Upaya Menciptakan Second Habitat Untuk Si Badak

Badak adalah salah satu mamalia besar yang langka dari famili Rhinocerotidae, ordo Perissodactyla dan sedang berada diambang kepunahan. Mamalia yang termasuk herbivora dengan berat tubuhnya yang dapat mencapai 1.280 kg ini, diklasifikasikan critically endangered (terancam punah) dalam daftar buku merah (Red Data Book) yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan kemudian CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) menempatkan badak dalam Appendix 1 yang berarti berdasarkan peraturan internasional tidak diperbolehkan adanya perdagangan produk atau turunannya. Terdapat 5 spesies badak yang ada dunia, yaitu badak putih (Ceratorhium simum simum), badak hitam afrika (Diceros bicornis), badak india (Rhinoceros unicornis), badak sumatera (Dicerorhinus sumaterensis), dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus sondaicus). Indonesia sudah sepatutnya bersyukur karena dari 5 spesies badak yang tersisa di dunia, 2 spesies diantaranya dapat ditemukan di Indonesia, yaitu badak sumatera dan badak jawa. Namun, berbeda dengan ketiga spesies badak lainnya yang mengalami peningkatan populasi, badak sumatera dan badak jawa populasinya mengalami penurunan yang disebabkan oleh tingginya perburuan liar, penyakit, dan konversi habitat. Upaya untuk menciptakan habitat kedua yang nyaman bagi Si Badak sudah sepatutnya menjadi prioritas tinggi dari program konservasi Indonesia.

Badak-Jawa                       Gambar 1. Badak Jawa (source: satwa.net)

Bagaimana definisi dari habitat yang nyaman? Habitat yang nyaman adalah habitat dimana suatu makhluk hidup merasa terlindungi dari berbagai ancaman. Ancaman terbesar bagi populasi badak tak lain adalah degradasi habitat yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat dari pertumbuhan populasi manusia, dan pembukaan hutan untuk aktivitas pertanian dan perladangan. Suatu habitat yang baik akan menyediakan seluruh kebutuhan satwa untuk hidup dan berkembang biak sehingga menjamin kelestarian atau eksistensinya dalam jangka panjang Beberapa unsur yang mendukung terciptanya suatu habitat yang nyaman, diantaranya yaitu ruang yang cukup untuk tumbuh dan bergerak; udara dengan jumlah yang cukup, sehat, dan tidak terpolusi; air untuk transpor nutrisi; garam biogenik sebagai mineral dan pertumbuhan; serta energi yang tersedia bagi proses kehidupan. Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan second habitat yang nyaman bagi Si badak? Peningkatan kualitas dan kuantitas habitat adalah jawaban yang tepat. Habitat adalah komponen yang penting untuk badak sebagai tempat untuk mencari makan, minum, dan berkembang biak. Peningkatan kualitas dan kuantitas habitat ini diperlukan bagi mendukung populasi badak karena dapat digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai daya dukung dan kelayakan suatu habitat untuk menampung satwa dan interaksi antar individu yang terjadi di dalamnya.

Tutupan lahan / hutan juga menjadi faktor yang penting untuk meningkatkan kenyamanan Si Badak. Badak lebih menyukai hutan yang tidak terganggu dan akan cenderung menjauhi tempat-tempat yang terbuka dari adanya pembukaan lahan oleh masyarakat sekitar kawasan. Badak memanfaatkan tutupan hutan ini untuk melindungi diri dari radiasi ultraviolet secara langsung. Oleh karena itu, pengembangan wilayah (pemekaran wilayah), dan pembangunan jalan seharusnya tidak dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan konservasi karena hal ini dapat menimbulkan dampak lanjutan, yaitu munculnya pemukiman-pemukiman liar dan meningkatnya jumlah penduduk yang dapat menyebabkan terjadinya deforestasi yang tinggi dan mengurangi luas hutan, sehingga mengurangi luas jelajah dan menekan gerakan badak untuk mencari makan. Sebagai informasi, badak menjelajahi hutan 4-6 hektar per hari untuk mencukupi kebutuhan makannya yang mencapai 50 kg per harinya. Frekuensi kegiatan manusia di sekitar habitat badak juga perlu diminimalkan. Pada lokasi-lokasi yang tinggi aktivitas manusia, maka frekuensi kehadiran badak pada lokasi tersebut kecil. Fragmentasi dan hilangnya habitat badak akibat kegiatan manusia di dalam kawasan hutan akan memberikan dampak yang buruk bagi Si Badak. Tekanan dan gangguan di daerah jelajah dan habitatnya, terutama karena aktivitas perladangan akan menyebabkan satwa berkuku ganjil ini kehilangan tempat untuk berlindung.

Apabila dibandingkan dengan satwa lain, badak jauh lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan, adanya manusia di areal hidupnya dapat memberikan efek negatif bagi aktivitas satwa bercula ini. Selain itu telah banyak dilaporkan kasus kejadian penyakit yang terjadi pada badak yang penyebabnya adalah kontak antara ternak masyarakat dengan satwa liar sehingga menimbulkan kematian satwa dalam jumlah banyak pada waktu yang relatif singkat. Penggunaan habitat bersama (sharing habitat) antara badak dan hewan ternak (kerbau) di dalam kawasan taman nasional dapat menimbulkan resiko penularan penyakit diantara masing-masing hewan tersebut. Penggembalaan ternak secara free grazing dapat menjadi jembatan bagi penularan penyakit dari hewan ternak ke satwa liar karena interaksi tersebut akan menyebabkan terjadinya transmisi penyakit. Transmisi penyakit ini dikarenakan adanya suatu vektor penyebar penyakit (dapat berupa ektoparasit) yang hidup pada tubuh hewan ternak berpindah ke tubuh badak secara langsung ataupun melalui hewan vertebrata lainnya. Padahal rumah yang nyaman untuk badak dapat terwujud apabila habitatnya bebas dari ancaman penyakit. Lalu bagaimana solusi untuk permasalahan ini? Masalah ini dapat diatasi dengan adanya upaya pendekatan dari pihak pengelola taman nasional terhadap masyarakat di sekitar kawasan, seperti memberikan zona khusus untuk menggembala kerbau; memberikan informasi mengenai pola penggembalaan kerbau yang berwawasan lingkungan, yaitu tanpa mengganggu ekologi di suatu kawasan konservasi; mensosialisasikan pengubahan pola beternak kerbau yang semula free grazing menjadi sistem perkandangan. Selain itu, pihak taman nasional juga dapat bekerjasama dengan dinas peternakan setempat dalam usaha pemantauan kesehatan hewan ternak.

Badak menyukai topografi wilayah yang relatif landai, luas yang mencukupi, hutan yang masih terjaga dengan baik, serta ketersediaan sumber daya yang memadai, seperti tersedianya pakan, sumber air, dan sumber mineral yang penting untuk badak. Badak akan lebih nyaman hidup di daerah dataran rendah dan rawa-rawa (tropical rainforest dan mountain moss forest) karena ketersediaan pakan sangat melimpah, serta produktifitas hutannya yang masih tinggi. Kualitas habitat yang baik untuk badak jawa adalah suatu kawasan hutan, dimana banyak terdapat pohon-pohon (vegetasi) untuk berlindung dan mencari makan, seperti kedondong hutan (Spondias pinnata), tepus (Amomum compactum dan Ammomum megaloceilos), sulangkar (Lea sambucina), segel (Dillenia excelsa), songgom (Barringtonia macrocarpa), dan lampeni (Ardisia humilis). Sedangkan badak sumatera dapat menghabiskan waktu untuk makan mantangan (Merremia piltata), ram-ram gunung (Ardisia saguinolenta), jambu hutan (Eugenie grandis), manggis hutan (Garcinia selebrica), dan sebagainya. Badak merupakan golongan hewan yang memamah biak, pakannya berupa pucuk-pucuk daun, tunas-tunas pohon, herba, ranting-ranting dan kulit kayu sehingga disebut pula sebagai satwa browzer. Sumber pakan badak jawa dapat dicapai sampai ketinggian pohon sekitar 2,5 m atau diam pohon sampai 10 cm, dan kadang-kadang dijumpai pula bahwa badak jawa dapat melengkungkan pohon yang berdiam sekitar 15 cm terutama untuk jenis kedondong (Spondias pinnata). Salah satu masalah utama yang dapat mengancam eksistensi Si Badak adalah penyebaran jenis-jenis tumbuhan tertentu yang menjadi sumber pakannya tidak merata di habitatnya. Belum lagi masalah degradasi dan kemerosotan kondisi habitat yang disebabkan oleh adanya invasi spesies langkap (Arenga obtusifolia), yaitu sejenis tanaman palem di Taman Nasional Ujung Kulon membawa pengaruh yang kurang menguntungkan bagi kehidupan satwa purbakala ini. Integritas habitat badak bersaing dengan pertumbuhan langkap yang menghalangi sinar matahari menembus bagian bawah hutan dan menghalangi tumbuhnya pakan alami badak. Kegiatan perbaikan dalam rangka meningkatkan daya dukung habitat badak dapat dilakukan dengan melakukan penebangan seluruh langkap hingga pembersihan anakannya, dan penanaman tumbuhan-tumbuhan pakan di wilayah jelajah badak. Kegiatan tersebut dapat direalisasikan apabila terdapat kerjasama antara pihak pengelola taman nasional dan masyarakat sehingga terciptalah habitat yang nyaman untuk Si Badak.

Komponen penting lainnya selain pakan untuk menjamin kenyamanan satwa yang gemar berkubang ini adalah sumber air dan sumber mineral yang cukup di habitatnya. Karena berapapun banyaknya pakan di suatu habitat, tetapi bila tidak tersedia air yang cukup, maka satwa tidak akan hidup dengan nyaman dan berkembang biak secara normal. Sumber air untuk Si Badak meliputi sungai, danau, dan kubangan. Sumber-sumber air tersebut sangat penting untuk tempat minum dan berkubang. Berkubang merupakan perilaku penting dari badak jawa yaitu berupa kegiatan berendam pada suatu cekungan yang berair dan berlumpur. Aktivitas mandi dan berendam di dalam lumpur ini sangat penting untuk badak sebagai usaha dalam menurunkan suhu tubuh, beristirahat, menjaga kesehatan tubuh dari gigitan serangga, dan sebagai tempat minum serta membuang air seni (urinisasi). Perilaku urinisasi ini berfungsi untuk menandai daerah jelajahnya. Proses penandaan daerah jelajah yaitu pada saat berkubang tubuh badak jawa ditempeli oleh lumpur yang telah tercampur oleh urinnya di tempat kubangan, kemudian sambil berjalan badak jawa melakukan aktifitas menggesekkan tubuhnya ke batang pohon sehingga ada bagian lumpur yang tertinggal di batang tumbuhan tersebut. Setiap harinya selama kurang lebih 2-3 jam, badak akan berendam atau bahkan tidur di dalam kubangan. Berdasarkan informasi proses pembuatan kubangan sangat sederhana, yaitu dengan jalan menginjak-injak permukaan sampai kondisinya memungkinkan untuk berkubang. Luas setiap kubangan badak jawa sangat bervariasi tergantung dari ukuran tubuh individu badak yang akan menempati kubangan tersebut. Demikian juga jumlah kubangan setiap individu badak jawa bervariasi antara 1-2 kubangan. Kondisi ini disebabkan oleh distribusi jenis pakannya saat ini relatif sangat beragam. Badak menyukai kubangan yang letaknya di daerah dengan penutupan tajuk yang relatif rapat, udaranya relatif sejuk, dan daerahnya tersembunyi. Sumber mineral juga tidak kalah penting dengan sumber air. Badak membutuhkan sumber garam biogenik untuk memenuhi kebutuhan mineral di dalam tubuhnya. Sumber mineral penting bagi badak maupun satwa lainnya untuk menjaga keseimbangan ion dalam tubuh. Berdasarkan informasi yang diperoleh, kebutuhan akan mineral ini dapat terpenuhi dari adanya lokasi penggaraman yang akrab disebut uning di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Upaya untuk menciptakan habitat kedua (second habitat) merupakan langkah untuk mengantisipasi risiko bencana alam, dan perubahan iklim sehingga eksistensi spesies ini tetap terjamin. Berdasarkan informasi habitat tunggal badak jawa di Ujung Kulon sangat riskan terhadap berbagai pengaruh gangguan alam karena lokasinya yang berdekatan dengan anak Gunung Krakatau yang apabila suatu saat meletus dan menghancurkan habitat badak jawa, maka Indonesia bahkan dunia akan kehilangan salah satu keanekaragaman hayatinya. Untuk mewujudkan habitat kedua bagi Si badak ini diperlukan suatu standar habitat yang disukai oleh badak, sehingga badak dapat melangsungkan hidup di rumah barunya tersebut. Pemilihan lokasi habitat kedua ini perlu dipikirkan secara matang dan tidak tergesa-gesa untuk meyakinkan bahwa habitat tersebut menyediakan pakan, alam, dan kondisi yang mendukung kelangsungan hidup badak jawa. Selain memilih lokasi habitat kedua, teknis pemindahan badak jawa dari Ujung Kulon ke tempat baru (translokasi) juga perlu diperhatikan. Pemodelan kesesuaian habitat (habitat suitability, modeling) badak jawa menjadi sangat penting untuk pengelolaan populasi dan habitat badak jawa terutama berkaitan dengan upaya translokasi badak jawa. Berdasarkan informasi, WWF project Ujung Kulon sudah meneliti beberapa lokasi untuk dijadikan second habitat badak jawa. Lokasi tersebut antara lain, Cagar Alam Leweung Sancang, Suaka Margasatwa Cikepuh, Hutan Produksi KPH Banten, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Cagar Alam Rawa Danau, dan Hutan tutupan Baduy.

badak                                     Gambar 2. Peta TNUK

Upaya konservasi badak sumatera yaitu di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), sedangkan konsevasi badak jawa terdapat di bagian barat Pulau Jawa, tepatnya di kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Di keempat tempat ini upaya perlindungan terhadap badak dapat dilakukan dengan membentuk tim-tim patroli (Rhino Protection Unit) untuk mencegah terjadinya usaha perburuan liar, sehingga dapat mempertahankan populasi badak. Selain itu, pada tempat tersebut dapat dilakukan penyusunan desain wisata minat khusus (special interest tourism) dan wisata ekologi (ecotourism) untuk pengamatan badak. Upaya konservasi badak bukan dengan cara melakukan perlindungan secara total, melainkan berfokus pada bagaimana memadukan aspek pemanfaatan dalam bentuk wisata dan aspek perlindungan yang menjamin eksistensi Si Badak itu sendiri. Pengembangan badak sebagai objek wisata harus dapat membuat satwa ini merasa aman dan nyaman hidup di habitatnya dengan tidak adanya aktivitas manusia yang dapat mengganggu pola penggunaan ruang dan waktu badak tersebut. Lalu, apa sebenarnya manfaat dari pembukaan wisata ini? Pembukaan wisata ekologi dan wisata minat khusus berbasis satwa langka secara tidak langsung akan berdampak pada meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya konservasi satwa langka ini dan mampu meningkatkan pendapatan (perekonomian) masyarakat sekitar kawasan melalui penyediaan jasa layanan, seperti akomodasi (homestay), tenaga tour guide, transportasi lokal, makanan (logistik), dan kerajinan tangan (berupa kaos, gantungan kunci, asbak). Manfaat langsung juga didapatkan oleh pengunjung Taman Nasional, yaitu berupa pengalaman baru dan pengetahuan tentang upaya konservasi badak. Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa dalam mewujudkan habitat kedua yang nyaman untuk badak, secara tidak langsung akan memberikan kenyamanan untuk orang-orang di sekitarnya.