TANAH SURGA MILIK SIAPA ?

images

 

Bukan lautan tapi kolam susu

Kail dan jala menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan  udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Cuplikan lirik lagu karya Koes Plus tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa negeri Indonesia ini adalah negeri yang sangat kaya, subur dan makmur. Kail dan jala menghidupimu mengandung makna bahwa lautan Indonesia itu luas dan memiliki hasil yang mampu menghidupi segenap bangsa Indonesia. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman bermakana bahwa suburnya tanah Indonesia yang seakan-akan menjadi tanah surga, ibarat menancapkan sebilah kayu dan seonggok batu pastilah tumbuh tanaman. Sungguh Indonesia adalah tanah surga, sampai bangsa kompeni dan bangsa matahari terbit pun berusaha menguasai sumberdaya alam kita pada waktu itu. Ironisnya apakah sampai saat ini tanah surga itu masih tetap ada?.

Tanah surga itu masih tetap ada, namun istilah tanah surga dan kolam susu itu dalam kenyataannya semakin terkesan abu-abu. Indonesia memang memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Negeri yang membentang di sepanjang zamrud khatulistiwa ini memiliki keanekaragaman hayati dan sumber alam yang tinggi. Indonesia memiliki areal yang cocok untuk vegetasi hutan, pertanian, perikanan maupun peternakan. Sebagai mahasiswa fakultas kehutanan, saya merasa bangga akan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bangsa kita lebih unggul dibandingkan bangsa lain bila menyangkut tentang sumber daya alam yang dimilikinya. Hampir setiap pulau-pulau besar di Indonesia memiliki sumber kekayaan tersendiri.

Selain itu Indonesia juga memiliki beberapa kawasan yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak dan gas. Berdasarkan data Kementrian ESDM 2011, Indonesia memiliki sumber minyak yang diperkirakan mencapai 87,22 miliar per barrel dan 594,43 TSFC. Sumber minyak tersebut tersebar di beberapa daerah seperti Cepu, Cirebon, Palembang, Tarakan, Sorong dan lain sebagainya.

Jumlah sumber minyak dan sumber alam tersebut terbilang cukup tinggi, akan tetapi mengapa dalam faktanya Indonesia ini masih tetap miskin?. Bukan hal luar biasa lagi fenomena yang terjadi selama ini. Indonesia punya kekayaan hayati tinggi, sumber minyak tinggi, tapi mengapa rakyat Indonesia belum sejahtera?. Pendidikan dan kesehatan yang mahal, tindak kriminal disana sini, serta media yang juga mengatakan hutang bangsa Indonesia terus meningkat menjadi bukti bahwa negara kita masih belum mampu berdiri sendiri. Semua itu terjadi karena bangsa Indonesia tidak memiliki cukup uang. Mengapa hal itu tetap terjadi secara berkelanjutan?, karena kekayaan alam dan perekonomian kita telah dikuras dan dikuasai oleh pihak asing.

Bagaimana negeri kita bisa kaya, kalau sumber daya alam kita tidak mampu kita alokasikan untuk kepentingan kita bersama? Indonesia memang kaya, tetapi bangsa Indonesia terkesan tidak memiliki semua kekayaan itu. Seperti tambang emas dan perak di Papua, P.T. Freeport mendapatkan 99% sementara ratusan juta rakyat Indonesia harus puas mendapatkan 1% dari hasil itu. Padahal kita yang memiliki tetapi kenapa bagian yang kita dapatkan lebih sedikit dibandingkan investor asing itu sendiri. Pantas saja Indonesia terus-terusan miskin. Selain mengeksploitasi sumber daya alam, pihak investor juga tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan sekitar. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sumber daya alam dikuras habis, dampak terhadap lingkungan pun juga semakin serius.

Sesungguhnya kita punya segalanya, tapi kita tidak bisa menikmati kekayaan alam kita secara maksimal. Kekayaan alam kita telah dikuasai oleh investor asing. Kita bagaikan robot yang dikendalikan oleh sebuah remote. Bangsa Indonesia sejatinya cerdas, namun kecerdasan itu tidak dialokasikan untuk negeri sendiri. Seperti banyak warga Indonesia yang melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri, banyak warga Indonesia yang melakukan penelitian di luar negeri dan banyak aktivitas pendidikan lainnya yang dilakukan di luar negeri. Akan tetapi dimanakah hasil jerih payah itu? Kemanakah SDM yang berkualitas itu?.

Hal tersebut juga menjadi dasar permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Dosen saya pernah mengatakan bahwa kebanyakan para peneliti Indonesia yang melakukan penelitian di luar negeri tidak mengabdi di negeri sendiri. Mengapa bisa seperti itu?. Terkadang peneliti dari negara kita tidak mengatasnamakan negeri sendiri sebagai penemu suatu hal yang baru dalam penelitiannya. Akibatnya bangsa ini pun juga kehilangan SDM yang berkualitas dan penemuan baru itu malah diklaim oleh negara lain.

Bagaimana negeri kita bisa maju kalau sumber daya alam dan sumber daya manusia kita seluruhnya dikuasai oleh negara asing? Seperti halnya dalam pengelolaan sumber minyak. Benarkah pihak pemerintah juga memberikan karpet merah bagi perusahaan migas dan tambang luar negeri untuk menggarap kekayaan alam tanah air kita? Dalam hal ini negara kita butuh seorang pemimpin yang handal serta sumber daya manusia yang mumpuni. Tantangan yang harus kita hadapi adalah mengambil alih pengelolaan sumber daya alam kita. Namun tetap saja hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Indonesia harus mampu membenahi sistem internal negara sendiri, mampu meningkatkan teknologi eksplorasi, serta meningkatkan tenaga ahli yang berasal dari negeri sendiri.

Rakyat Indonesia akan tetap berada di bawah taraf kesejahteraan kalau sumber daya alam kita tetap dikuasai oleh investor asing. Jika kita tetap manjual hasil mentah saja kepada pihak asing, sampai kapan pun kita tidak akan mendapatkan sarinya. Kita hanya akan mendapat ampasnya saja. Pengelolaan penguasaan sumber daya alam harus benar – benar dikelola oleh pemerintah secara terpadu. Kalau kita tidak mau diperbudak di negeri sendiri, kita harus mampu menciptakan teknologi sendiri yang berbasis kearifan lokal. Teknologi yang canggih tidak seharusnya dimiliki oleh negara asing saja. Penggunaan teknologi canggih juga harus digalakkan. Tidak hanya tempat untuk mengecam pendidikan saja yang terus dibangun hingga bangunan itu setinggi langit. Namun penggunaan teknologi yang canggih dan tepat guna harus lebih ditekankan. Begitu pula kualitas dan kuantitas tenaga ahli harus mumpuni. Para peneliti dan penemu yang inovatif tidak seharusnya dialiahkan ke negeri tetangga. Sehingga kita hanya mendapatkan bekasnya saja. Tenaga ahli yang ada di dalam negeri seharusnya lebih diakui keberadaannya dan diberdayakan untuk kesejahteraan bangsa.

Selain usaha-usaha diatas, pemerintah bisa menetapkan undang-undang tentang alokasi pengelolaan sumber daya yang tepat untuk dijadikan sebagai acuan pemerataan tata kelola energi nasional. Payung hukum pengelolaan sumber daya alam terutama migas harus diperkuat. Kebijakan pengelolaan energi nasional harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Sumber daya alam ini tidak hanya untuk memenuhi kebutahan oknum semata melainkan untuk kesejahteraan bersama. Sudah sepatutnya kita kembalikan tanah surga Indonesia demi kemaslahatan rakyat Indonesia.