbiasa dengan kabut asap setiap tahunnya, walaupun bencana asap pada tahun 2015 adalah yang terparah.

Kondisi ini membuat kita harusnya bertanya kembali apakah Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah untuk mengurangi gas rumah kaca serta perhatian terhadap kerusakan lingkungan sekiranya sudah dijalankan? Atau hanya sekedar prestise bagi perusahaan yang lulus ISPO agar mencitrakan perusahaannya sebagai perusahaan ramah lingkungan?

Sepatutnya Indonesia belajar pada Afrika yang mendominasi sawit sebelum tahun 1900-an dimana Afrika kaya raya karena ekspor sawitnya. Tetapi perkembangan pesatnya seolah lepas kontrol sehingga merusak alam Afrika yang hari ini menjadi tanah tandus dan tidak dapat ditumbuhi tanaman lagi. Sawit memang kurang bersahabat dengan alam terutama untuk tanah. Penelitian terbaru dari T. Ariful Amri MSc menyebutkan bahwa dalam sehari pohon sawit bisa menyerap hingga 12 liter air. Bukan hanya itu, PDAM Tirtabangka di Kabupaten Bangka pernah mengalami krisis persediaan air akibat penyerapan kelapa sawit pada tahun 2011. Tanah yang sudah ditanami oleh kelapa sawit juga akan kehilangan unsur hara sehingga ekosistem di sekitarnya menjadi rusak dan tak seimbang lagi. Ini pula yang menjadi perhatian penting sekaligus kekhawatiran bagi para pemerhati lingkungan.

Selain tidak bersahabat dengan tanah, perkebunan sawit juga seringkali tidak bersahabat dengan manusia. Masuknya perkebunan sawit telah menyebabkan konflik horizontal dan vertikal seperti konflik antar warga dengan aparat sampai konflik perebutan lahan. Kasus Mesuji salah satunya, dimana kasus ini membukakan mata kita bahwa nyawa manusia ternyata lebih murah daripada perluasan lahan kelapa sawit. 30 orang menjadi korban pembantaian akibat penolakan oleh masyarakat yang tidak bisa diterima oleh PT Silva Inhutani.

Padahal dalam ISPO sendiri hal-hal seperti ini sudah diatur, mulai dari pengelolaan lahan, antisipasi kerusakan, pemeliharaan lingkungan hingga status lahan yang harus melalui beberapa tes hingga mencapai tahap kelulusan. Ah, sayang. Sayangnya raja-raja perusahaan sawit di Indonesia justru adalah orang-orang yang berada di balik regulasi. Sebut saja Wilmar International Grup yang menjajarkan para purnawirawan seperti Jend. Pol. (Purn) Drs. Sutanto, Komjen (Purn) Drs. Nanan Soekarna, Mayjen TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji, SH dan Irjen. Pol (Purn) Drs. Paiman sebagai Dewan Komisaris Perusahaan Wilmar.

Ironi memang. Saat sawit mendatangkan banyak keuntungan bagi Indonesia di saat yang sama sawit juga telah menjadi sumber permasalahan di banyak sektor di Indonesia. Ibu pertiwi bagai makan buah simalakama. Dimakan mati emak, tak dimakan mati ayah. Tanpa sawit di Indonesia, banyak yang kehilangan sektor pekerjaan menguntungkan. Pun hadirnya sawit di Indonesia, banyak pula masalah yang tak kunjung terselesaikan. Alamak, semoga tiba waktunya dimana Ibu Pertiwi tak lagi disuruh memilih sepahit pilihan buah Simalakama.

Sumber :

http://www.ispo-org.or.id/index.php?lang=ina

http://telusur.metrotvnews.com/read/2015/11/06/448367/peluang-dan-masalah-kelapa-sawit-di-indonesia

http://telusur.metrotvnews.com/read/2015/11/06/448368/sawit-indonesia-yang-terus-tumbuh

http://www.merdeka.com/uang/trio-raja-sawit-indonesia-di-barisan-orang-terkaya-dunia.html

http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/global/1818/air-pdam-diserap-kelapa-sawit.html

Uslaini, dkk. Robohnja Sumatera Kami. 2015. Samdhana Institute.