Wilayah Adat Nasib Era Masa Depan Masyarakat Aru

(Part 1) Aru, Bergegas..
Halo pemirsa, bagaimana kabarnya? Saya baru saja mengunjungi sebuah kepulauan yang sangat mengagumkan. Rasanya begitu tidak adil jikalau saya tidak membagi kisah-kisah dan pembelajaran yang didapatkan selama disana. Kisah tentang mereka yang menjaga dan mempertahankan sistem keberlanjutan dalam memandang sumber daya alam.

Adakah diantara pemirsa yang tinggal dan pernah singgah di Kepulauan Aru? Saya yakin tidak banyak. Selamat bagi anda yang pernah mengunjungi kepulauan yang berbatasan langsung dengan Papua dan Australi itu. Bagi anda yang belum, semoga tulisan ini bisa menjadi obat penambah rasa penasarannya.

Pagi itu, saya terbangun dan bergegas lari. Saya lari ke sebuah mess tempat-teman ku tinggal. Tidak jauh dari kantor tempat saya tidur. Saya berencana meminjam sebuah ransel yang akan dibawa ke Aru. Beruntung Sapot, seorang teman di LSM AMAN, memiliki stok kosong ransel yang tidak terpakai. Sambil membungkuk, Sapot mengantarkan saya ke gudang ransel di kantornya, masih di Sempur. Semalam dia menghabiskan waktu untuk memanjat dinding dan tulang lehernya bergeser. Itulang yang menyebabkan dia menjadi bungkuk.

Setelah mendapatkan tas, saya bergegas kembali ke kantor untuk berkemas. Waktu menunjukan pukul 07.15 WIB, dan rencana ke bandara pukul 09.00 WIB. Masih ada waktu pikir ku. Ransel yang biasa menjadi tandem ku ke lapangan dipinjam seorang teman. Dan belum dikembalikan.

Datanglah seorang pria berkumis, berkemaja kotak-kotak biru. Namanya Mas Arif, dia dari LPPM P4W-IPB yang turut dalam tim Kajian Sosial Ekonomi Masyarakat Aru. Berkenalan sejenak, tidak lama Cenges seorang laki-laki berambut gondrong datang. Sambil berkemas peralatan tim seperti kamera, trangia, dan alat kemah, dibagi ke ransel ku dan Cenges. Sedikit cemas, karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB tapi 1 orang tim belum datang jua.

Sekitar pukul 09.00 WIB akhirnya seorang wanita yang selalu riang itu datang dan membuat kericuhan baru. Tim sudah siap, tapi dia malah meminta saya untuk print kan dokumen yang akan dibawa ke Aru. Haaah..membuat khawatir saja terlambat. Namanya Uti, dia juga peneliti utama dari P4W IPB. Done..akhirnya berangkaaat.

Tiba di Ambon sekitar pukul 18.00 WIT, lebih cepat 2 jam dari waktu di Bogor. Saat masih di pesawat saya duduk bersampingan dengan seorang temannya teman di Mapala Dharusalam Ambon, Bang Jais namanya. Dia temannya teman yang bernama Ai. Sekarang Ai seorang anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Aru. Sangat kebetulan. Dia membantu kami mencarikan mobil ke Ambon kota. Harganya Rp.200.000 selama perjalanan kurang lebih 1 jam.

Di Ambon, kita menginap di rumah PW AMAN. Saat itu Ambon seperti yang selalu teramati, gelap, sunyi, dan terasa mencekam. Rencananya besok pagi (16/15) kita langsung berangkat dari Ambon menuju Dobo, sebuah bandara mungil di Kabupaten Kepulauan Aru. Rasaanya tubuh ini digoyah-goyahkan, baru saja tiba di Ambon langsung harus berangkat.

 

Tiba di Dobo..
Menggunakan pesawat ATR Trigana Air, kecil dan terkesan seperti di dalam sebuah moda transportasi bus. Mba Ratna seorang pramugari yang selalu menemani perjalanan Ambon ke Dobo, terlihat menawan seperti biasanya, ucap Cenges. Alhasil selalu jadi bahan godaan selama di pesawat.

Halaah, akhirnya tiba di Dobo. Ini kali pertama ku menginjakan kaki di Bandara Dobo. Terik dan sengatan matahari membuat mata tidak bisa membuka penuh adalah kesan pertama. Terlihat bangkai pesawat Merpati Air yang mangkir di sekitar bandara. Dari jauh orang-orang mengintip dibalik layar kaca ruang tunggu. Sebagian orang rela berdesak-desakan dibawah terik matahari dibalik teralis besi. Salah satu diantara mereka adalah anggota PD AMAN, Mika Ganobal, seorang aktivis perjuangan #savearu yang juga menjabat sebagai seorang pegawai negeri sipil di Kecamatan Aru Tengah.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>