Sumur Bor, Solusi Murah dan Efektif  Sebagai Sumber Air Padamkan Kebakaran Hutan Gambut

Setiap musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan gambut selalu menghantui masyarakat di Kalimantan Tengah. Salah satunya di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau.

Penyebab kebakaran pun selalu sama, karena dibakar. Kendala yang dihadapi dari tahun ke tahun juga sama. Sumber air yang jauh dan peralatan yang kurang memadai. Padahal, gambut menyimpan banyak air disaat kemarau, jika kondisinya terjaga dengan baik.

Lahan milik Gunawan (54) salah satu diantaranya. Meski tak ikut membakar, namun rembetan api dari gambut disekitar lahan miliknya nyaris menghanguskan rumah.

Berhari-hari Gunawan bersama anaknya berupaya memadamkan api disekitar rumahnya tersebut. Lahan beberapa hektar yang sudah ditanami aneka sayuran pun ludes tak bersisa. Hilang sudah mata pencaharian dan pendapatan Gunawan sebagai petani sayuran musim ini.

Kerugian sudah pasti. Meski terjadi setiap tahun, tapi kebakaran tak sampai merembet ke lahan miliknya.

“Gagal panen sayur tahun ini gara-gara asap. Sudah sempat tanam, sudah mau berbunga. Di kebun tanam sayur kacang, terong, lombok, dan jagung, Tapi habis terbakar semua gara-gara api” kata Gunawan disela-sela aktivitasnya bersama tim Sekolah Relawan membuat sumur bor disalah satu areal lahan gambut di Tumbang Nusa, Jumat (30/10/2015).

Meski di lahan miliknya terdapat dua sumur gali, namun air yang tersedia saat kemarau seperti ini tentu saja tak cukup.

“Kalau kami tanam ndak pernah dibakar. Habis panen bekasnya ditumpuk, bisa untuk pupuk kompos. Walaupun bikin abu, ada tempatnya tersendiri, ndak langsung ditanah. Pakai alas pasir, kemudian digali dulu sekitar dua meter persegi” cerita Gunawan.

Gunawan merupakan satu diantara masyarakat yang merasakan dampak langsung kehilangan sumber pendapatan akibat kebakaran hutan dan lahan gambut.

100 Sumur Bor
Hari itu, Gunawan bersama anaknya, Hendra (18) dan enam orang dari Sekolah Relawan melanjutkan pekerjaan membuat sumur bor. Mereka sedang mengerjakan titik sumur ke 18, dari total 100 titik yang direncanakan.

“Selama pemadaman di Kalteng, kami sudah membuat hampir 30 sumur bor dilokasi kebakaran yang jauh dari sumber air. Sebelumnya hanya mengandalkan air dari parit atau kanal buatan, tapi kalau jaraknya jauh selang terkadang tak cukup panjang, bisa sampai satu kilo lebih masuk kedalam hutan” kata Bayu Gawtama, founder Sekolah Relawan yang turut terlibat dalam pembuatan sumur bor.

Tim dari Sekolah Relawan bersama masyarakat lokal menargetkan 100 titik sumur bor di Tumbang Nusa. Hal ini tak terlepas dari kearifan lokal masyarakat, yang memiliki sumur disetiap lahan milik mereka.

“Kita kampanyekan untuk memperbanyak sumur bor, untuk mengantisipasi sebagai sumber air dalam pemadaman. Salah satu solusi dan upaya pencegahan dini jika terjadinya kebakaran lahan” kata pria yang akrab disapa Gaw tersebut.

Sumur bor yang dibuat mempunyai kedalaman rata-rata diatas 20 meter. Menggunakan sumber air bawah tanah yang dilapisi gambut dengan ketebalan 1 hingga 3 meter.

Murah dan Efektif
Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Tengah, Arie Rompas menilai upaya pembuatan sumur bor sejauh ini lebih murah, lebih efektif, dan tidak merusak lingkungan dibandingkan kanal.

Namun, sumur bor yang dibuat saat ini, lokasinya jauh dari titik api yang saban tahun menyebabkan kabut asap di Kalteng.

“Kalau upaya pencegahan memang sumur bor, karena air nya ada. Sebenarnya bisa dibikin berdasarkan lokasi-lokasi titik2 api. Namun sejauh ini, lokasinya hanya di sekitar yang dekat-dekat saja” kata Rio, sapaan akrabnya.

Bahkan, blocking kanal yang dibangun Jokowi di Kalteng sebenarnya tidak menjawab permasalahan kabut asap. Alasannya, lokasi tersebut jauh dari lokasi yang dari tahun ketahun menjadi sumber titik api.

Lokasi yang dibangun Jokowi, sejatinya tidak akan menjawab kabut asap di Kalteng. Karena itu jauh dari lokasi yang dari thaun ke tahun menjadi sumber titik api.

“Seharusnya yang dilakukan Jokowi menutup kanal-kanal yang ada di lokasi terbakar” katanya.

Kembali kepada skema sumur bor, Rio mengimbau keberadaannya harus dikelola dan terpantau. Pengeboran juga sebaiknya dilakukan kajian dan riset yang mendalam, karena dikhawatirkan akan menembus lapisan batu bara muda yang bisa menimbulkan gas alam diwilayah Kalteng.

Berdasarkan fungsi hidrologis, gambut seharusnya tidak ada air di permukaan. Kalau ada dipermukaan, air akan mengalir ke sungai dan laut. Fungsi tersebut seharus nya di re-vegetasi dan ditanam kembali dengan tumbuhan yang memang menjadi habitat aslinya.

“Dan jangan lagi bangun kanal, karena fungsinya akan berubah lagi. Justru gambut yang masih basah, jadi turun ke kanal airnya” tegas Rio.